06 Januari 2026
Bencana mega hidrometeorologi yang melanda Sumatera pada akhir November 2025 dengan korban lebih kurangnya 1177 jiwa, merupakan alarm keras bagi kegagalan tata kelola lingkungan yang secara sistematis mengabaikan peringatan dini atas deforestasi masif, gencar namun mengabaikan keberlanjutan. Fenomena luapan air bah disertai longsoran tanah bukan semata-mata fenomena biasa akibat curah hujan yang relatif ekstrem, melainkan konsekuensi nyata dari runtuhnya kapasitas ruang hidup akibat integrasi perizinan industri ekstraksi yang menggerus wilayah hulu dan daerah aliran sungai secara ugal-ugalan, tanpa melihat dampak bagi dimensi sekitar (WALHI, 2025).
Dominasi oligarki politik melalui instrumen kebijakan dan hukum yang memfasilitasi konsolidasi kekayaan material, menempatkan aspek keberlanjutan ekosistem sebagai persoalan subordinat atas ambisi pertumbuhan ekonomi mematikan, dalih pembangunan namun menyesatkan. Kebijakan yang lebih mendengarkan kepentingan elite penguasa dibandingkan suara rakyat berakibat pada terciptanya siklus bencana yang terencana, yang mana keuntungan hanya dinikmati oleh sejumlah elite, sedang itu, kerugian ekonomi besar yang capai triliunan rupiah akibat bencana dipikul oleh masyarakat rentan (Siregar, 2025, dalam tajdid.id, 2025).
Di tengah kehancuran ekologis yang kian memicu kontradiksi itu, Rosita Istiawan menyajikan antitesis melalui Hutan Organik Megamendung, sebuah proyek restorasi mandiri yang berhasil mengubah lahan bekas penanaman singkong dengan karakteristik lahan kritis, gersang, dengan ph keasaman tanah cukup ekstrem yang berkisar antara 2-4, kini menjadi bagian dari bentang paru-paru dunia seluas 30 hektar (Supriyadi, 2025, dalam titikterang.co.id, 2025). Melalui metode agroforestri tanpa bahan kimia dan kesabaran yang dimulai sejak tahun 2000an, sekitar dua dekade, Ibu Rosita membuktikan bahwa alam memiliki daya pulih apabila dikelola dengan paradigma dan perawatan jangka panjang, seperti halnya merawat tanah dan mengintegrasikan vegetasi melalui teknik agroforestri yang berpedoman pada pendekatan silvikultur.
Korelasi antar kedua realitas ini sangat krusial dan menunjukkan dialektika untuk menyoroti kontradiksi kekuasaan, yang mana seorang individu, seorang perempuan, tanpa otoritas negara mampu menghidupkan kembali mata air dan memulihkan biodiversitas dengan cakupan yang cukup luas, di satu sisi elite politik dengan segala sumber daya dan kapabilitas justru gagal menjaga bentang lahan, terutama hutan yang sudah ada. Perjuangan Ibu Rosita menghadapi intimidasi “calo tanah” dan ancaman penjarahan kayu mencerminkan bahwa krisis lingkungan sesungguhnya adalah medan perang moral antara mereka yang memilih setia merawat bumi dan mereka yang melihat alam sebagai komoditas untuk dieksploitasi, dimanfaatkan demi keuntungan ekonomi bagi pelaku (Kustinah, 2017, dalam konde.co, 2017).
Tentu hal ini bukan sekedar catatan keberhasilan seorang perempuan, tetapi sebagai refleksi kritis, keberhasilan di Megamendung menjadi contoh nyata sinergi dalam menjaga lingkungan, serta sebuah refleksi khusus bagi arah kebijakan untuk segera dimoratorium demi mencegah krisis hidrometeorologi yang lebih krusial. Menjaga tanpa menanamkan komitmen moral keberlanjutan, justru adalah awal dari bencana yang direncanakan.
Artikel ini diterbitkan di laman womentourism.id| 06 Januari 2026
Writer:
Hanum Zatza Istiqomah
An active undergraduate student majoring in Tourism at Gadjah Mada University with an interest in social, cultural, and sustainability issues.
Referensi:
- CNA. (2021). “Saya harus jadi macannya hutan”: Perjuangan Rosita ubah tanah gersang jadi hutan organik di Megamendung. CNA.id: Berita Indonesia, Asia Dan Dunia. https://www.cna.id/indonesia/rosita-istiawan-hutan-organik-megamendung-bogor-39181
- Detiknews. (2026). Korban Meninggal Bencana Sumatera Hari Ini Capai 1.177 Orang. Detiknews; detikcom. https://news.detik.com/berita/d-8291680/korban-meninggal-bencana-sumatera-hari-ini-capai-1-177-orang
- KBR. (2025). Jejak Industri Ekstraktif dan Pembabatan Hutan di Balik Banjir-Longsor Sumatra. Kbr.id. https://kbr.id/articles/ragam/jejak-industri-ekstraktif-dan-pembabatan-hutan-di-balik-banjir-longsor-sumatra
- tajdid.id. (2025). Di Balik Banjir Sumatera dan Kepanikan Politik Nasional. https://tajdid.id/2025/12/02/di-balik-banjir-sumatera-dan-kepanikan-politik-nasional/
- TimKonde.co. (2017). Rosita, Perempuan Di Balik Hutan Organik - Konde.co. Konde.co. https://www.konde.co/2017/11/rosita-perempuan-di-balik-hutan-organik/
- Titik Terang. (2025). Rosita dan Perlawanan Sunyi di Megamendung: Perempuan yang Menghidupkan Hutan dari Lahan Kritis - titikterang.co.id. Titikterang.co.id; Titik Terang. https://titikterang.co.id/rosita-dan-perlawanan-sunyi-di-megamendung-perempuan-yang-menghidupkan-hutan-dari-lahan-kritis/
- Tugu Jatim ID. (2025). Viral Cerita Rosita Istiawan Bangun Hutan Organik Megamendung di Tengah Krisis Ekologi. Tugu Jatim ID. https://tugujatim.id/viral-cerita-rosita-istiawan-bangun-hutan-megamendung/
- Valid News. (2025). Menanam Harapan Di Megamendung Ala Rosita Istiawan. https://validnews.id/kultura/menanam-harapan-di-megamendung-ala-rosita-istiawan
- WALHI. (2025). Legalisasi Bencana Ekologis di Sumatera dan Tuntutan Tanggung Jawab Negara Serta Korporasi - WALHI. WALHI. https://www.walhi.or.id/legalisasi-bencana-ekologis-di-sumatera-dan-tuntutan-tanggung-jawab-negara-serta-korporasi
- Sumber foto: Ilustrasi menggunakan Canva