Peran Perempuan dalam Meningkatkan Minat Wisawatan Melalui Acara Budaya ‘Festival Lewetaka’ di Banda Neira

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki beragam daya tarik wisata yang banyak diminati oleh para wisatawan, salah satunya adalah Wisata Bahari dan Wisata Sejarah. Wisata Bahari di Indonesia memang sangat terkenal dan memiliki ciri khas tersendiri, karena di setiap daerah yang memiliki destinasi wisata bahari turut memiliki perbedaan satu sama lain yang tak membuat wisatawan bosan untuk mengeksplor setiap wilayahnya. Perbedaan-perbedaan ini turut dilatarbelakangi oleh berbagai faktor seperti faktor sejarah, geografis, adat, dan budaya penduduk sekitarnya yang unik. Salah satu destinasi wisata yang terkenal dengan pemandangannya yang sangat indah, serta memiliki latar belakang sejarah yang banyak disinggahi oleh tokoh-tokoh proklamator kemerdekaan terletak di Maluku Tengah, yakni Banda Neira. Mungkin dahulu masih banyak yang belum mengetahui atau mendengar daerah Banda Neira, namun kini nama Banda Neira cukup membuat masyarakat tertarik untuk berkunjung, bahkan diabadikan menjadi sebuah nama band terkenal, yakni Banda Neira dengan judul lagunya yang fenomenal ‘Sampai Jadi Debu”. 

Sebagai daerah yang masih kental dengan adat dan budaya, masyarakat Banda Neira berinisiatif menciptakan sebuah tradisi baru berbentuk festival yang dinamakan ‘Festival Lewataka’ yang dilatarbelakangi oleh tergugahnya masyarakat Banda Neira untuk menjaga adat dan juga lingkungan di Banda Neira. Ini karena pembangunan di sekitar Banda Neira yang sedikit banyak mempengaruhi eksistensi adat dan sejarah yang ada membuat masyarakat Banda Neira resah akan hilangnya adat istiadat yang sudah ada sejak zaman dahulu. Perkembangan zaman secara langsung menggerus keberadaan adat budaya dan sejarah tersebut. Tradisi lokal terancam hilang, bahasa dan ritual budaya terkikis perlahan, hak-hak ulayat dan situs-situs adat banyak yang menghilang. Festival Lewetaka merupakan kolaborasi bersama Yayasan EcoNusa, Molucca Coastal Care (MCC), STP Hatta Sjahrir, STKIP Hatta Sjahrir, Yayasan Warisan dan Budaya Banda Naira dan komunitas pemuda Banda yang baru mulai diadakan pada tanggal 14 November hingga 17 November 2021. 

Informasi terkait Festival Lewetaka di Banda Neira ini diceritakan oleh seorang travel blogger bernama Irene Komala pada artikelnya yang berjudul “Festival Lewetaka Jaga Banda Lestarikan Adat Dan Alam” yang diunggah pada 25 November 2021. Terdapat pula seorang blogger bernama Arief Pokto yang kala itu menjadi perwakilan dari EcoNusa untuk meliput rangkaian acara Festival Lewetaka yang baru perdana dilakukan di Banda Neira. Irene dan Arief menceritakan pengalaman dan kesempatan yang mereka peroleh untuk menyaksikan secara langsung prosesi ritual adat dan kontribusi masyarakat Banda Neira untuk melaksanakan dan memeriahkan acara Festival ini.

Festival ini dinamakan Festival Lewetaka karena terinspirasi dari sebuah kerajaan Islam yang Berjaya di Banda Neira. Banda Neira sendiri memiliki Tujuh Negeri. Negeri merupakan sebutan untuk Kampung Adat. Ada Negeri Namasawar, Fiat, Ratu, Lonthoir, Selamon, Waer, dan Ai. Dahulu Negeri Namasawar dan Fiat masing-masing dipimpin oleh seorang laki-laki, sementaraRatou yang dipimpin seorang perempuan (Ratu). Untuk Festival Lewetaka yang pertama ini, acaranya hanya akan diikuti oleh tiga negeri, yaitu Namasawar, Fiat, dan Ratu.

Poster Festival Lewetaka (Source : Irene Komala, Pink Travelogue)

 

Ritual Buka Kampung

Untuk membuka acara Festival Lewetaka ini, pertama-tama dimulai dengan sebuah ritual sakral yang dikenal dengan nama ‘Buka Kampung’, yakni memetik janur dari pohon kelapa yang ada di belakang Rumah Adat Negeri Ratu. Ritual ini merupakan syarat wajib karena termasuk kedalam tahapan yang tidak boleh terlewati baik secara waktu maupun ritual. Pengambilan janur kelapa harus dilakukan oleh pemuda dari Negeri Ratu. Janur yang sudah dipetik nantinya akan dijadikan ‘Tampa Sirih’ atau anyaman tempat untuk siri yang merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur yang akan ditempatkan di berbagai tempat keramat. Janur kelapa yang diambil juga tidak boleh jatuh ke tanah karena prosesi ini sangat sakral. 

 

Pembuatan Tampa Siri dan Putar Tampa Siri

Janur yang sudah dipetikakan disimpan di salah satu ruangan di Rumah Adat Ratu Naira yang disebut Ruang Puang selama satu malam. Ruang Puang merupakan sebutan kamar untuk menaruh benda-benda adat, termasuk peralatan belang (kora-kora/perahu) dan pakaian cakalele. Sementara menunggu prosesi pengambilan janur, para mama disini bersiap-siap memasak untuk acara makan Patita setelah ritual selesai. 

Setelah seharian disimpan di Ruang Puang, janur kelapa dikeluarkan untuk kemudian didoakan sebelum dirangkai. Para perempuan mendapat bagian untuk mengurus isi dari Tampa Siri, seperti bunga, tembakau, pinang, gambir, sirih, dan daun pandan. Semua bahan-bahan untuk mengisi tampa siri berasal dari alam. Sedangkan laki-laki bertugas untuk merangkai dan menganyam janur kelapa menjadi Tampa Siri. Tampa Siri dibuat sebanyak empat buah, untuk ziarah ke empat tempat yang dikeramatkan esok hari. Prosesi selanjutnya adalah Putar Tampa Siri yang diawali dengan doa. Ritualnya, tetua lelaki memberikan Tampa Siri kepada tetua perempuan untuk diisi sambil memutar Tampa Siri tersebut.

Janur Di Taruh Tengah Untuk Di Doakan Terlebih Dahulu (Source : Irene Komala, Pink Travelogue)

Bentuk Tampa Siri Yang Dimalamkan Di Ruang Puang (Source : Arief, Ariefpokto.com)

Para Perempuan Membuat Isian Tampa Siri (Source : Irene Komala, Pink Travelogue)

Bentuk Tampa Siri Yang Sudah Jadi (Source : Irene Komala, Pink Travelogue)

 

Prosesi Kasi Makan Nagri Untuk Ziarah Leluhur

Ritual ‘Kasi Makan Nagri’ harus dilakukan sebelum matahari terbit, oleh karenanya ritual ini dimulai pada jam 4 dini hari. Dipimpin salah satu tetua adat, rombongan berangkat dari Rumah Adat Negeri Ratu untuk berdoa, membakar dupa, menaburkan bunga di perbatasan dan tepi pantai. Ritual ini bertujuan untuk memohon, menjaga negeri dari mara bahaya, dijauhkan dari penyakit dan musibah, meminta rezeki, rahmat, dan kesehatan. Ritual ini diharapkan dapat menjadi pengingat untuk mengucap syukur atas berkat yang diberikan sang Pencipta melalui semesta yang mencukupkan kehidupan. Kasi Makan Negeri merupakan salah satu bentuk menjaga alam dari kerusakan.

Ritual Doa Kasi Makan Nagri di Pinggir Pantai (Source : Arief, Ariefpokto.com)

 

Antar Tampa Siri

Tampa Siri yang sudah dibuat beberapa hari sebelumnya itu, digunakan saat Ziarah Leluhur. Empat buah Tampa Siri dimasukkan ke dalam kotak lalu ditutup dengan kain. Beriringan dibawa dengan hati-hati oleh cakalele. Cakalele sendiri merupakan nama tarian Maluku untuk menyambut perayaan adat. Cakalele menceritakan tentang semangat perjuangan nenek moyang untuk Jaga Banda. Para penari pria cakalele menemani ketua adat untuk melakukan ritual Bawa Tampa Siri, yaitu ziarah ke makam leluhur. Ritual ini dimulai pada jam 9 pagi dengan melakukan perjalanan dan ziarah ke makam leluhur sebagai tempat yang dikeramatkan, yaitu Situs Parigi Laci, Situs Boi Kherang, Situs Batu Masjid, dan Situs Batu Kadera. Rombongan ini tidak boleh menoleh ke belakang dan harus menjaga perkataan dan perbuatan selama prosesi, serta dilakukan dengan berjalan kaki, tidak boleh menumpang kendaraan.

Tampa Siri Disimpan Dalam Kotak (Source : Irene Komala, Pink Travelogue)

 

Mengunjungi Parigi Laci

Yang pertama dikunjungi adalah Situs Parigi Laci. Ini adalah tempat para leluhur jaman dulu berwudhu. Disana ada sebuah sumur yang di dalamnya ada sebuah laci. Menurut sang ketua adat, ada faktor-faktor keberuntungan yang turut mempengaruhi pendapatan air disana. Setelah membakar dupa dan berdoa, lalu menaruh satu Tampa Sirih disana, mereka bergantian berwudhu dan mengambil air keperluan ritual lainnya.

Sumur Parigi Lagi Yang Berbetuk Seperti Laci (Source : Irene Komala, Pink Travelogue)

Berwudhu Dan Berdoa Di Parigi Laci (Source : Arief, Ariefpokto.com)

 

Ziarah Makam Bhoi Kerang

Boi Kherang, nama putri dari Kerajaan Lewetaka. Srikandi Banda yang memimpin perjuangan pada masa penjajahan Belanda, saat pembantaian besar-besaran terjadi di Banda. Berdasarkan sejarah, pada 1621, Belanda melakukan genosida dengan membunuh semua lelaki yang ada di Banda Neira untuk menguasai Pala dari mulai pertanian hingga penjualannya. Mereka menyisakan para perempuan dan anak-anak  untuk bekerja di Kebun Pala. Bhoi Kerang lalu memimpin perjuangan melawan Belanda, mengerahkan pasukan perempuan yang dipersenjatai tombak, batu dll. Perlawanannya sempat membuat repot Belanda, walau akhirnya beliau gugur terbunuh dalam pertempuran. Bhoi Kerang dijuluki Admiral Lady of Banda karena perjuangannya.Situs Boi Kherang terletak di atas bukit. Pada satu titik sesaat sebelum tiba di sana, kami diminta untuk melepaskan alas kaki sebagai bentuk penghormatan memasuki wilayah yang sakral. 

 

Makan Patita

Makan Patita merupakan acara makan bersama untuk mempererat kebersamaan dan kekeluargaan pada meja putih panjang. Mungkin jika kita tarik pada masa sekarang, tradisi ‘Makan Patita’ ini lebih banyak dikenal oleh generasi sekarang sebagai ‘Liwetan’. Untuk merayakan rasa syukur suksesnya ‘Antar Tampah’, para mama di Rumah Kampung Adat Ratu menyajikan Makan Patita. Mereka menyajikan aneka macam hidangan lezat seperti Kaporu (semacam lepat gurih dibungkus daun pisang), Suami (parutan singkong yang dikukus), Ulang-ulang (semacam salad ala Banda yang berbumbu kacang kenari), Bakasang, sambal khas dengan fermentasi ikan, ikan rempah, Asinan serutan buah papaya muda, daun papaya rebus, ikan goreng, telur rebus, mie goreng dan banyak lagi.

Para Mama Menyiapkan Makan Patita Dan Makan Bersama (Source : Arief, Ariefpokto.com)

 

Doa dan Ziarah Makam Des Alwi

Des Alwi Abubakar merupakan seorang anak angkat dari Bapak Proklamator Kemerdekaan, yakni Bung Hatta dan Sutan Sjahrir yang berperan dalam saksi sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah doa bersama, acara ritual terakhir Festival Lewetaka ditutup dengan berkunjung dan ziarah ke makam Des Alwi sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan perjuangannya Jaga Banda.  

Ziarah Makam Tokoh Banda Neira, Des Alwi (Source : Irene Komala, Pink Travelogue)

 

Malam Pentas Rakyat

Malam Pentas Rakyat Festival Lewetaka diselenggarakan di Pantai Karsen dengan pemandangan Gunung Api Banda yang megah. Ada Tarian Cakalele dan Tarian Maruka. Tarian Cakalele memiliki makna yang dalam, menggambarkan peperangan para leluhur demi menjaga Banda Neira. Dua anak perempuan yang di tengah pada Tarian Maruka digambarkan sebagai putri dari Negeri Namasawar. Perempuan yang menari di sekelilingnya disebut Mai-Mai. Mai-Mai adalah simbol Ibu Banda Neira karena perempuanlah yang mengisi kekosongan peran kaum pria pasca Genosida 1621. Masyarakat Banda Neira sangat menjunjung tinggi adat (tanah), agama (pluralitas), dan marwah perempuan.

Tarian Maruka Di Malam Pentas (Source : Irene Komala, Pink Travelogue)

Kostum Ciri Khas Banda (Source : Irene Komala, Pink Travelogue)

 

Peran Perempuan dalam Festival Lawateke

Seluruh cakupan proses ini melibatkan banyak sekali perempuan hebat yang ikut membantu dalam setiap proses ritual di Festival Lawateke. Beberapa peran penting perempuan dalam ritual ini adalah sebagai pengisi dari ‘Tampa Siri’, seperti bunga, tembakau, pinang, gambir, sirih, dan daun pandan. Jika biasanya perempuan selalu diberikan peran untuk melaksanakan tugas kerajinan tangan, di Banda Neira peran-peran ini diberikan secara merata, adil dan sesuai dengan porsi dan aturan yang telah ditentukan tanpa melihat posisi dan status gendernya. 

Selanjutnya, para perempuan berperan untuk menyambut para peziarah dengan masakan-masakan yang enak dan menarik dalam acara ‘Makan Patita’. Peran perempuan disini tidak hanya semata-mata hanya menyiapkan masakan untuk para pria yang kembali dari ritual ziarah. Melainkan bertujuan untuk menciptakan suasana kekeluargaan dan mempererat kebersamaan sebagai citra wajah Banda Neira yang ramah dalam menyambut tamu. Hal ini tentunya turut menjadi daya tarik wisata, yang mana membuat para wisatawan yang datang betah dan tertarik untuk menjelajah Banda Neira lebih jauh karena penyambutan dan keramahan yang diberikan oleh masyarakat Banda Neira sesuai aturan adat yang mereka junjung. 

Festival Lewetaka yang diusung oleh penduduk Banda Neira ini juga tak ketinggalan bertujuan untuk menunjukkan citra dan peran perempuan yang hebat dalam sejarah berdirinya daerah mereka. Tak sedikit ritual dan prosesi yang dilakukan dengan tujuan untuk menghormati perempuan-perempuan di Banda Neira. Seperti berziarah ke makam Bhoi Karang yang menggagas keberanian para perempuan kala itu untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda yang zalim. Ada pula tarian-tarian yang ditujukan untuk menghormati perempuan yang berjuang mengisi kekosongan peran kaum pria pasca Genosida 1621 yang dikenal sebagai Mai-Mai atau simbol Ibu Banda Neira. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa masyarakat Banda Neira sangat menjunjung tinggi adat (tanah), agama (pluralitas), dan marwah perempuan di dalam kehidupan masyarakatnya.

Para Perempuan Turut Menyambut Peziarah Dengan Lantunan Lot-Lot (Source : Irene Komala)

 

Potensi dan Proyeksi Pariwisata Festival Lewetaka

Festival Lewetaka, seperti halnya festival budaya lain di Indonesia dan dunia, dapat menjadi daya tarik untuk mengundang wisatawan masuk ke Banda Neira. Artinya, ada potensi ekonomi yang tinggi untuk mentransformasi festival ini sebagai sumber daya pariwisata. Ini diperlihatkan oleh tampilan kolom dalam beberapa media, berupa reportase dan testimoni dari pihak-pihak yang terlibat dalam Festival Lewetaka. Euforia yang disuarakan media merupakan euphoria dan laporan yang baik, yang dikatakan mampu menambah kerukunan antar masyarakat, menjaga kelestarian budaya dan menjaga kelestarian alam. Dengan demikian, festival ini barangkali dapat menambah jumlah kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara di Banda Neira dan melalui hal itu, berpotensi pula mengangkat dan mengembangkan ekonomi daerah.

Pada Oktober 2022, Dinas Pariwisata Maluku mengusulkan Kawasan Banda Neira sebagai destinasi prioritas tingkat nasional. Alfian, perwakilan Dinas Pariwisata memberikan keterangan bahwa Banda Neira merupakan Kawasan yang kaya akan sejarah, budaya dan potensi wisata bahari. Pemerintah setempat kini bekerja keras memenuhi persyaratan destinasi prioritas dan mengusulkan hal itu ke Pemerintah Pusat. Oleh karena itu, transformasi festival menjadi produk pariwisata ini sejalan dengan gagasan Dinas Pariwisata Maluku yang mengusulkan Banda Neira untuk masuk ke dalam destinasi prioritas tingkat nasional. Keberadaan wilayah yang penuh budaya dan sejarah merupakan hal yang dapat dikomodifikasi menjadi produk pariwisata di Kawasan Banda Neira dan memberikan keuntungan bagi masyarakat setempat.

Pariwisata merupakan salah satu alat yang dapat dimanfaatkan untuk melestarikan budaya dan pengembangan ekonomi sekaligus. Transformasi festival Lawateke menjadi sumber daya pariwisata dapat membantu masyarakat adat mempertahankan budaya komunitas lokal, melestarikannya, menyebarkan dan mengedukasinya kepada khalayak luas serta mendapat manfaat ekonomi dari aktivitas pariwisata yang berlangsung. Manfaat dari proses pariwisata yang demikian ini merupakan fungsi pariwisata sebagai alat community development dan cultural preserve. Selain oleh Festival Lawateke, Banda Neira sendiri merupakan Kawasan yang penuh dengan potensi pariwisata. Hal ini benar-benar disadari oleh dinas pariwisata setempat yang kini memproyeksikan Banda Neira sebagai destinasi prioritas tingkat nasional untuk diusulkan kepada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Beliau menyebut bahwa Banda Neira merupakan daerah yang kaya akan sejarah, budaya dan asset alami bahari (yang dapat dijual sebagai sumber daya pariwisata).

Tentu proyeksi dan integrasi pariwisata kedalam festival tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru. Perlu ada refleksi yang mendalam tentang batas tegas pariwisata dan budaya dalam lingkup komodifikasi produk pariwisata, refleksi tentang Batasan pariwisata terhadap alam serta regulasi yang menjamin bahwa masyarakat lokal adalah pihak yang mendapat keuntungan terbesar dari aktivitas pariwisata yang dilakukan di Kawasan mereka.

Festival Lawateke memang baru hanya dilakukan selama 1 kali, dan pertama kali diadakan pada 17 November 2021 tahun lalu. Tetapi, melihat dari bentuk kegiatannya dan tujuan pelaksanaannya, festival ini layak ditransformasi menjadi produk pariwisata yang berkelas. Ini tentu akan membantu masyarakat lokal mendapat dorongan ekonomi dan kelestarian budaya serta alam di Banda Neira. Bersama dengan masyarakat adat dan kemauan untuk berubah menjadi lebih baik, Banda Neira dapat memproklamirkan diri sebagai Kawasan wisata unggulan yang baru.

 

 

Sumber : 

Arief Pokto. 2021. “Festival Lewetaka, Semangat Harmonisasi Banda Neira Menjaga Adat dan Lingkungan”, Diakses melalui : www.AriefPokto.com

Irene Komala. 2021. “Festival Lewetaka Jaga Banda Lestarikan Adat dan Alam”. Diakses melalui : www.pinktravelogue.com

 

Ditulis oleh Dhia Ratu & Satrio Langlang

 

 

Artikel ini dipublikasikan pada laman womentourism.id | 22 Februari 2023