Berita Acara WTIDcamp batch 2 Class 4: Community Participation in Tourism: Engage Inclusivity

07 Februari 2023

Pada hari Sabtu, 4 Februari 2023 Women in Tourism Indonesia telah menyelenggarakan kelas keempat WTIDcamp batch 2 dengan tema pembahasan Community Participation in Tourism: Engage Inclusivity yang materinya disampaikan oleh Kak Maulita Sari Hani – Senior Project Specialist UNWTO. Kelas dimulai dengan membahas konsep Community Based Tourism (CBT) terlebih dahulu. Konsep CBT erat kaitannya dengan pemberdayaan masyarakat, makna dari memberdayakan sendiri adalah memaksimalkan keterlibatan masyarakat, terlibat tidak secara pasif namun perlu terlibat aktif dalam mengimplementasikan konsep CBT.

Bila bicara tentang pariwisata, ini sebuah sektor yang mendorong ekonomi tambahan, bukan mengganti mata pencaharian. Karena apabila mengganti/mensubtitusi akan berdampak terhadap perekonomian masyarakat bila terjadi resesi. Itulah sebabnya dalam konsep CBT, lingkungan menjadi aspek yang penting karena menjadi sumber daya untuk berkelanjutan. Lingkungan yang dibutuhkan tidak hanya kondusif namun juga inklusif. Community Based Tourism lebih diimplementasikan di desa, hal ini karena terdapat kesenjangan terutama kesenjangan secara ekonomi, lingkungan dan gender. Selain itu banyak pekerjaan di desa bersifat informal dan sementara, ini yang menyebabkan kesejahteraan di desa lebih rendah daripada di kota.

Dalam materi ini Kak Maulita juga memaparkan gender gap yang ada di lingkungan pedesaan. Di desa juga terjadi kesenjangan gender karena partisipasi tenaga kerja perempuan tidak dianggap sebagai pekerjaan, hal ini dikarenakan pekerjaan di desa dianggap rutinitas harian saja. Dalam praktiknya, perempuan sebenarnya berada di level aktif dalam bekerja, hanya saja tidak dianggap. Contoh dari kesenjangan gender ini adalah kehidupan perempuan yang tinggal di pesisir. Perempuan pesisir yang menjadi nelayan tidak dianggap seorang nelayan karena ada stigma perempuan tidak bisa memancing. Padahal, perempuan pesisir juga mempunyai peran dalam proses kerja setelah ikan-ikan ditangkap dari laut misalnya seperti proses freezing/storage yang itu juga merupakan pekerjaan nelayan. Dengan adanya kesenjangan gender ini kita bisa menganalisa bahwa pekerjaan yang dilakukan perempuan di desa/wilayah pesisir bukan hanya rutinitas harian namun pekerjaan yang menghasilkan uang.

Terdapat 4 pendekatan strategis CBT yang dicanangkan UNWTO yaitu Empowering People, Protecting Planet, Collaborate in Partnership dan Prosperity. Keempat pendekatan strategis itu dicontohkan oleh Kak Lita dengan memberdayakan masyarakat dalam perencanaan, pengelolaan dan pengambilan keputusan. Memberdayakan masyarakat untuk mendapatkan dan mengembangkan keterampilan soft skill dan hard skill perlu dilakukan dalam kerangka hukum yang responsif. Jika pemberdayaan tidak ada kerangka hukumnya, tidak akan ada kebijakan yang memudahkan masyarakat. Kesejahteraan masyarakat bisa dicapai dengan inovasi dan digitalisasi. Kak Lita juga menambahkan bahwa prosperity tidak hanya dalam angka, tetapi secara sosial. Lingkungan yang bersih juga menjadi indikator masyarakat sejahtera, maka dari itu dalam konsep CBT juga perlu memperhatikan langkah-langkah pengembangan pariwisata di desa yang memperhatikan kelestarian lingkungan.

Di kelas keempat WTIDcamp batch 2 ini sangat interaktif karena Kak Lita memantik scholars untuk mengemukakan gagasan/pendapat terkait Community Based Tourism. Selain itu ada sesi diskusi di setiap grup membahas issue-issue seputar Community Based Tourism. Seorang scholars yang bernama Yudha Pamungkas yang mewakili grup 5 memberikan opini bahwa pariwisata tidak harus mewah karena itu bisa menjadi potensi desa itu sendiri.

Pariwisata adalah sektor yang dinamis, harus ada improve, berkembang dan dievaluasi agar dapat inklusif. Masyarakat mempunyai kontrol tinggi atas wilayahnya, maka dari itu kesejahteraan masyarakat harus dipenuhi terlebih dahulu bila ingin melakukan pengembangan pariwisata di desa. Pengembangan wisata di desa dengan konsep CBT bisa gagal apabila tidak mendengarkan masyarakat, ada intervensi dari orang luar dan pendekatannya melalui economic capital, bukan dengan pendekatan social capital. Di akhir sesi, Kak Lita memberikan pandangan tentang Women in CBT bahwa perempuan punya kepentingan dalam memegang keputusan dan membawa impact yang besar. Memberdayakan perempuan salah satunya bisa dengan memberi peluang dalam hal memimpin. Jika kita mendidik 1 perempuan, sama dengan kita mendidik 1 generasi.