Building Peace in the ‘Jewelry’ from the East: Tentang Perempuan, Pariwisata, dan Perdamaian

 

Building Peace in the ‘Jewelry’ from the East: Tentang Perempuan, Pariwisata, dan Perdamaian

 

Sudahkah perdamaian dirasakan sepenuhnya dalam kehidupan kita?

 

Perdamaian masih menjadi hal besar yang dicita-citakan semua bangsa di dunia sampai hari ini, termasuk Indonesia. Kata “perdamaian” menjadi salah satu khitah utama Indonesia yang tertulis dalam poin Alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945. Dirayakannya hari perdamaian setiap tahunnya, seolah menandakan optimisme dan harapan yang selalu tumbuh, untuk dunia yang lebih baik kedepannya, di antara rentetan peristiwa atas konflik yang tak kunjung habis hingga hari ini.

 

Pada bulan Juli 2020 lalu, Indonesia mengadakan seminar virtual yang bertajuk The Role of Women Negotiators and Mediators in the Maintenance of Regional Peace and Security”,  dan dihadiri oleh sekitar 850 partisipan dari seluruh dunia. Dalam seminar ini, Menlu Retno Marsudi menyatakan bahwa kemungkinan berlangsungnya perdamaian yang mampu bertahan hingga 15 tahun, akan meningkat sebesar 35% jika perempuan ikut terlibat dalam prosesnya. Untuk mampu mewujudkan keterlibatan perempuan sebagai agen perdamaian, beliau mengemukakan tiga poin utama; mengubah cara pandang terhadap keterlibatan perempuan, meningkatkan kapasitas yang memfasilitasi peranan perempuan dalam membangun dan menjaga perdamaian, serta membentuk jaringan yang dapat menjadi wadah untuk bertukar pikiran dan pengalaman. Melanjutkan dukungan untuk mampu mengupayakan perdamaian melalui peranan perempuan, Indonesia juga telah berhasil mengajukan Resolusi 2538--resolusi pertama dalam sejarah diplomasi Indonesia yang diadopsi oleh Dewan Keamanan PBB.

 

Mengamini harapan-harapan baik bagi perempuan untuk senantiasa dapat menjadi agen perdamaian, kita--sebagai perempuan, bisa sesegeranya mulai bertindak, tidak perlu langsung terlibat dalam perang untuk mewujudkannya, namun dari lingkup terkecil dengan melibatkan diri dalam hal apapun untuk menciptakan perdamaian di tiap-tiap ruang kehidupan, termasuk pariwisata. Dalam rangka merayakan Hari Perdamaian Internasional, 20 September 2020 lalu, tim Women in Tourism Indonesia melakukan wawancara kepada para perempuan hebat dari Indonesia Timur, yang merupakan salah satu wilayah dengan destinasi wisata yang dikenal dunia sebagai ‘perhiasan’ Indonesia, untuk membagikan pandangan mereka mengenai Perempuan, Pariwisata, dan Perdamaian. 

 

1. Apakah anda setuju bahwa pariwisata dapat menjadi alat yang mengandung nilai-nilai baik untuk menciptakan perdamaian dengan menjunjung persahabatan antar daerah dan pengenalan budaya daerah? Jika iya, apakah alasan anda setuju dengan pendapat ini?

 

Githa Anastasia: SETUJU. Banyak sekali mereka yang berlatar budaya dan daerah masuk ke lokasi wisata, belajar mengenal budaya di lokasi tersebut, hingga tidak sedikit dari mereka yang membuat pertukaran budaya dalam bentuk tulisan, foto, video, dan promosi untuk membantu menambah nilai jual pariwisata di daerah tersebut. Juga mengajak kita sebagai manusia untuk belajar menghargai perbedaan antar sesama manusia baik dari sisi agama, budaya, daerah, warna kulit, dan lain-lain. Makanya, banyak sekali quote bertebaran khusus mereka yang bersikap rasis; "kalau masih lihat warna yang beda, mainmu kurang jauh, banyakin traveling"

 

 

Githa Anastasia (Dok. Istimewa)

 

Ranny I. Tumondo: Pariwisata bisa membawa perdamaian, karena dengan berwisata, kita bisa menjalin lebih banyak persaudaraan dan persahabatan di setiap tempat yang kita kunjungi, dan perbedaan bukan suatu hal yg membawa perpecahan, namun justru malah bisa memperkaya pengetahuan dan wawasan yang menarik. Bagi kami, melakukan kegiatan wisata bisa menjadi alat perdamaian, bukan perpecahan.

 

Baiq Sri Mulya: Sangat setuju. Strategi pemasaran sederhana mengajarkan bahwa untuk memenangkan persaingan di tengah pasar yang seragam, adalah dengan menjadi unik, menjadi berbeda, menjadi diri sendiri. Keunikan ini juga yang menjadi alasan utama orang berwisata, untuk melihat semua yang berbeda. Akan tetapi, hal ini ménjadi semakin sulit karena beberapa hal: 

1) Globalisasi membuat dunia menjadi serupa. Semakin sulit bagi wisatawan untuk menemukan keunikan suatu daerah karena di mana-mana ada Seven Eleven dan McDonald, di setiap 500 meter ada Indomaret dan Alfamart, semua atraksi dibetonisasi. Semakin sulit menjaga orisinalitas karena segalanya dikomodifikasi, dikemas untuk dijual, tidak lagi menjadi kepribadian.


Baiq Sri Mulya (Dok. Istimewa)

 

2) Strategi pembangunan pariwisata pemerintah yang copy paste. Pemerintah akan menjiplak apa yang dianggapnya "best practice" di suatu tempat untuk dipakai di daerahnya. Sehingga, yang terjadi adalah semua destinasi menjadi serupa.

3) Pola pengembangan yang gemar dengan atraksi artificial. Di setiap destinasi, spot selfie seolah menjadi jiwa pariwisata. Tulisan-tulisan besar dan desain-desain arsitektur seragam yang dimaksudkan sebagai ciri khas, justru menghilangkan kekhasan destinasi itu sendiri. 

 

Pariwisata akan bisa menjadi alat perdamaian dan persahabatan hanya kalau pemerintah dan stakeholder wisata lainnya sepakat untuk menjadi unik, menjadi organik, menjadi berbeda. Karena pariwisata artificial, memberi pesan bahwa semua yang disajikan adalah barang dagangan, sehingga penghargaan yang diberikan oleh wisatawan adalah sebatas nilai rupiah yang mereka keluarkan, tidak lebih.

 

Margaretha Subekty: Saya sangat setuju sekali kalau pariwisata itu mengandung nilai-nilai persahabatan, menjunjung kearifan, dan menciptakan perdamaian. Alasan saya, pariwisata itu memiliki keindahan, kemurnian, dan keberagaman yang di dalamnya terpancar untuk saling menghargai, saling membelajarkan, dan saling silaturahmi secara alami.

 

2. Apa harapan anda sebagai perempuan yang terlibat di industri pariwisata terhadap perdamaian dunia dari adanya pengembangan pariwisata?

 

Githa Anastasia: Saya Githa dari Arborek Dive Shop, Raja Ampat, berharap kedepannya semakin banyak perempuan terlibat dalam dunia pariwisata dan selam, khususnya. Karena perempuan diciptakan sebagai makhluk multi-talenta--tidak hanya jago di dapur, tapi juga bisa jago di dunia selam, dan bisa mengajak perempuan-perempuan lain untuk mengenal lebih jauh dunia konservasi kelautan dan memberdayakan lingkungan dan alam sekitar secara berkelanjutan.

 

Ranny I. Tumondo:Bagi saya, pariwisata dapat menjadi alat perdamaian karena tidak ada yang dapat menolak pariwisata, baik masyarakat, maupun daerahnya. Sehingga saya berharap perempuan semakin memiliki banyak kesempatan ke depannya untuk bisa berekspresi dalam dunia pariwisata.


Ranny I. Tumondo (Dok. Istimewa)

 

Baiq Sri Mulya: Kami di SembaluNina mendorong Pemerintah untuk mengadopsi jiwa memelihara perempuan dalam membangun konsep, mendesain, dan mengarahkan pembangunan pariwisata di Sembalun, Lombok Timur. Kami berharap wisatawan dapat menjadi agen perubahan untuk membantu kami dalam usaha kami ke arah itu. Mengembalikan keunikan dan keaslian, baik alam maupun manusianya. Mengembalikan mata air kami yang hilang, dan menghidupkan jiwa bersaudara kami yang telah digantikan oleh ekonomi uang.  Sehingga wisatawan yang datang, dapat menghargai kami bukan hanya karena produk yang kami jual, tapi karena penghargaannya terhadap usaha kami menjaga diri dan bumi.

 

Margaretha Subekty: Saya selaku perempuan, yang juga pelaku pariwisata, berharap perempuan secara alamiah menjadi pemelihara dan pendidik. Untuk itu, perempuan harus mempunyai kemandirian dan menjadikan diri terdidik, maka akan menghasilkan generasi yang terdidik pula (mendidik perempuan yang mendidik generasi). Di saat generasi ini terdidik, maka mereka akan bijaksana dalam mengambil keputusan, dan akan memperlakukan alam secara bijaksana; beriman dan tidak serakah. Di saat orang mampu berempati, berbelarasa, dunia ini akan damai dan tentram. Dari mana memulainya? Tentunya dari diri sendiri dan keluarga, untuk kemudian kita contohkan ke dalam masyarakat.

Margaretha Subekty (Dok. Istimewa)

 

(Risfi)

Artikel ini dipublikasikan pada laman womentourism.id | 5 Oktober 2020