Berita Acara WTIDcamp 2 Class 7: Gender Based Violence (GBV) in Tourism

14 Februari 2023

Pada Hari Sabtu, 11 Februari 2023 Women in Tourism Indonesia telah melaksanakan kelas ketujuh dengan judul “Gender Based Violence (GBV) in Tourism”. Pembicara kelas ini adalah Kak Ulfa Kasim seorang aktivis perempuan. Pada kelas ini berupaya untuk meningkatkan kesadaran terhadap adanya kekerasan berbasis gender melalui pemahaman mengenai Gender Based Violence (GBV) dalam ranah pelanggaran hak asasi manusia dalam industri pariwisata, mengenali sebab serta bentuk-bentuk kekerasan berbasis gender dan aspek-aspek dukungan sosial yang ada.

 

Gender Based Violence adalah suatu perilaku membahayakan dan dilakukan terjadap seseorang berdasarkan aspek sosial termasuk gender. Istilah ini mencakup segala perilaku yang mengakibatkan penderitaan fisik, seksual, atau mental, ancaman untuk melakukan suatu perbuatan membahayakan, pemaksaan, dan perilaku lain yang membatasi kebebasan seseorang. Kak Ulfa bertanyan, apa beda antara kekerasan berbasis gender dengan kekerasan terhadap perempuan. Gender meliputi jenis kelamin sosial seperti sifat, posisi, peran, pekerjaan, fungsi reproduksi. Kekerasan berbasis gender mengenai perempuan secara biologis dan perempuan secara sosial. 

 

Kekerasan berbasis gender meliputi perempuan dan identitas gender yang dilekatkan dengan perempuan. Terdapat perbedaan antara seks (biologis) dengan gender. Seks adalah jenis kelamin biologis antara laki-laki dan perempuan yang terbentuk sejak lahir, sifatnya universal, kecuali operasi dan sebagainya. Gender adalah jenis kelamin sosial antara laki-laki dan perempuan yang dibentuk oleh masyarakat patriarki. 

 

Bentuk dari kekerasan gender meliputi kekerasan seksual, kekerasan fisik, ekonomi, psikis, dan praktek tradisional yang membahayakan. Menurut UU No. 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual, jenis-jenis kekerasan seksual meliputi pelecehan seksual, eksploitasi seksual, pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan aborsi, pemerkosaan, pemaksaan perkawinan, pemaksaan pelacuran, perbudakan seksual, dan penyiksaan seksual. Banyak sekali yang dirasakan perempuan dalam industri pariwisata seperti peran ganda, upah kerja, jaminan kerja, stereotype, subordinasi, rentan pelecehan seksual, akses, skill, kerja tak dibayar, dan women trafficking

 

Terdapat relasi kuasa dalam industri pariwisata, yakni antara penindasan dan tuntutan customer satisfaction. Kekuasaan adalah sebuah kesempatan yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok dengan tujuan untuk memenuhi keinginan atau kehendaknya dalam hubungan sosial (Max Weber). Meliputi kehendak, mempengaruhi, dan tujuan. Kekuasaan dapat berbasis gender, sosial ekonomi, pengetahuan, dan identitas sosial lainnya. Yang dapat diupayakan adalah menumbuhkan dan memperkuat kesadaran kritis perempuan, pemberdayaan perempuan di sektor pariwisata, membangun protokol women security in tourism untuk melindungi perempuan, dan interseksi issues (buruh perempuan, pekerja rumahan, women trafficking, lingkungan dan sumber daya alam.