Ni Made Gandhi Sanjiwani: Jiwa Muda yang Berani Membangun Desa

 

“I believe that woman can be the agent of change and village will be our future in tourism.” - Gandhi

 

Terjun ke Desa

 

Ni Made Gandhi Sanjiwani atau lebih akrab disapa sebagai Gandhi, merupakan seorang perempuan asli Bali berusia 26 tahun yang berprofesi sebagai analis dan praktisi di bidang pariwisata berkelanjutan. Sebagaispesialis di bidang pengembangan pariwisata berkelanjutan, ia memiliki ketertarikan di bidang riset terkait topik tersebut sejak tahun 2015. Pada tahun 2016, ia tersertifikasi sebagai Konsultan Perencanaan Destinasi Pariwisata. Saat ini, Gandhi menduduki posisi Business Development Executive di Go Destination Village (GODEVI) dan sekretaris di Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Sayan, Ubud.

 

Ni Made Gandhi Sanjiwani

 

Keterlibatan Gandhi dalam pengelolaan wisata di Desa Sayan berawal setelah ia selesai menempuh studi master di program Kajian Pariwisata di Universitas Gadjah Mada. Gandhi yang tumbuh di lingkungan akademis mengenal betul kompleksitas permasalahan pariwisata di Bali melalui riset-riset yang ia lakukan. Secara khusus, ia membahas pariwisata di Desa Sayan melalui tesisnya yang berfokus di Ubud. Berawal dari riset ini, Gandhi mengenal lebih lanjut tentang masalah yang dihadapi di sana. Kemudian dalam pola pikir Gandhi terbentuklah sebuah kesadaran dan kekhawatiran yang datang secara bersamaan.

 

Gandhi menyadari ada sesuatu yang sangat genting yang harus segera diselesaikan oleh anak muda. Ia berpikir bahwa ‘Apabila bukan generasi muda yang berkontribusi dan menciptakan inovasi untuk menyelesaikan masalah tersebut maka siapa lagi?’. Sebagian besar anak muda Bali yang memiliki latar belakang pendidikan maupun profesi di bidang pariwisata merantau ke daerah lain dan tidak banyak yang kembali ke desanya. Bahkan banyak juga anak muda Bali yang saat ini tinggal di luar negeri. Melihat fenomena tersebut, secara emosional Gandhi merasa ada panggilan nurani untuk kembali ke desa dan berkarya di sana.

 

Ketika Gandhi kembali ke Desa Sayan, ia bersama-sama dengan tim, tokoh-tokoh desa, serta anak-anak muda di sana sering mengadakan pertemuan-pertemuan formal untuk berdiskusi dan bertukar pikiran. Gandhi ingin menunjukkan semangat bahwa generasi muda adalah ujung tombak dari desa. Bagaimana warisan budaya, kearifan lokal, mitos-mitos, dan hal-hal sakral adalah sesuatu yang perlu dijaga, dilestarikan, dan diinventarisasi oleh generasi muda sebagai generasi penerus.

 

“Kalau saya bisa, kalian juga bisa, dan perempuan juga bisa.” - Gandhi.



Berkarya dengan Masyarakat dan Tantangannya

 

Meskipun diawali dengan niat yang baik, tidak selamanya jalan yang dilalui Gandhi untuk membangun Desa Wisata Sayan bersama anak-anak muda di sana selalu mulus. Salah satu tantangan terbesar yang ia hadapi adalah membuat anak muda memiliki mental yang lebih peduli.

 

“Karakteristik anak-anak muda zaman sekarang cerdas dan kreatif. Mereka juga menempuh pendidikan tinggi dan memiliki pergaulan sosial yang luas. Namun, ketika mereka diajak untuk bersama-sama membangun desa mereka belum mau karena mereka belum sadar secara penuh,” ungkap Gandhi.

 

Namun, hal tersebut tidak menyurutkan tekad Gandhi dan rekan-rekannya di Pokdarwis Desa Sayan. Gandhi bersama tim pengelola Desa Wisata Sayan terus merumuskan program-program yang bertujuan untuk merangkul dan menggerakkan anak muda.

 

Gandhi Memberikan Paparan dalam Sebuah Acara

 

Selain itu, Gandhi juga menyadari bahwa bekerja dengan masyarakat sangat berbeda dengan bekerja dengan organisasi pada umumnya. Ketika berada di organisasi, Gandhi memiliki tujuan dan visi misi yang jelas. Ia juga terbiasa dituntut untuk memiliki semangat dan ambisi untuk bisa berkarya dan memajukan organisasi tersebut. Tapi ketika bekerja di masyarakat praktiknya tidak semudah itu. Ini adalah tantangan kedua yang dihadapi Gandhi.

 

Ketika Gandhi memiliki banyak visi dan ambisi, Gandhi harus sering mengerem ambisi tersebut karena masyarakat memiliki tempo yang berbeda-beda. Ia menemukan bahwa ada masyarakat yang bisa cepat memahami dan mengerti apa tujuan Pokdarwis membangun Desa Sayan. Namun, ada juga masyarakat yang acuh tak acuh atau apatis. Di sisi lain, ada masyarakat yang memiliki keinginan untuk maju tetapi tidak tahu cara mengungkapkannya sehingga akhirnya mereka tidak aktif.

 

Menurut Gandhi, manajemen masyarakat adalah tugas yang paling berat karena ia diharuskan untuk berhadapan langsung dengan pola pikir masyarakat yang sudah bertahun-tahun dibentuk melalui proses sejarah dan pengaruh lain baik internal maupun eksternal. Tidak semua orang bisa menerima visi dan misi yang Gandhi dan tim Pokdarwis Desa Sayan rumuskan dengan cepat. Maka dari itu, ia merasa perlu untuk mengurangi tempo kerja dan berproses bersama masyarakat agar menghindari gesekan dan mengedepankan keberlanjutan program.



Menjalani Peran dalam Tingkat Proses Pengambilan Keputusan sebagai Seorang Perempuan

 

Menurut Gandhi, perempuan memiliki peran yang luar biasa dalam pariwisata, khususnya perempuan di Bali. Beberapa peneliti tingkat dunia sudah menulis bagaimana kiprah dan eksistensi perempuan Bali dalam melestarikan tradisi dan budaya mereka dalam bentuk wisata kuliner. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya perempuan Bali yang menjadi inisiator wisata kuliner di Ubud. Tanpa disadari perempuan-perempuan tersebut memiliki peran yang besar dalam tingkat proses pengambilan keputusan.

 

Sebagai salah satu perempuan yang berhasil menduduki posisi di tingkat tersebut, Gandhi merasa keputusan-keputusan yang ia buat memiliki pengaruh terhadap perkembangan ke arah yang lebih baik. Di GODEVI, Gandhi terlibat dalam rapat-rapat penting terkait MOU yang nantinya memengaruhi perkembangan desa wisata. Peran Gandhi muncul di sini sebagai pemberi pertimbangan terhadap keputusan-keputusan yang berkaitan hal tersebut.

 

Di Desa Wisata Sayan, Gandhi juga memiliki peran yang serupa. Sebagai sekretaris, ia berhasil membantu menjembatani proses negosiasi dengan berbagai pemangku kepentingan yang selanjutnya memberi manfaat bagi masyarakat rentan di sana. Salah satunya, pada saat mengelola bank sampah, Gandhi bisa menjalin kerja sama dengan eco hotel. Dari kerja sama ini, Gandhi bisa mengonversi sejumlah keuntungan eco hotel ke dalam bentuk kebutuhan pokok untuk didistribusikan ke masyarakat rentan yang ada di Desa Sayan. Yang termasuk ke dalam kategori masyarakat rentan di Desa Sayan adalah orang-orang tua dan masyarakat lain yang terdampak pandemi COVID-19.

 

 

 Aktivitas Bank Sampah di Desa Sayan

 

Selama ini, masyarakat rentan di Desa Sayan hanya bisa menjadi penonton dan belum dapat menikmati apa yang dihasilkan oleh pariwisata di sana. Berkat kerja keras Gandhi dan tim Pokdarwis Desa Sayan, saat ini masyarakat rentan, terutama orang-orang tua dan penduduk yang terdampak pandemi COVID-19, telah menikmati manfaat dari aktivitas wisata di sana. Melihat hal ini membuat Gandhi sangat bahagia. Ketika apa yang sudah ia pelajari selama tujuh tahun studi di perguruan tinggi bisa diterapkan dan berdampak pada masyarakat, ia merasa hal tersebut sebagai momen keberhasilan baginya.

 

(Hanin Banurukmi)

 

Artikel ini dipublikasikan oleh womentourism.id | 10 Agustus 2020