Berita Acara WTIDcamp 2 Class 8: Gender Bias in Tourism Workplace: Be Assertive!

17 Februari 2023

Bicara dunia kerja seringkali dijumpai ada perbedaan upah yang diterima antara laki-laki dan perempuan atau stereotype tentang jabatan tinggi hanya layak untuk laki-laki saja. Ketimpangan gender dalam dunia kerja nyatanya ada, sayangnya terkadang itu menjadi bias dan tidak disadari. Di kelas terakhir WTIDcamp batch 2 yang telah diselenggarakan pada tanggal 12 Februari 2023 membahas tentang gender biar di lingkungan kerja khususnya dalam sektor pariwisata bersama Kak Iriantoni Almuna dengan tema Gender Bias in Tourism Workplace: Be Assertive!.

Kak Toni memulai kelas dengan mengajak scholars berdiskusi tentang berapa persen dari perempuan Indonesia yang bekerja dan berapa persen perempuan yang menjadi anggota parlemen di seluruh dunia. Beragam jawaban pun dilontarkan WTID scholars. Kak Toni menjelaskan bahwa sebanyak 82% laki-laki bekerja sedangkan perempuan sebanyak 53% dari angkatan kerja nasional. Dalam keanggotaan parlemen di seluruh dunia juga perempuan hanya ada 24%, sedangkan perempuan yang menduduki jabatan tinggi/setara CEO di perusahaan hanya ada 7%.dari CEO Fortune 500. Dari presentase tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam dunia kerja masih rendah. Bila melihat dalam sektor pariwisata, berdasarkan data dari World Bank pada tahun 2019, pekerja perempuan pada sektor pariwisata mendapatkan upah 14,7% lebih rendah daripada laki-laki. Sedangkan pada level pengambil keputusan atau eksekutif pemerintahan hanya ada 23% perempuan yang menjabat sebagai menteri pariwisata.

Sebelum membahas lebih lanjut tentang bias gender, Kak Toni mengulas kembali perbedaan seks (biologis) dan gender. Scholars juga diajak mengkritisi sebuah video animasi  yang memperlihatkan kehidupan rumah tangga dalam satu keluarga. Disini scholars dilatih berfikir kritis apakah kesetaraan gender itu sebuah mimpi yang mustahil atau hal yang dapat diwujudkan bersama. Salah satu scholars bernama Grace merefleksikan “aku melihatnya itu sebagai basic manner, memasak dan bersih-bersih bukan tugas perempuan tapi manusia. Ada baiknya berbagi tugas serta tanggung jawab. Dream (kesetaraan) bisa terwujud dengan adanya saling komunikasi sehingga tidak ada timpang atau membenarkan satu pihak saja”. Setelah mengkritisi film animasi tersebut, Kak Toni menjelaskan dalam keluarga perlu dilakukan sosialiasi gender dimulai dari saat lahir, masa kanak-kanak dan meningkat selama masa remaja.

Pembahasan selanjutnya mengenai norma, stereotip dan diskriminasi gender. Norma dan stereotip yang ada dalam sosial dapat melanggengkan diskriminasi gender. Hambatan terbesar terhadap kesetaraan gender adalah norma dan stereotip sosial yang menentukan apa yang boleh dilakukan oleh perempuan dan laki-laki. Norma dan stereotip menciptakan lingkungan dimana pelecehan seksual dianggap normal, perempuan diharapkan melakukan lebih banyak pekerjaan rumah daripada laki-laki, perempuan dibayar lebih rendah daripada laki-laki dan perempuan yang berani bicara di tempat kerja dianggap tidak sopan.

Bicara tentang diskriminasi gender, hal ini tidak selalu mudah dikenali. Bias Gender adalah preferensi atau prasangka berdasarkan perbedaan gender. Baik secara sadar atau tidak, dan terwujud dalam banyak bentuk. Bias gender yang tidak disadari adalah asosiasi emosi yang tidak disengaja berdasarkan gender, yang bersumber dari tradisi, norma, nilai, budaya, dan / atau pengalaman. Dari 91% laki-laki dan 86% perempuan di dunia, setidaknya meyakini satu bias gender. Hampir 50% laki-laki merasa lebih berhak atas pekerjaan dibanding perempuan. Ada berbagai macam bias yaitu bias disenangi (likeability), bias kinerja, bias status ibu, bias atribusi bias afinitas dan interseksionalitas yaitu bias tidak terbatas pada gender seseorang. Kak Toni memberi beberapa contoh bias gender, pada bias kinerja perempuan dirasa kurang mampu untuk melakukan proses negosiasi untuk men-deal-kan satu proyek yang hadir di potensi kerjasama. Sehingga tidak diajak kedalam rapat penting dengan investor. Pada bias atribusi perempuan dianggap kurang dapat berpikir secara logis dan jika mengambil keputusan untuk perusahaan banyak menggunakan sisi emosional tanpa mempertimbangkan data yang tersaji. Pada bias peran ibu, pegawai perempuan yang memiliki anak tidak diberi izin atau tidak diseleksi untuk mengikuti training peningkatan skill di luar kota dengan alasan “siapa nanti yang menjaga anaknya?.

Sebagai seorang perempuan,  mungkin menemukan bias gender baik di dalam maupun di luar tempat kerja. Bias gender dapat berdampak negatif pada perempuan. Dengan bersikap tegas/assertif, dapat menciptakan kesadaran seputar masalah dan membantu orang lain menjadi bagian dari solusi. Untuk menghadapi bias gender ini dapat mempelajari model LADDER. The LADDER Model of Mindtools (2020) adalah kerangka kerja sederhana yang dapat Anda gunakan untuk mengekspresikan pikiran dan keinginanAnda kepada oranglain dengan cara yang lebih percaya diri dan positif.

  1. (Look) Kenali hak Anda Hak apa yang Anda miliki dalam situasi ini? Kita semua berhak didengarkan, merasa aman, dan dihormati di tempat kerja. Mengenali hak-hak Anda, akan mempermudah Anda menyadari apa yang Anda inginkan dan mengapa Anda menginginkannya.
  2. (Arrange) Atur Pertemuan Ada kalanya situasi tidak memungkinkan Anda untuk bersikap tegas pada saat itu juga. Jika demikian, sebaiknya atur rapat dengan pihak lain untuk membahas masalah yang Anda alami.
  3. (Define) Definisikan masalahnya Tulis fakta mengenai situasi Anda, jelaskan dengan sangat jelas dan hindari menggunakan bahasa yang emosional. Tujuan Anda di sini adalah memberikan penjelasan, sehingga orang lain dapat sepenuhnya memahami posisi dan persepsi Anda.
  4. (Describe) Deskripsikan perasaan Anda Ketika Anda sudah selesai membahas fakta, Anda perlu berbagi emosi dan menjelaskan perasaan Anda. Ini membantu orang lain menghargai sudut pandang Anda. Sangat penting untuk memakai kata "saya" dalam pernyataan Anda, dan hindari menyalahkan orang lain atas perasaan Anda.
  5. (Express) Ungkapkan keinginan Anda Siapkan pernyataan "keinginan atau kebutuhan" yang singkat dan ringkas, yang merangkum apa yang Anda harapkan. Pastikan Anda menyertakan solusi tetapi sadari juga bahwa Anda mungkin perlu bersikap fleksibel untuk menyesuaikan solusi ini setelah Anda mendengar tanggapan orang lain.
  6. (Reinforce) Perkuat manfaat bersama dari sebuah solusi Gunakan bahasa yang positif dan cobalah membingkainya sebagai 'win- win solution' bagi kedua pihak.

Dengan mengetahui berbagai macam bias gender, Anda dapat melakukan analisa tentang situasi yang Anda alami sehari-hari atau rasakan kepada orang lain, bagaimana ini dapat mempengaruhi Anda atau usaha Anda. Dari informasi tersebut, Anda dapat mempersiapkan antisipasi dan atau membuat suatu kebijakan baru di tempat kerja atau usaha Anda untuk membuat kondisi tempat kerja lebih kondusif sehingga dapat memaksimalkan potensi seluruh karyawan Anda. Dengan memanfaatkan dan menggunakan model LADDER untuk mengekspresikan atau menuangkan pemikiran dan keinginan Anda kepada orang lain, Anda dapat terus berlatih untuk mengkomunikasikan apa yang Anda alami dengan sikap asertif atau tegas, tenang, positif dan dengan cara yang lebih percaya diri.