Berita Acara WTIDcamp 2 Class 6: The Role of Men in Promoting Gender Equality

13 Februari 2023

Pada Hari Jumat, 10 Februari 2023 Women in Tourism Indonesia telah melaksanakan kelas keenam dengan judul “The Role of Men in Promoting Gender Equality”. Pembicara kelas ini adalah Kak Paul Eka seorang Development Consultant. Pada kelas ini berupaya untuk Mendorong kesadaran bahwa kesetaraan gender tidak dapat dicapai hanya dengan usaha dari perempuan atau hanya dengan berfokus kepada perempuan saja. Terdapat pemahaman bahwa peran dan sikap laki-laki tidak selalu harus masculin, perlu adanya pembahasan mengenai gender equality yang tidak berat sebelah dan sama-sama membela perempuan dan laki-laki.

 

Menurutnya, gender mengacu pada karakteristik perempuan, laki-laki, anak perempuan dan laki-laki yang dikonstruksi secara sosial. Termasuk norma, perilaku dan peran yang terkait dengan menjadi perempuan, laki-laki, perempuan atau laki-laki, serta hubungan satu sama lain. Sebagai konstruksi sosial, gender bervariasi dari masyarakat ke masyarakat dan dapat berubah seiring waktu (menurut WHO). Yang termasuk ke dalam gender itu sendiri antara lain gender identity, gender expression, sexuality, dan sex.

 

Gender di Indonesia, telah memiliki keberagaman sejak sebelum kolonialisme. Sebaliknya, kolonialisme menghancurkan keragaman gender di Indonesia, dengan cita-cita dan standar moral barat, pengaruh agama. Saat ini, pembahasan tentang kesetaraan gender semakin mengemuka. Contohnya Masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan mengakui 5 gender, perempuan (Makkunrai), laki-laki (Orowane), laki-laki feminin (Calabai), perempuan maskulin (Calalai), dan Bissu (gabungan antara laki-laki dan perempuan). Tidak hanya itu tetapi juga di Toraja, beberapa suku dataran tinggi Papua, Jawa Timur, dan Bali. 

 

Namun, berbicara mengenai role of men, siapa sebenarnya laki-laki tersebut? Kak Paul. membaginya menjadi 3 kategori yaitu laki-laki cis-heteroseksual, privilege (hak istimewa), dan tidak semua laki-laki memiliki keistimewaan yang sama. Perempuan dan anak perempuan seringkali menghadapi hambatan yang lebih besar daripada laki-laki dan anak laki-laki untuk mengakses informasi, layanan, dan banyak aspek kehidupan. Hambatan ini termasuk pembatasan mobilitas, kurangnya akses ke kekuatan pengambilan keputusan, tingkat melek huruf yang lebih rendah, sikap diskriminatif masyarakat dan penyedia layanan kesehatan, dan kurangnya pelatihan dan kesadaran. 

 

Isu yang sering dihadap adalah ketidaksetaraan (akses dan peluang, hak asasi manusia, aktualisasi dan pengembangan diri), Hilangnya pengakuan dan penerimaan terhadap keragaman gender Indonesia (stigma dan tekanan terhadap kelompok terpinggirkan, toxic narasi), dan mempengaruhi semua orang, bukan hanya wanita (stereotip tentang peran gender, kesehatan mental dan maskulinitas beracun, kekerasan berbasis gender, dan ekonomi). Peran laki-laki adalah akui dan gunakan hak istimewa laki-laki untuk mendorong kesetaraan gender, memasukkan pendekatan responsif gender dan transformatif gender dalam desain program/operasi bisnis/desain kebijakan, program untuk pria & dialog untuk pria dan wanita, dan lebih banyak data tentang ketidaksetaraan gender seperti data perempuan yang bekerja di pekerjaan informal (asisten rumah tangga, UMKM, manufaktur, subsisten pertanian, dan pekerjaan jasa informal lainnya).