Dari Pandora ke Dunia Nyata: Perempuan, Alam, dan Pariwisata Berkelanjutan

10 Januari 2026

Film Avatar terbaru kembali menarik perhatian dunia, bukan hanya karena visualnya yang memukau, tetapi juga karena nilai-nilai kehidupan yang dihadirkannya. Dunia Pandora digambarkan sebagai ruang hidup yang bertumpu pada hubungan erat antara alam, budaya, dan komunitas. Dalam tatanan ini, perempuan tidak sekadar hadir sebagai pelengkap cerita, melainkan memegang peran penting sebagai penjaga keseimbangan kehidupan.

 

Salah satu figur sentral dalam budaya Na’vi adalah Tsahìk. Tsahìk biasanya adalah perempuan yang memiliki kedudukan penting dalam komunitas, terutama dalam ranah spiritual dan budaya. Ia berperan sebagai penghubung antara manusia, alam, dan roh leluhur, sekaligus menjadi penyembuh, pemimpin doa, dan penjaga pengetahuan adat. Posisi Tsahìk menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan di Pandora tidak selalu hadir dalam bentuk kekuasaan formal, tetapi melalui pengetahuan, perawatan, dan kebijaksanaan yang menjaga keberlangsungan komunitas. Representasi Tsahìk memberi gambaran bahwa keberlanjutan hidup di Pandora sangat bergantung pada peran perempuan dalam merawat hubungan, baik dengan alam, sesama manusia, maupun dimensi spiritual. Perempuan dipercaya memegang pengetahuan yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga nilai-nilai yang mengikat komunitas secara moral dan budaya. Tanpa peran ini, keseimbangan kehidupan di Pandora akan rapuh. Jika ditarik ke dunia nyata, khususnya dalam konteks pariwisata berbasis alam dan budaya, peran serupa juga banyak dijalankan oleh perempuan lokal. Di berbagai destinasi wisata, perempuan menjadi penjaga tradisi, pengelola ritual budaya, perawat ruang domestik yang terbuka bagi wisatawan, hingga penyedia pengalaman yang dianggap “otentik”. Namun, berbeda dengan posisi Tsahìk yang dihormati dan diakui secara jelas, peran perempuan dalam pariwisata seringkali dianggap sebagai kewajiban alami, bukan kontribusi profesional yang layak mendapatkan perlindungan dan pengakuan.

 

Pariwisata kerap mengangkat narasi tentang keindahan alam dan kekayaan budaya, tetapi jarang menyoroti siapa yang menjaga semua itu tetap hidup. Perempuan sering berada di garis depan perawatan, memasak, membersihkan, menyambut, merawat, dan memastikan kenyamanan tanpa jaminan kerja yang memadai atau ruang untuk terlibat dalam pengambilan keputusan. Kerja-kerja ini mirip dengan peran Tsahìk sebagai penjaga kehidupan, namun dalam praktik pariwisata, nilai dan martabatnya tidak selalu dihargai secara setara. Avatar mengingatkan bahwa eksploitasi alam tidak bisa dipisahkan dari eksploitasi manusia. Ketika pariwisata hanya mengejar keuntungan dan citra keberlanjutan, perempuan berisiko terus diposisikan sebagai penyangga yang bekerja di balik layar. Padahal, pariwisata yang benar-benar berkelanjutan membutuhkan pengakuan terhadap peran perempuan, bukan hanya sebagai pelaksana, tetapi sebagai pemegang pengetahuan, pengambil keputusan, dan penjaga nilai budaya.

 

Belajar dari figur Tsahìk di Pandora, pariwisata berbasis alam dan budaya seharusnya menempatkan perempuan sebagai aktor penting yang dihormati, dilindungi, dan dilibatkan secara adil. Keberlanjutan tidak hanya soal menjaga lingkungan dan budaya, tetapi juga tentang menjaga manusia, terutama perempuan yang selama ini menopang keduanya. Tanpa perspektif tersebut, pariwisata berisiko hanya meromantisasi alam dan budaya, sambil mengabaikan mereka yang menjaganya setiap hari.

 

Artikel ini diterbitkan di laman womentourism.id| 10 Januari 2026

 

Writer:

Sylviatul Muthqia

An active undergraduate student majoring in Tourism at Gadjah Mada University with an interest in women's empowerment issues.

 

Referensi:

Sumber foto: joelbebi