Menunda Menstruasi dan Melahirkan Prematur, Inilah Realita yang Dihadapi Para Perempuan di Gaza

11 November 2023

Tak ada privasi dan air, para perempuan di Gaza meminum pil penunda menstruasi di tengah serangan Israel.” Kira-kira begitulah bunyi pemberitaan oleh media Al-Jazeera akhir Oktober silam.

 

Lebih dari satu bulan terakhir, masyarakat Palestina hidup di bawah bayang-bayang teror genosida oleh pemerintah Israel. Sejatinya, pendudukan Israel terhadap wilayah Palestina telah berlangsung sejak tahun 1948. Namun, sejak 7 Oktober 2023 lalu, Israel secara konsisten melakukan penyerangan besar-besaran yang telah membunuh lebih dari 10 ribu warga sipil di Gaza. 

Tentunya, genosida dan pembersihan etnis yang dilakukan Israel berdampak terhadap warga Palestina secara keseluruhan. Namun, tidak banyak yang menilik bagaimana tragedi kemanusiaan ini membawa dampak negatif tersendiri bagi para perempuan.

 

Terpaksa Minum Pil Penunda Menstruasi

Dikabarkan bahwa para perempuan di Gaza terpaksa meminum pil norethisterone untuk mencegah menstruasi. Hal ini disebabkan oleh ketiadaan akses terhadap pembalut, air bersih, maupun fasilitas MCK yang memadai. 

Norethisterone merupakan obat hormonal untuk mengatasi endometriosis, perdarahan vagina di luar menstruasi, maupun gangguan menstruasi, seperti amenorrhea, menorrhagia, dan sindrom premenstrual. Selain itu, norethisterone juga dapat digunakan untuk menunda menstruasi.

Konsultan obstetri dan ginekologi Nasser Medical Complex, dr. Walid Abu Hatab mengatakan bahwa norethisterone dapat meningkatkan hormon progesteron dan mencegah peluruhan dinding rahim, sehingga tidak terjadi menstruasi.

Namun, perlu digarisbawahi bahwa penggunaan norethisterone untuk mencegah menstruasi hanya dianjurkan selama maksimal 17 hari berturut-turut. Selain itu, penggunaan norethisterone juga bukan tanpa efek samping. Mulai dari pusing, mual, mood swing, hingga siklus menstruasi tidak teratur dan perdarahan vagina.

Ironisnya, serangan Israel terhadap Palestina telah terjadi selama lebih dari 30 hari dan hingga saat ini belum ada tanda-tanda akan segera berhenti. Bahkan pemerintah Israel juga memblokir bantuan yang disalurkan untuk penduduk Gaza. Oleh sebab itu, para perempuan di Gaza tak punya pilihan selain tetap mengonsumsi pil pencegah menstruasi. 

 

Perempuan Hamil dan Bayi Baru Lahir Juga Jadi Korban

Period poverty bukanlah satu-satunya imbas dari penyerangan Israel yang dirasakan oleh para perempuan di Palestina. 

Dilansir dari Al-Jazeera, terdapat sekitar 50 ribu perempuan yang sedang hamil di Gaza dan lebih dari 160 perempuan melahirkan setiap harinya. Lebih dari 5 ribu perempuan hamil juga diperkirakan akan melahirkan di bulan November mendatang. Perwakilan UNFPA di Palestina, Dominic Allen mengungkapkan bahwa 15% di antara mereka berisiko mengalami komplikasi kehamilan maupun persalinan. 

Sayangnya, para perempuan ini kesulitan mengakses layanan obstetri mengingat banyaknya fasilitas kesehatan di Gaza yang tidak dapat beroperasi dengan semestinya. Tidak sedikit perempuan yang terpaksa melahirkan di tempat pengungsian, rumah, bahkan di pinggir jalan di antara reruntuhan bangunan, tanpa pendampingan tenaga kesehatan dan minim sanitasi. 

Bayi baru lahir pun tak luput menjadi korban. Tidak sedikit bayi baru lahir yang memerlukan perawatan intensif dan bergantung pada alat-alat medis. Padahal Gaza tengah dilanda krisis bahan bakar dan pemutusan aliran listrik. Belum lagi, Israel secara konsisten melakukan penyerangan terhadap sejumlah fasilitas kesehatan di sana. 

 

Beban Psikologis Para Perempuan Gaza 

Serangan Israel terhadap wilayah Gaza selama satu bulan terakhir menimbulkan dampak psikologis tersendiri. 

Jurnalis Lama Ghosheh mengungkapkan, kehidupan sebagai seorang ibu di Palestina adalah kehidupan yang penuh dengan rasa takut, duka, dan amarah. Para ibu harus siap kehilangan keluarga mereka kapan saja. Mereka juga harus mempersiapkan anak-anak mereka untuk menghadapi kehilangan, kematian, luka parah, penangkapan, kekerasan, dan berbagai imbas buruk dari genosida lainnya.

Saat ini, lebih dari 493 ribu perempuan di Gaza terlantar akibat serangan Israel, dan jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat. Di antara mereka, terdapat lebih dari 900 perempuan yang kini berstatus janda setelah kehilangan pasangannya, dan harus menahkodai keluarganya seorang diri dalam suasana hati yang penuh duka dan ketidakpastian mengenai kapan situasi ini akan berakhir. 

Para perempuan hamil berisiko mengalami keguguran, stillbirth, hingga persalinan prematur akibat tekanan psikologis. Sejumlah perempuan tidak dapat menyusui bayinya akibat dehidrasi dan stres yang menyebabkan ASI mereka tidak dapat keluar. Mereka terpaksa memberi minum buah hatinya dengan susu formula dan air yang tidak terjamin kebersihannya. 

Sementara itu, salah satu penduduk Gaza bernama Salma Khaled mengaku siklus menstruasinya menjadi tidak teratur akibat stres. Ia bahkan mengalami perdarahan yang relatif abnormal ketika menstruasi. 

 

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kamu mungkin bertanya, apa yang bisa kamu lakukan untuk menolong masyarakat Palestina? Selain berdonasi, kamu bisa membantu dengan terus menyebarkan informasi yang benar mengenai penyerangan Israel terhadap Palestina, terutama tentang isu-isu yang berkaitan dengan perempuan yang telah disebutkan di atas. 

Menyebarkan informasi memang tidak memiliki pengaruh secara langsung terhadap para korban. Namun, kamu dapat memberikan edukasi terhadap orang-orang di sekitarmu yang hingga kini masih belum memahami apa yang sebenarnya terjadi di Palestina. Kamu dapat terus menciptakan diskusi demi diskusi, dan memastikan pembicaraan mengenai Palestina tidak pernah berhenti hingga situasi ini berakhir. 

Feminisme adalah ideologi dan gerakan yang selalu berpihak terhadap individu maupun kelompok yang lemah, tersingkir, dan tertindas. Membela hak-hak perempuan maupun penduduk Palestina secara keseluruhan merupakan sebuah aksi feminis. Jadi, jangan pernah berhenti suarakan dukunganmu, ya! 



Ditulis Oleh: Angela Ranitta K.


Artikel ini dipublikasikan pada laman womentourism.id | 11 November 2023