Berita Acara WTIDTalk Special: WTIDcamp 2 Graduation

11 Maret 2023

Women in Tourism Indonesia melalui program WTIDcamp batch 2 “Build Gender Equality Scholars: From Youth to Tourism” memiliki tujuan memberikan dampak nyata kepada seluruh pemuda-pemudi yang memiliki semangat juang menggaungkan kesetaraan gender di Industri pariwisata dan ekonomi kreatif. Sebagai organisasi independen non-pemerintahan, Women in Tourism Indonesia menaruh harapan besar kepada anak muda khususnya perempuan sebagai generasi terdepan yang akan menciptakan pariwisata yang lebih ramah serta inklusif terhadap kesetaraan gender.

Rangkaian acara WTIDcamp batch 2 telah diselenggarakan dari tanggal 28 Januari 2023 – 4 Maret 2023. Di penghujung acara pada tanggal 4 Maret 2023 Women in Tourism Indonesia menyelenggarakan acara webinar “WTIDTalk Special: WTIDcamp 2 Graduation” sebagai perayaan kelulusan scholars sekaligus menutup rangkaian acara program WTIDcamp batch 2 “Build Gender Equality Scholars: From Youth to Tourism”. Acara ini dihadiri Pratiwi Boediutomo dari UN Women Indonesia dan Stella Angelicca seorang pemudi penggerak pariwisata Huta Tinggi sebagai pembicara materi. Acara WTIDTalk Special: WTIDcamp 2 Graduation dibuka dengan opening speech dari Anindwitya Rizqi Monica selaku Pendiri Women in Tourism Indonesia, Meira Fenderissa selaku WTIDcamp 2 Principal, Sandiaga Uno Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Yashinta Sekarwangi seorang Youth Representative dan Shofia Insani sebagai Valedictorian terpilih mewakili scholars WTIDcamp 2.

Pada sambutannya, Anindwitya Rizqi Monica selaku Pendiri Women in Tourism Indonesia menuturkan program WTIDcamp ini dirancang berdasarkan riset yang sudah dilakukan. Dalam dunia akademik saja hanya ada sekitar 0.3% perguruan tinggi pariwisata Indonesia yang menaruh kurikulum gender sebagai mata kuliah. “Kami tentunya berharap WTID tidak hanya menjadi wadah yang berjalan sendiri, tetapi sebuah organisasi yang kuat, dapat merangkul seluruh stakeholders, asosiasi/organisasi hingga individu untuk misi pengarusutamaan gender dalam setiap kebijakan-kebijakan yang ramah serta inklusif di masa depan. Untuk  58 Scholars yang berhasil lulus pada hari ini kami juga menaruh harapan kepada kalian untuk menjadi garda terdepan dalam menyuarakan misi-misi positif ini!” sambungnya.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Meira Fenderissa selaku WTIDcamp 2 Principal. Meira berharap para stakeholders, utamanya Kemenparekraf, organisasi dan institusi-institusi tinggi lainnya dapat menyediakan dan mengutamakan pendidikan gender dan perlindungan berbasis kesetaraan gender sebagai hal utama dan didapatkan oleh seluruh masyarakat, sehingga dampak yang bisa kita harapkan dari wawasan kesetaraan gender ini adalah perempuan semakin berdaya dengan memiliki kesempatan yang sama sebagaimana laki-laki, tidak ada lagi kekerasan dan penindasan berbasis gender terhadap sesama manusia, dan tentunya kesetaraan gender dapat tercipta dimanapun kita semua berada. Kami juga berharap,  program dari WTIDcamp ini dapat didukung penuh oleh seluruh stakeholders, utamanya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sehingga pengarusutamaan gender di pariwisata bisa terwujud secara terpusat. Meira juga mengungkapkan “Semoga dengan lulusnya teman-teman sebagai agent of change, teman-teman dapat terus menyebarkan ilmu dan kebaikan yang didapat dari WTID Camp ini, Kami WTID sangat terbuka dan siap menyambut teman-teman semua untuk berkolaborasi, menghadirkan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan bagi pariwisata indonesia.”

Shofia Insani yang merupakan best graduate WTIDcamp 2 mendapatkan kesempatan menjadi valedictorian di acara ini. Dalam sambutannya Shofia mengatakan hadirnya Women in Tourism Indonesia yang merupakan platform dan komunitas pertama di Indonesia yang turut mengkampanyekan kiprah dan pemberdayaan perempuan terkhususkan pada sektor pariwisata, juga dengan adanya WTIDcamp yang dapat di ikuti seluruh kalangan , menjadi pelopor yang mengingatkan kita betapa pentingnya edukasi mengenai kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, kita dikenalkan dengan bagaimana cara kita merespon dan memahami bentuk kekerasan , apa itu bias gender dan bagaimana cara agar kita dapat bersikap terhadap bentuk kekerasan didunia kerja. Shofia juga berharap dengan kelulusan teman-teman hari ini tidak memberhentikan langkah kebaikan teman-teman sebagai pembawa perubahan dengan terus menerbarkan serta mengimplementasi ilmu yang di dapatkan dari WTID Camp ini melalui Tindakan preventif untuk mencegah terjadinya eksploitasi ekonomi, fisik, hingga seksual sangat penting untuk dilakukan. Seperti memperluas pengetahuan, memberi pengertian untuk berpikiran lebih terbuka, dan belajar untuk tidak selalu melakukan tuntutan masyarakat tanpa tahu kapasitas diri. diharapkan Pendampingan dan pengawasan dari instansi terkait juga perlu diperketat, demi mendapatkan pendidikan dan pengalaman dengan cara yang sehat dan bebas eksploitasi semoga sagala harapan serta mimpi2 kita bersama dapat terlealisasikan agar terwujudnya pariwisata yang aman salah satu dari implementasi nilai-nilai Sapta Pesona yang merupakan dasar kepariwisataan.

Sandiaga Uno Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif Republik Indonesia mengucapkan selamat dan sukses atas terselenggaranya WTIDcamp yang kedua. Survey membuktikan bahwa proporsi perempuan di posisi strategis perusahaan terus bertumbuh serta terdapat tambahan PDB dunia sebesar 28 triliun dolar apabila terdapat kesetaraan gender. Hal tersebut mendefinisikan peran perempuan sebagai Natural Born Leader yang memegang keseimbangan professional di dunia hingga rumah tangga. Perempuan kini juga menjadi tulang punggung sektor parekraf, pendukung kesejahteraan masyarakat sekaligus penjaga warisan budaya. Dengan strategi inovasi, adaptasi dan kolaborasi, mari bersama para perempuan kita majukan sektor parekraf Indonesia.

Yashinta Sekarwangi dalam sambutannya memberikan perspektif yaitu yang pertama perempuan Indonesia mempunyai peranan penting terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Perempuan pada kenyataannya memiliki peran dan mampu menunjukkan bahwa kehadirannya tidak hanya sebatas “konco wingking” yang berarti teman belakang yang hanya berkutat di aktivitas domestik, jadi sudah saatnya kita perempuan menjadi key player bersama-sama mewujudkan keadilan gender, tidak hanya kesetaraan. Langkah ini menjadi langkah awal menuju keadilan, kesetaraan dan pemberdayaan perempuan secara menyeluruh di bidang ekonomi. Yashinta juga menjelaskan langkah-langkah yang dapat diambil untuk meningkatkan keseimbangan kehidupan perempuan dalam pariwisata dengan mendorong pembagian peran kerja secara merata melalui pelatihan di bidang pariwisata termasuk pelatihan soft skill, membangun jaringan dan melakukan pelatihan kompetensi lainnya yang berdampak pada kemajuan karir serta meluasnya peran perempuan.

Setelah beberapa sambutan, dilanjutkan dengan inti acara pemaparan materi. Materi pertama dipaparkan oleh Stella Angelica pemudi penggerak pariwisata Huta Tinggi. Disini Stella bercerita mengenai pengalamannya sebagai pemudi penggerak pariwisata di wilayah Samosir. Stella memperkenalkan orang-orang hebat yang terlibat di pengelolaan Desa Wisata Huta Tinggi, Samosir. Ada kaum ibu pengelola homestay, kaum ibu pelaku kuliner, kaum ibu petani kopi, karang taruna (kaum pria) dan kaum bapak peternak kerbau. Penyebutan kaum ibu/bapak bukan maksud untuk mengkotak-kotakan gender. Bagi Stella dalam pengelolaan homestay, kuliner dan kebun kopi lebih terasa kehangatan & keramahannya apabila dikelola oleh ibu-ibu/para perempuan. Bukan berarti para ibu tidak bisa melakukan pekerjaan laki-laki begitu pun sebaliknya, disini yang perlu dilihat strukturnya adalah di konsep desa wisata dalam satu hari tidak bisa dalam satu hari laki-laki melakukan seluruh pekerjaan dari menyambut tamu hingga aktivitas, begitu pun dengan perempuan. Jadi intinya semua insan perlu berperan. Stella menjelaskan pentingnya setara dalam melakukan pekerjaan, baginya setara bukan berarti merasa lebih, tapi sebagai seseorang juga bisa melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh orang lain. Stella juga menuturkan tidak pernah berterusterang kepada masyarakat desa tentang kesetaraan, caranya dengan membangun pondasi dari bawah, mengajak semua kalangan gender & usia untuk terlibat dalam peran masing-masing yang telah diberikan. Sebelum menutup topik pembicaraan, Stella juga menjelaskan perlu adanya kerjasama antar gender dan menghargai satu sama lain. “Teman-teman bisa lakukan apapun yang ingin kalian lakukan selama tidak mengganggu orang-orang disekitar kamu” pungkasnya di akhir kalimat.

Pembicara selanjutnya yaitu Pertiwi Boeditomo dari UN Women Indonesia, dalam materinya Kak Pertiwi memaparkan bagaimana menciptakan bisnis yang gender inklusif di sektor pariwisata. Pembahasan awal mengenai kesetaraan gender di Indonesia, akar masalahnya itu ada di norma-norma gender yang ada di Indonesia yaitu patriarki. Kak Pertiwi menjelaskan salah satu hambatan perempuan untuk bisa terus maju di dunia kerja adalah pekerjaan domestik yang semuanya dibebankan kepada perempuan. Disini perlu adanya dialog dengan suami/laki-laki bagaimana pembagian peran dalam rumah tangga. Mengapa hal ini diperlukan karena agar dapat mendukung kesejahteraan keluarga & perempuan. Berbicara pemberdayaan perempuan, penting sekali dalam private sector dari dunia usaha memberdayakan perempuan karena bisa menggerakkan pertumbuhan ekonomi bagi usahanya, mendukung performasi bisnis dan ketahanan usahanya jadi bisa terus berlanjut. Manfaat lainnya yaitu dapat meningkatkan kredibilitas dan juga inovasi. Maanfaat bagi perempuan sendiri adalah dengan memiliki daya secara ekonomi, maka perempuan bisa memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan yang baik untuk dirinya sendiri. Dengan berdaya secara ekonomi, perempuan bisa menentukan pemasukannya dia untuk apa, apakah untuk meningkatkan usahanya lebih maju lagi atau bisa meningkatkan tingkat pendidikannya atau memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga. Jadi ada multiplier effect, tidak hanya untuk dirinya sendiri. Kak Pertiwi juga menjelaskan pemberdayaan ekonomi yang dilakukan oleh UN Women termasuk strategi yang inklusif gender untuk industri pariwisata.

Setelah pemaparan dari seluruh pembicara, rangkaian acara ditutup dengan pengumuman & pemberian penghargaan kepada scholars terpilih yaitu:

Best Graduate: Shofia Insani

The Most Active Scholar: Adinda Sanita Putri

The Most Favorite Scholar: Yudha Pamungkas

Best Group: Group 5 – Leadership

Selamat kepada seluruh scholars yang sudah mengikuti rangkaian acara WTIDcamp batch 2 “Build Gender Equality Scholar: From Youth to Tourism”. Seperti tema WTIDcamp 2, besar harapan Women in Tourism Indonesia untuk anak muda Indonesia khususnya para alumni WTIDcamp 2 ini untuk melanjutkan memperjuangkan kesetaraan gender dalam lingkup pariwisata setelah banyak belajar dari kelas-kelas WTIDcamp batch 2