Highlight #WTIDtalk 5: Perempuan dan Pariwisata: Komersialisasi di Balik Konservasi Satwa Karismatik

09 Juli 2021

What’s up fellow companions!? :)

Women In Tourism Indonesia (WTID) kembali mengadakan agenda rutin #WTIDtalk seri 5 yang mengangkat tema perempuan dan konservasi satwa dengan judul “Perempuan dan Pariwisata: Komersialisasi di Balik Konservasi Satwa Karismatik”. Tema ini diangkat karena isu perempuan dan konservasi masih belum banyak menuai perhatian--khususnya keterlibatan perempuan--karena kuatnya stigma bahwa perlunya aktivitas fisik yang besar, membuat peran laki-laki diharuskan untuk mendominasi. Talkshow ini diadakan pada Sabtu, 3 Juli 2021 melalui Zoom dan disiarkan secara Live di akun Youtube Women in Tourism Indonesia. 

Serupa dengan WTIDtalk seri sebelumnya, acara kali ini juga menghadirkan perempuan-perempuan yang memiliki kemampuan di bidangnya--yang pada kesempatan kali ini, para perempuan hebat tersebut memiliki kompetensi di bidang konservasi laut dan biodiversityspecialist.

Diskusi dibuka oleh pembicara pertama, yaitu Madhina Suryadi, sebagai Young Activist Conservation sekaligus Miss Scuba International 2018. Madhina membagikan pengalamannya selama menjadi aktivis konservasi; bagaimana ia mulai tertarik dengan dunia bawah laut dan tantangan yang ia alami dan lewati selama menjadi aktivis konservasi. Madhina juga berpesan pada para perempuan yang ingin berkontribusi untuk laut agar tidak perlu takut maupun bingung harus memulai darimana. Ia juga mengatakan tidak perlu melalui gebrakan yang besar, tapi bisa dimulai dari hal - hal kecil, selama kita passionate dan mau terjun untuk berkontribusi, pasti akan ada ilmu yang bisa didapat untuk membuat perubahan.

Doc. Pribadi

Pembicara kedua diisi oleh Marta Muslin, selaku Community Project Manager dari Wicked Diving, dan juga seorang Tourism Waste Management Enthusiast. Ia menceritakan bagaimana awal mula ia bergabung di Wicked Diving, dan juga concern-nya terhadap perempuan serta lingkungan di daerahnya. Marta turut membagikan pengalamannya selama membantu dan memberikan edukasi bagi para perempuan di Flores untuk mau ikut terlibat di dunia diving

Ia juga bercerita bahwa tantangan terbesar yang dialami selama melakukan kegiatannya yakni banyaknya omongan miring, cibiran, dan juga perlakuan tidak adil yang dialami oleh para perempuan. Namun, hal tersebut bukan menjadi penghalang bagi Marta dalam upayanya membantu para perempuan. Hal tersebut justru menjadi penyemangat bagi dirinya untuk bisa membuktikan dan mengubah perspektif orang - orang terhadap perempuan dan kegiatan kelautan.  

Di akhir sesi, Marta juga mengajak dan memberitahu seluruh audiens yang menonton apabila ada yang tertarik untuk mengikuti kegiatan sukarela di konservasi penyu, fellow companions bisa langsung menghubunginya dan ikut bergabung bersama project Wicked Diving, lho!

Doc. Pribadi

Sesi pun dilanjutkan dengan pembicara ketiga, yaitu Ibu Rondang Siregar, seorang Biodiversity Specialist. Beliau menceritakan tentang apa dan bagaimana awalnya ia terinspirasi dan akhirnya terjun di dunia penelitian hewan. Bahkan, beliau menceritakan bahwa sejak kecil sudah memiliki ketertarikan pada hewan liar.

Doc. Pribadi

Dalam pengalamannya bekerja, Ibu Rondang mengungkapkan bahwa tantangan yang cukup berat untuk dihadapi adalah learning-by-doing, karena masing-masing memiliki pandangan yang berbeda dalam menghadapi atau mengurus hewan, contohnya seperti orangutan. Di samping itu, beliau berpesan bahwa saat kita memilih untuk terjun ke dunia kerja laki-laki, perlu mental dan kesiapan lahir batin, dan tidak perlu merasa malu ketika ada masalah, karena akan ada yang membantu dan membimbing.

Beliau juga menyampaikan, untuk dapat menjaga lingkungan konservasi orangutan, terkhusus bagi pekerja perempuan, harus diawali dengan adanya konsekuensi dan konsistensi untuk berkontribusi, tanpa melihat lagi gender. Hal lain yang juga diperlukan adalah kemampuan adaptasi terkait persiapan diri terhadap pekerjaan dan rekan kerja, karena kita memiliki tujuan yang sama dalam konservasi dan rehabilitasi satwa.

Dari isu yang dibahas pada #WTIDtalk Seri 5 ini, dapat disimpulkan bahwa perempuan tidak perlu takut akan stigma yang tertanam di dunia konservasi satwa--di mana dunia konservasi satwa ini dipandang memiliki kecenderungan untuk laki-laki. Selama fellow companions memiliki kemauan, konsistensi, dan tekad yang keras untuk berkontribusi, siapapun bisa terjun di dunia konservasi satwa, termasuk perempuan. Selain itu, dunia konservasi adalah dunia yang berkaitan dengan lingkungan. Karenanya, dengan berkontribusi di dunia konservasi satwa, artinya berkontribusi pula untuk lingkungan, dan peran tersebut sudah tidak lagi memandang gender.

 

ditulis oleh Cyntia Ratna.

 
Artikel ini dipublikasikan pada laman womentourism.id | 9 Juli 2021