Peranan Perempuan Dalam Agrowisata di Desa Cibodas

Desa Cibodas

(Dok. Istimewa)

Udara sejuk yang berhembus di Desa Cibodas ini sangatlah membuat siapapun yang menghirupnya menjadi segar kembali. Kita akan disuguhi oleh hamparan pertanian yang luas dan hijau. Tak heran, pertanian di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat menjadi salah satu pionir agrowisata di Jawa Barat. Bisa jadi saja, sayuran yang kita makan sehari-harinya berasal dari olahan petani-petani di desa ini. 

Dari Janda Hingga Uang Berlipat Ganda

Wanita selalu dikonotasikan sebagai makhluk yang hanya bisa diam di rumah saja. Begitu pula yang dirasakan oleh salah satu Kelompok Wanita Tani (KWT) bernama Binama di RW 05, Desa Cibodas. Bagi mereka, bertani adalah pekerjaan untuk semua orang dan bukan kalangan tertentu saja.

Kegiatan Bertani

(Dok. Istimewa)

“Kami mati-matian ngelawan stigma orang-orang yang skeptis tentang apakah perempuan mampu atau bisa mengerjakan pekerjaan semacam ini, apalagi beberapa anggota kami adalah single parent yang kadang masih suka mendapat pandangan miring.” jelas Ibu Ratna selaku Ketua KWT Binama. 

Kegigihan Ibu Ratna dalam membantu rekan-rekan wanitanya patut kita acungkan jempol. Beliau memulai kelompok ini dari pintu ke pintu, mengajak dari rumah ke rumah agar para wanita di RW 05 bisa mencoba bercocok tanam. Niat Ibu Ratna sangat sederhana, beliau hanya ingin membantu para wanita yang sudah janda, kurang dari sisi ekonomi ataupun yang lanjut usia agar tetap bisa produktif. 

Agrowisata Adalah Napas Kami

Kelompok ini terbentuk pada tahun 2013 dengan berangkat dari 10 orang saja. KWT Binama sudah banyak mengedukasi masyarakat mengenai agrowisata, biasanya mereka menyebutnya dengan edu wisata. Kehadiran pariwisata sangat disambut baik oleh Ibu Ratna dan rekan-rekannya, karena seluruh lapisan masyarakat khususnya anggota KWT Binama bisa ikut kerja dan memberikan pelatihan tentang jenis tanaman atau pemeliharaan lahan. Saat ini, KWT Binama sudah memproduksi berbagai hasil tanaman seperti asparagus dan brokoli, dan sudah dijual ke berbagai penginapan hingga ibukota. Bagi Ibu Ratna, agrowisata adalah hal yang sangat potensial, mengingat desa tempat beliau tinggal sangat dikelilingi oleh sumber daya alam yang berlimpah. Hanya saja, masih banyak masyarakat yang belum sadar akan peluang ini. Oleh karenanya, Ibu Ratna selalu berusaha agar masyarakat di desanya tidak hanya sekedar bertani namun juga menjadi pelaku pariwisata. 

Susunan Pengurus Kelompok Wanita Tani Binama

(Dok. Istimewa)

Karena perjuangannya dalam mengenalkan agrowisata, KWT Binama berhasil mendapat juara 1 tingkat nasional untuk program P2L (Pekarangan Pangan Lestari) yang diadakan pada tahun 2018 lalu. Tim besutan Ibu Ratne mendapat hadiah berubah agro dan edukasi wisata, yang tentunya ini bisa menjadi bekal penting sebagai pelaku agrowisata kedepannya. Kini, KWT Binama sudah memproduksi hasil taninya dan diolah menjadi sebuah minuman untuk kesehatan atau herbal. Minuman jus ini merupakan inovasi untuk edu wisata, sehingga wisatawan bisa melihat langsung proses dari mulai penanaman hingga pengolahannya. Salah satu menu yang terkenal adalah Janda Herang; Jahe Daun Herbal Akar Alang-Alang. Minuman ini sering digandrungi wisatawan karena namanya yang unik. Minuman herbal ini juga sudah dikirim ke berbagai supermarket, pasar tradisional dan usaha FnB. 

Ibu Ratna berharap agar produksi tani yang dihasilkan kedepannya bisa dijual ke berbagai destinasi wisata. Optimisme beliau akan agrowisata sangatlah tinggi. Ia ingin lebih banyak mengedukasi wisatawan dan menambah pendapatan bagi rekan-rekan wanitanya. Kehadiran pariwisata menjadi malaikat penolong bagi Ibu Ratna dan rekan-rekannya karena telah membuat lahan tani dikelola secara makin baik dan meningkatkan ekonomi. 

 

ditulis oleh Riana Ika

Artikel ini dipublikasikan pada laman womentourism.id | 11 Desember 2021