Highlight WTIDiscuss #1 “Sosok Pejuang Perempuan di Era Modern: Puspita Ayu Permatasari, Mengenalkan Batik dan Pariwisata Indonesia di Kancah Internasional Melalui Teknologi Terkini”

27 Januari 2021

Women in Tourism Indonesia (WTID) kali ini hadir dengan segmen baru dengan kemasan yang lebih segar yaitu, #WTIDiscuss. Segmen ini menghadirkan narasumber untuk berdiskusi bersama WTID mengenai perempuan dalam pariwisata, melalui live instagram dari akun @womenintourism.id. Sehubungan dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember 2020, WTID turut mendukung subtema 2 Perayaan Hari Ibu (PHI) ke-92 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia yaitu, Perjuangan Perempuan Masa Kini: "Perempuan - Inspirasiku untuk Kemajuan Bangsaku" dengan mengangkat tema diskusi pada WTIDiscuss #1 yaitu, “Sosok Pejuang Perempuan di Era Modern: Puspita Ayu Permatasari, Mengenalkan Batik dan Pariwisata Indonesia di Kancah Internasional Melalui Teknologi Terkini”.


Live instagram WTIDiscuss #1 pada 23 Desember 2020 (Sumber: instagram @womentourism.id)

 

Puspita Ayu Permatasari adalah seorang kandidat doktor dari Swiss yang menjadi inisiator dan koordinator riset untuk iWearBatik. iWearBatik merupakan platform digital yang memuat database motif batik dan maknanya yang dibuat ke dalam sebuah aplikasi seluler dan website. Hal ini dilakukan untuk menyatukan pandangan Indonesia sebagai pemilik batik dengan misi dari UNESCO untuk pelestarian warisan budaya.

 

Diskusi yang dilakukan pada 22 Desember 2020 ini dibuka oleh Monica dari WTID dengan sedikit kilas balik mengenai perayaan hari ibu dan bagaimana perjuangan perempuan pada kongres perempuan dalam memperjuangkan emansipasi wanita. Menurut narasumber WTIDiscuss #1 ini, peran Ibu dan Eyangnya sangat berpengaruh dalam perjalanan riset Ayu, hal ini tidak terlepas dari dorongan yang diberikan oleh Ibu dan Eyangnya. Terbiasa memakai pakaian tradisional dan kain batik sejak dini di lingkungan Kerajaan Sumenep, tidak serta merta membuatnya langsung memiliki ketertarikan terhadap batik. Perjalanan panjang yang diarungi Ayu untuk akhirnya memiliki passion pada batik ternyata terinspirasi dari Ibu dan Eyangnya yang merupakan seorang perancang busana dan perias pengantin. Filosofi cantik tidak hanya dari luar tetapi juga dari dalam yang selalu diajarkan oleh kedua wanita yang sangat berarti bagi Ayu membawanya untuk terus berkarya mengenalkan batik kepada dunia internasional. 

 

Dengan berpegang pada filosofi cantik dari dalam tersebut, menurut Ayu batik adalah internal atau jiwa dari bangsa Indonesia yang kecantikannya terdokumentasi dalam setiap maknanya. Tidak hanya membawa kecantikan Indonesia melalui batik tetapi Ayu juga turut mempromosikan kecantikan tersebut melalui destinasi wisata di seluruh Indonesia pada platform-nya. Pada dua saluran yang dimiliki iWearBatik yaitu website dan aplikasi seluler sudah terpasang peta interaktif yang akan menampilkan motif batik per provinsi di Indonesia dan juga pilihan destinasi wisata yang juga mempromosikan keindahan alam Indonesia, sehingga pariwisata dan batik bisa saling bekerja sama dalam melestarikan dan mempromosikan satu sama lainnya dalam kancah internasional. Hal ini yang mendasari Ayu dalam merancang interface sebuah aplikasi yaitu dengan menampilkan kecantikan bangsa baik itu dari destinasi, dan juga moral wisdom dari motif kain batik.


Tampilan Website iWearBatik (Sumber: https://www.iwarebatik.org/interactive-map/)



Tampilan Aplikasi Seluler iWearBatik (Sumber: Aplikasi iWearBatik)



Koleksi Motif Batik di iWearBatik (Sumber: Aplikasi iWearBatik)

 

Dalam kegiatan riset dan pengembangan iWearBatik ini, tantangan yang dialami oleh Ayu adalah bagaimana Ia bisa mengkombinasikan antara dunia teknik yang biasa didominasi oleh kaum pria dengan dunia seni yang Ia kuasai, nan banyak dilakukan oleh perempuan. Menurut Ayu, kedua hal tersebut harus dikombinasikan agar tercipta keseimbangan. Peran perempuan bukannya ingin menguasai atau berkompetisi dengan lelaki tetapi malah memberikan warna dan saling melengkapi untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Maka dari itu, Ayu juga menyebutkan bahwa semakin Anda berkarya, semakin Anda bersinar sebagai seorang manusia dan sebagai jiwa, tanpa melihat wanita atau lelaki. Jadikan karya Anda yang merupakan perwakilan dari nama Anda, bukan sebaliknya.

 

Terakhir Ayu berpesan untuk seluruh perempuan Indonesia untuk tidak merasa malu dengan apa yang sedang dilakukan, lakukanlah dengan sepenuh hati dan penuh cinta karena dengan kekuatan seni dan cinta yang ada dalam intuisi wanita ini bisa membuat dunia kita menjadi lebih baik. Percayalah apapun yang Anda lakukan, selama anda melakukannya dengan sangat baik maka biarkan karya Anda yang mewakili Anda. Kadang perempuan sering dijatuhkan karena saat melihat seorang perempuan yang empowered itu menakutkan karena orang melihat bahwa dengan kelembutan seorang perempuan, kita bisa menjatuhkan hal-hal tersulit sekalipun. 

 

“Wanita yang percaya diri itu bisa menaklukan semuanya, makanya kita harus selalu teguh dan saling membantu sesama wanita untuk mengukuhkan satu sama lain. Jika kekuatan wanita Indonesia bersatu maka kemajuan Indonesia bisa terlihat lebih nyata” - Puspita Ayu Permatasari, 2020

 


ditulis oleh Sari Nastiti

 

diterbitkan pada laman womentourism.id | 27 Januari 2021