Di Balik Layanan Ramah, Ada Beban yang Berat: Realitas Psikologis Perempuan dalam Industri Pariwisata

Momentum Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan menjadi hal yang krusial sekaligus pengingat kita bahwa kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk fisik maupun non-fisik seperti verbal semata, tetapi menjelma dalam bentuk-bentuk lain seperti struktur sosial, budaya, dan praktik-praktik institusional yang perlahan merampas martabat, ruang aman, serta kesejahteraan psikologis perempuan di berbagai sektor, tidak terkecuali pariwisata dan hospitalitas. Sektor industri yang tampak ramah dan menjanjikan ini kenyataannya menyimpan mekanisme kekuasaan yang bias dan interelasi yang tercipta di dalamnya seringkali memperkuat struktur subordinatif yang merugikan perempuan, dimana mereka sering diposisikan pada ranah domestik untuk menanggung beban pekerjaan domestik dan pelayanan emosional sehingga membuka ruang bagi lahirnya subordinasi, tekanan psikologis, serta berbagai bentuk eksklusi yang tidak tampak namun sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan, pengalaman kerja, dan kesempatan mobilitas karier mereka yang memperparah kerentanan mereka di tengah sistem yang seharusnya memberikan ruang tumbuh yang setara. 

Kekerasan struktural muncul ketika norma budaya dan hierarki sosial secara stagnan menempatkan perempuan pada posisi yang kurang mendapatkan apresiasi semestinya, upah yang lebih rendah, dan ruang gerak pengambilan keputusan yang terbatas sehingga menciptakan tekanan yang tidak hanya berdampak pada sisi ekonom, tetapi juga membawa dampak terhadap kondisi psikologis mereka. Hal ini sinkron dengan sebuah temuan yang menyatakan bahwa identitas perempuan yang saling beririsan dengan karakteristik usia, status migran, atau kelas sosial berpotensi memperbesar kerentanan mereka terhadap diskriminasi, eksklusi, dan ketidaknyamanan yang dialami secara konsisten di tempat kerja (Adam et al., 2023).

Ketika perempuan berada dalam sebuah ruang kerja, kekerasan psikologis tidak selalu hadir dalam bentuk penghinaan atau pelecehan langsung, tetapi dapat terwujud melalui invisibilitas kontribusi mereka atas beban emosional yang kurang dihargai serta terbatasnya peluang untuk mengartikulasikan kapasitas serta potensi kepemimpinannya. Oleh karena itu, dorongan perempuan untuk melakukan mobilitas karier lintas sektoral dalam industri pariwisata khususnya, menjadi implementasi nyata atas perlawanan terhadap struktur yang membatasi potensi kemampuan mereka, meskipun ruang yang ditempuh masih dibatasi oleh bias gender yang menempatkan mereka pada pekerjaan “feminim” dan menghambat akses menuju posisi yang lebih strategis (Wang et al., 2025:11).

Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa ketika perempuan diberi ruang untuk tumbuh dalam berpartisipasi, berkontribusi, dan membangun relasi kinerja yang lebih inklusif, mereka mampu memperoleh kepercayaan diri, rasa aman, serta dukungan emosional yang signifikan bagi kesehatan psikologis mereka. Perasaan diakui, didengar, dan dihargai inilah yang menjadi inti dari pemberdayaan, karena perempuan tidak hanya ingin mengambil bagian dalam industri, tetapi juga ingin dihargai sebagai subjek penuh dengan kapasitas, agensi, dan hak untuk bebas menentukan arah kariernya (Wang et al., 2025:7-13).

Selain itu, penelitian terkait dengan pemberdayaan perempuan dalam pariwisata menegaskan bahwa kekerasan yang perempuan alami bersifat multidimensional, mulai dari aspek ekonomi hingga aspek psikologis yang berkaitan langsung dengan struktur sosial yang mempengaruhi akses perempuan terhadap sumber daya, peluang, dan legitimasi sosial. Oleh karena itu, mendorong kepemimpinan perempuan tidak cukup dengan membuka posisi, tetapi juga memerlukan perubahan struktur institusional yang memahami bagaimana gender berinteraksi dengan faktor lain seperti status dan kelas sosial, sehingga memungkinkan perempuan dapat berkembang sesuai dengan potensinya tanpa menghadapi hambatan struktural yang menggerus kesejahteraan mental mereka (Adam, 2023:1-12).

Dalam konteks Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, pariwisata harus dilihat sebagai ruang perjuangan penting sebagai sebuah sektor yang sekaligus dapat memperkuat ketidaksetaraan dan juga membuka peluang besar untuk melawan kekerasan struktural untuk menciptakan ruang aman, inklusif, dan berorientasi pada berkeadilan gender. Dengan demikian, pemberdayaan perempuan melalui pariwisata bukan sekedar strategi ekonomi, tetapi merupakan cermin dari fondasi transformatif untuk mengakhiri praktik berbahaya secara struktural, psikologis, maupun sosial, sehingga perempuan dapat bekerja, memimpin, dan berkembang tanpa terjebak dalam hierarki dan stereotipe yang mendiskreditkan eksistensi mereka. Melalui narasi konstruktif ini menjadi pengingat bahwa menghentikan kekerasan bukan hanya menolak luka yang terlihat, tetapi juga keberanian kolektif untuk terus meruntuhkan struktur, budaya, dan kebiasaan yang selama ini membungkam aspirasi, potensi, martabat, sekaligus ruang aman bagi kelompok marginal, perempuan. 

 

Artikel ini diterbitkan di laman womentourism.id| 30 November 2025

 

Writer: 

Hanum Zatza Istiqomah
An active undergraduate student majoring in Tourism at Gadjah Mada University with an interest in social, cultural, and sustainability issues.



Referensi:

  1. Adam, I., Agyeiwaah, E., & Dayour, F. (2023). Migrant worker inclusion and psychological well-being: Insights from the hospitality and tourism workplace. Journal of Hospitality and Tourism Management, 55, 448–459. https://doi.org/10.1016/j.jhtm.2023.05.016 
  2. Wang, Z., Leung, X. Y., & Huang, X. (2025). Empowering women through tourism: a systematic literature review. Current Issues in Tourism, 1–23. https://doi.org/10.1080/13683500.2025.2556985 
  3. Sumber foto: https://www.yellowbrick.co/