06 Januari 2026
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 menghadapi tantangan struktural yang berat meskipun Bank Dunia memperkirakan angka GDP (Produk Domestik Bruto) akan tumbuh stagnan di level 5,1%, namun optimisme tersebut dibayangi oleh peringatan krisis fiskal yang utama nya adalah anggaran dan pajak, akibat beban utang yang kian membengkak dan rencana kenaikan PPN 12%, berisiko pula melumpuhkan daya beli masyarakat. Narasi singkat “Indonesia Cemas” makin menguat di kalangan kelas menengah yang mengalami penurunan jumlah hingga jutaan orang dalam beberapa tahun terakhir, dimana kelompok penggerak utama konsumsi nasional ini, kini lebih memilih menahan belanja non-esensial dan lebih utamakan rasionalitas demi mencukupi kebutuhan biaya pendidikan dan kesehatan yang terus meroket.
Sektor pariwisata sebagai salah satu kontributor pendapatan masyarakat terbesar kini berada dalam lingkaran ketidakpastian ekonomi tersebut, sehingga terjadi korelasi erat antara penurunan rupiah riil dengan pergeseran gaya hidup wisatawan nusantara yang kini lebih memprioritaskan nilai ekonomi dan efisiensi biaya perjalanan di atas kebutuhan tersier seperti kepuasan pribadi, salah satunya rekreasi. Kondisi ekonomi yang mulai meredup memaksa terjadinya de-eskalasi dalam rencana liburan keluarga, yang mana destinasi impian seperti Bali, memerlukan biaya transportasi udara tinggi mulai ditinggalkan demi menjaga stabilitas arus kas rumah tangga di tengah ancaman yang tak kunjung pasti dari sisi ekonomi seperti resesi dan volatilitas nilai tukar global.
Sebagai bukti aktual, tren kunjungan liburan akhir tahun 2025 menunjukkan anomali yang signifikan bagi sektor pariwisata, yang mana wisatawan nusantara yang biasanya menjadikan Bali sebagai destinasi utama kini justru beralih konsentrasi di Yogyakarta, pertimbangan seperti aksesibilitas jalur darat utamanya revitalisasi melalui tol dan transportasi darat seperti kereta api yang jauh lebih terjangkau bagi sebagian besar masyarakat luas. Melalui Dinas Perhubungan, Yogyakarta diprediksi menerima hingga tujuh juta wisatawan yang mencari alternatif wisata budaya dan edukatif dengan biaya hidup lebih rendah, semetara Bali mulai kehilangan daya tarik bagi segmen domestik akibat mahalnya tiket pesawat Jakarta-Bali khususnya, yang berdasarkan data mencapai angkat Rp3,5 juta per orang, lalu diikuti oleh masalah kronis terkait sampah, kemacetan urban, dan salah satunya yang klasik overtourism.
Implikasi dari pergeseran spasial dan alur wisata ini memberikan dampak ganda bagi pendapatan perseorangan dan para pelaku usaha lokal khususnya, di lain sisi menjadi peluang emas bagi UMKM di Yogyakarta untuk menyerap potensi perbelanjaan melalui beberapa layanan, namun hal ini juga menjadi “peringatan” keras bagi Bali untuk segera mereformasi tata kelola destinasi agar tidak hanya fokus pada pangsa pasar mancanegara. Langkah preventif perlu difokuskan pada penguatan pariwisata inklusif yang melibatkan masyarakat lokal secara langsung melalui pengambilan keputusan dan interupsi internal, guna memastikan bahwa setiap pendapatan yang dikeluarkan wisatawan benar-benar berimplikasi pada kawasan tersebut dan menutup adanya kebocoran ekonomi yang lebih sering menguntungkan korporasi skala besar.
Melalui fenomena pergeseran ruang berwisata akhir tahun ini, menggugah kesadaran kita bahwa pilihan destinasi wisata saat ini bukan sekedar masalah “selera” dan “preferensi”, tetapi sebuah cermin dari strategi pertahanan finansial keuangan Indonesia dalam menghadapi badai ekonomi yang diperkirakan akan mencapai puncaknya pada tahun 2026 mendatang. Dengan demikian, penekanan akhir ini menegaskan bahwa masa depan pariwisata nasional tidak hanya ditentukan melalui seberapa mewah fasilitas yang ditawarkan, tetapi juga kualitas industri dalam memberikan layanan ramah, autentisitas, dan keberlanjutan bagi alam maupun manusia dalam dinamika ekonomi yang kian krusial.
Artikel ini diterbitkan di laman womentourism.id| 06 Januari 2026
Writer:
Hanum Zatza Istiqomah
An active undergraduate student majoring in Tourism at Gadjah Mada University with an interest in social, cultural, and sustainability issues.
Referensi:
-
Barometer Bali. (2025). Bali Tourism Review 2025 dan Outlook 2026 Bahas Strategi Daya Saing Pariwisata Bali -. Barometerbali.com. https://barometerbali.com/bali-tourism-review-2025-dan-outlook-2026-bahas-strategi-daya-saing-pariwisata-bali/
-
Bisniswisata. (2026). Menerawang Pariwisata Indonesia 2026 - Bisniswisata. Bisniswisata.co.id. https://bisniswisata.co.id/menerawang-pariwisata-indonesia-2026/
-
Katadata. (2025). Bali Sepi, Yogyakarta Bergeliat: Benarkah Tren Destinasi Wisata RI Bergeser? Katadata.co.id. https://katadata.co.id/berita/industri/694b9ec9612b1/bali-sepi-yogyakarta-bergeliat-benarkah-tren-destinasi-wisata-ri-bergeser
-
Kontan. (2025). World Bank Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2025 dan 2026 Stagnan di Level 5,1%. Kontan.co.id; Kontan. https://nasional.kontan.co.id/news/world-bank-proyeksi-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-2025-dan-2026-stagnan-di-level-51
-
Media Indonesia. (2025). Analisis Peringatan Krisis 2026 Menurut Faisal Basri: Data dan Fakta Terkini. EpaperMI; Media Indonesia. https://epaper.mediaindonesia.com/detail/analisis-peringatan-krisis-2026-menurut-faisal-basri-data-dan-fakta-terkini
-
Mulamula. (2025). Bali di Masa Depan, Jadi Wisata Berkelanjutan atau Tumbang karena Overtourism? MulaMula. https://mulamula.id/bali-di-masa-depan-jadi-wisata-berkelanjutan-atau-tumbang-karena-overtourism/
-
RRI. (2025). Mengenal Lebih Dalam Tren Wisata 2026, Berikut Penjelasannya!https://rri.co.id/wisata/2080507/mengenal-lebih-dalam-tren-wisata-2026-berikut-penjelasannya
-
Sindonews. (2025). Bali Ditinggal, Jogja Jadi Primadona Wisatawan Lokal. SINDOnews Ekbis; SINDOnews.com. https://ekbis.sindonews.com/read/1660403/34/bali-ditinggal-jogja-jadi-primadona-wisatawan-lokal-1766754754
-
Tempo. (2025). World Bank Forecasts 5 Percent Growth for Indonesia in 2026. Tempo English; TEMPO.CO. https://en.tempo.co/read/2073866/world-bank-forecasts-5-percent-growth-for-indonesia-in-2026
-
Times Indonesia. (2025). Menutup 2025, Menatap 2026: Angka Ekonomi Tumbuh, Rasa Cemas Belum Turun. https://timesindonesia.co.id/read/news/571796/menutup-2025-menatap-2026-angka-ekonomi-tumbuh-rasa-cemas-belum-turun
-
Sumber foto: Ilustrasi menggunakan Canva