Keindahan yang Berkelanjutan: Kisah Sukses UMKM Nina Penenun dalam Pemberdayaan Perempuan dan Pelestarian Lingkungan

Desa Pringgasela, sebuah desa kecil yang terletak di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, memiliki kekayaan budaya yang tak ternilai. Salah satu budaya yang menjadi kebangga Desa Tringgasela adalah kerajinan tenun. Namun layaknya desa-desa lain di Indonesia, kerajinan tradisional tenun ini mulai ditinggalkan oleh generasi muda yang lebih tertarik dengan gaya hidup modern. Hal ini tentunya berdampak terhadap penurunan jumlah penenun dan resiko hilangnya warisan budaya yang berharga ini. Untuk mengatasi hal ini, muncul inisiasi untuk mendirikan UMKM Nina Penenun yang diketuai oleh Ibu Sri Hartini untuk kembali mengembangkan dan membudayakan praktik tenun tradisional di desa mereka,

 

Selain untuk kembali membangkitkan minat dan kecintaan masyarakat terhadap tenun, UMKM Nina Penenun juga berkomitmen untuk mendorong pemberdayaan perempuan dan pelestarian lingkungan sebagai fokusnya. Dengan dedikasi dan kerja keras yang tinggi dalam menjunjung fokusnya, UMKM Nina Penenun menghasilkan serangkaian produk seperti rerempek, tas laptop, bucket hat, hingga sampul buku dan menyelenggarakan pelatihan gratis yang dilaksanakan secara mingguan secara luring serta melakukan kolaborasi dengan lembaga maupun organisasi selaras lainnya,

 

Peran Perempuan dalam Mempertahankan Warisan Budaya Lokal

Sebagai UMKM, Nina Penenun memegang salah satu aspek penting yakni pemberdayaan perempuan. Bu Dewi selaku sekretaris dari UMKM Nina Penenun menyatakan bahwa mayoritas penenun dalam UMKM ini terdiri dari perempuan-perempuan yang telah lansia (lanjut usia). Menurutnya, melalui UMKM ini para perempuan tersebut tetap memperoleh pendapatan melalui karya tenun yang mereka hasilkan sekaligus mempertahankan praktik tenun tradisional ini melalui pembuatan tenun rerempek.

 

 

Sumber foto: David Soukhasing/Angin.ID

 

Kecenderungan sebagai tenaga kerja yang kerap kali mengalami kesusahan dalam menenun kain padat, UMKM ini kemudian mengarahkan penenun lansia yang bernaung di bawahnya untuk bertanggung jawab dalam proses pembuatan tenun rerempek. Salah satu produk yang ditawarkan oleh UMKM Nina Penenun ini merupakan bentuk syal yang diproduksi dari sisa-sisa benang dalam menenun produk lainnya seperti tas laptop, bucket hat, dan sampul buku. Tidak hanya itu, proses pembuatan rerempek ini juga tergolong mudah serta menawarkan harga jual yang tinggi sehingga penenun lansia dapat menjadi lebih bersemangat dalam menenun.

 

 

Sumber foto: Instagram/ninapenenun

 

Mewariskan Kebudayaan Lokal yang Bersifat Berkelanjutan

Merujuk pada produk-produk tenun yang dihasilkan, UMKM Nina Penenun juga memfokuskan perhatiannya pada pelestarian lingkungan khususnya di Desa Pringgasela. Beragam inovasi pun dilakukan seperti mengadopsi penggunaan pewarnaan benang secara alami melalui bahan-bahan organik untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan di sekitar desa tersebut. Selain itu, penggunaan pewarnaan alami juga memberikan nilai jual yang tinggi terhadap produk UMKM ini seperti rerempek serta menjadi daya tarik bagi konsumen khususnya yang berasal dari luar Desa Pringgasela.

 

Selain memberdayakan perempuan, UMKM Nina Penenun juga menjunjung tinggi pelestarian lingkungan. Dalam proses produksi tenun, Nina berkomitmen untuk menggunakan pewarnaan benang secara alami, mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya, dan mendukung penggunaan bahan baku yang ramah lingkungan. Hal ini ditujukan untuk menjaga ekosistem lokal dan menjaga keberlanjutan lingkungan bagi generasi yang akan mendatang.

 

 

Sumber foto: Instagram/ninapenenun

 

Tenun sebagai Alat Edukasi akan Pentingnya Kelestarian Lingkungan

Sedangkan untuk mempromosikan produk tenun yang dihasilkan, UMKM Nina Penenun mengadopsi strategi pemasaran melalui platform media sosial seperti Instagram dan WhatsApp Business. Menyadari akan potensi pasar yang luas melalui platform ini, UMKM Nina Penenun kemudian memanfaatkan kedua platform tersebut untuk menjangkau pembeli dari berbagai daerah. Selain itu, dengan melakukan penulisan caption di postingan Instagram yang menarik, UMKM Nina Penenun juga berusaha untuk memberikan edukasi kepada pembeli maupun pembaca lainnya mengenai proses pembuatan tenun serta pentingnya pelestarian budaya tenun dengan menggunakan bahan pewarna alam alami.

 

Tidak berhenti disitu, UMKM Nina Penenun juga mengajak para pembeli yang berkunjung di Desa Pringgasela untuk datang langsung ke tempat penenun. Dengan mengunjungi tempat produksi, pembeli dapat melihat proses pembuatan tenun secara langsung dan mendapatkan pengalaman yang lebih dekat dengan kultur dan tradisi di Desa Pringgasela. Melalui pengalaman tersebut, diharapkan pembeli akan lebih menghargai produk tenun berbasis bahan pewarna alami dan kelak dapat terlibat aktif dalam upaya pelestarian budaya tenun serta pelestarian lingkungan secara keseluruhan.

 

 

Sumber foto : Instagram/ninapenenun

 

Kerjasama dengan NGO dan Organisasi lainnya

Selain itu, UMKM Nina Penenun menjalin kerjasama dengan organisasi non-pemerintah (NGO) seperti Rumah Alam dan UNESCO Jakarta. Rumah Alam merupakan NGO lokal yang bergerak pada pengembangan ekonomi berkelanjutan dan pelestarian alam di Indonesia, sementara UNESCO Jakarta bertanggung jawab atas pelestarian budaya dan warisan dunia. Kerjasama ini kemudian memungkinkan UMKM Nina Penenun untuk mendapatkan bimbingan dan dukungan dalam memperoleh pengakuan serta perhatian yang lebih luas oleh masyarakat Indonesia hingga masyarakat internasional.

 

Melalui UMKM Nina Penenun, perempuan di Desa Pringgasela khususnya yang telah lanjut usia kini memiliki kesempatan untuk memperoleh penghasilan yang berkecukupan. Selain itu, praktik tenun tradisional yang mulai terlupakan juga berhasil dihidupkan kembali, berkat inisiatif UMKM Nina Penenun dan kerjasamanya dengan Rumah Alam dan UNESCO Jakarta. Kemudian dengan penggunaan pewarnaan benang secara alami, UMKM Nina Penenun juga memberikan kontribusi positif terhadap pelestarian lingkungan.

 

Akhir kata, UMKM Nina Penenun telah menjadi contoh nyata bahwasanya pemberdayaan perempuan dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dalam satu kesatuan. Melalui koordinasi yang kuat antara sesama penenun yang bernaung di bawah UMKM ini dan kerjasama dengan lembaga-lembaga dengan fokus yang selaras lainnya, maka praktik tenun tradisional di Desa Tringgasela berhasil dipertahankan dan diangkat kembali sebagai warisan budaya berharga yang patut untuk dipertahankan. Semoga kisah sukses dari UMKM Nina Penenun ini dapat menginspirasi perempuan-perempuan lainnya maupun masyarakat Indonesia secara keseluruhan untuk terlibat dalam upaya pelestarian budaya melalui pemberdayaan perempuan dan pelestarian lingkungan di seluruh Indonesia.

 

 

Ditulis oleh: Cornelia Danice Elza Sihombing

 
 
Artikel ini dipublikasikan pada laman womentourism.id | 21 Juli 2023