Kedai Sehat Pagesangan: Swasembada Pangan Dari Kelompok Perempuan Sekolah Pagesangan

Kedai Sehat Pagesangan merupakan usaha lokal dari Wintaos, Girimulyo, Kab. Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Usaha lokal ini fokus kepada produksi bahan pangan serta produk hasil jadi yang dikelola oleh Sekolah Pagesangan, sebuah sekolah komunitas yang didirikan oleh Bu Diah Widuretno untuk mewadahi masyarakat meningkatkan potensi dalam belajar swasembada pangan. Kedai Sehat Pagesangan sendiri ada sejak tahun 2013. Menariknya produk-produk yang dijual sehat dan berkualitas. Selain itu mereka produksi dari awal proses menanam hingga panen loh! Adapun produk-produk yang dijual seperti thiwul instan, tempe koro,  beras merah lokal, kacang-kacangan, serta hasil olahan seperti kripik singkong, kripik pisang, sale pisang, krupuk singkong, dan lain-lain. Melokal sekali ya dan tentunya sehat.

Melihat Potensi dan Memberdayakan Perempuan

Adanya Kedai Sehat Pagesangan tak lepas dari keresahan seorang wanita bernama Bu Diah Widuretno melihat Wintaos, Girimulyo yang sebenarnya mempunyai potensi tidak hanya tentang kekayaan alam yang ada pada desa tersebut, namun juga ada potensi dalam masyarakatnya. Berangkat dari itu, Bu Diah membuat Sekolah Pagesangan, sebuah sekolah non formal yang mengajarkan pendidikan yang lekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

 

(Sumber Dok : @kedaisehatpagesangan_gk)

 

Dari situ anak-anak hingga orang dewasa dikenalkan dengan hal-hal yang ada pada lingkungannya, tentang menanam, berkebun hingga manfaat apa yang bisa diambil dari lingkungan sekitarnya. Bertahun-tahun dijalani untuk mendekatkan diri ke masyarakat hingga memberdayakan masyarakat sekitar untuk turut andil dalam memanfaatkan lahan untuk ketahanan pangan masyarakat. Hingga pada tahun 2013 dibentuk Kelompok Perempuan Sekolah Pagesangan untuk memberdayakan perempuan-perempuan dari anak muda hingga usia tua memproduksi hasil panen menjadi produk-produk yang siap jual.

Pendidikan, Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan

Melalui Sekolah Pagesangan yang menjadi tempat menempuh pendidikan para perempuan dan masyarakat dalam mengembangkan usaha, mereka melakukannya dengan penuh ketekunan meskipun ada hambatan dalam hal promosi. Bisnis yang dikembangkan murni dari hasil kerja keras mereka yang ada di Kelompok Perempuan Sekolah Pagesangan. Para perempuan saling bekerjasama untuk hasil yang terbaik. Perempuan-perempuan yang berusaha berdaya tak hanya dalam mengembangkan usaha namun ketahanan pangan yang juga menjadi faktor utama untuk tetap berdaya. Perempuan-perempuan dari usia 20 tahun hingga usia tua mengambil peran untuk memproduksi dan memasarkan produk hasil panennya. Pendidikan non formal seperti yang dilakukan Sekolah Pagesangan menjawab permasalahan perempuan-perempuan dan masyarakat disana yang memiliki potensi namun tidak mengetahui bagaimana cara memasarkan produknya.



(Sumber Dok : @kedaisehatpagesangan_gk)

 

Usaha Lokal Yang Mengedukasi

Kedai Sehat Pagesangan adalah usaha lokal yang tidak pelit ilmu dan kerap membagikan cerita asal mula produknya hingga kerap berbagi tips memasak dari bahan pangan yang dijualnya. Contohnya pada laman Instagram @kedaisehatpagesangan_gk mereka menjelaskan informasi tentang Thiwul instan atau warga Gunungkidul sering menyebutnya “Goge”. Pada awalnya Thiwul instan atau Goge ini seringkali sengaja dibuat sebagai cara untuk menyimpan stok pangan.Keluarga-keluarga petani di Gunungkidul memiliki tradisi menyimpan stok pangan untuk mengamankan pangan keluarga dari satu panen hingga ke panen berikutnya. Thiwul instan merupakan thiwul matang yang dikeringkan secara alami oleh sinar matahari. Karena sangat kering, jika disimpan dengan baik, terlindung dari hama dan kelembaban Thiwul ini bisa tahan hingga satu tahun lebih meski tanpa pengawet kimia. Selain menjabarkan sedikit informasi tentang Thiwul instan/ Goge, Kedai Sehat Pagesangan tak pelit untuk berbagi informasi tentang cara pembuatan Thiwul instan/Goge. Selain itu ada banyak lagi informasi yang sering dibagikan pada laman sosial medianya. Wahh edukatif sekali ya!

 

(Sumber Dok : @kedaisehatpagesangan_gk)

 

Produk Sehat Kaya Manfaat

Kedai Sehat Pagesangan mengenalkan kepada masyarakat keberagaman produk yang dijualnya kaya akan manfaat. Seperti misalnya makanan khas Indonesia yaitu tempe. Tempe kini dikenal di berbagai penjuru Indonesia bahkan sudah mendunia. Uniknya di Kedai Sehat Pagesangan ini membuat produk tempe yang tidak menggunakan kedelai. Mereka menggunakan kacang-kacangan yang biasa ditanam dan dibudidayakan petani-petani Gunungkidul. Kacang yang digunakan untuk mengolah tempe di Kedai Sehat Pagesangan ini adalah kacang koro sehingga produk yang dihasilkan yaitu Tempe Koro. Untuk seseorang yang alergi dengan kacang kedelai, Tempe Koro Kedai Sehat Pagesangan ini dapat menjadi alternatif yang tepat untuk dikonsumsi. Tempe Koro bisa diolah lagi menjadi berbagai jenis masakan seperti tempe bacem, tempe garit, mendoan hingga kering tempe. Pengemasannya pun tradisional menggunakan daun jati yang ramah lingkungan. Selain Tempe Koro, ada produk kacang-kacangan seperti kacang tanah, kacang ijo, kacang gude, kacang kedelai hitam dan kacang tholo. Semua kacang-kacangan ditanam oleh petani di ladang area Girimulyo dan sekitarnya dengan cara bertani tradisional tanpa menggunakan urea maupun pestisida kimia. Kedai Sehat Pagesangan pun menjelaskan bahwa ketika mengkonsumsi pangan tersebut, kita sama halnya berpihak dengan kesehatan tubuh diri sendiri, turut mendukung upaya penguatan & pemberdayaan petani pengolah pangan lokal dan juga mendukung upaya pelestarian alam dan pangan lokal. Masih ada banyak lagi produk-produk yang dihasilkan dan dikembangkan oleh Kedai Sehat Pagesangan ini.

 

 (Sumber Dok : @kedaisehatpagesangan_gk)
 
Tertarik untuk mencoba produk olahannya? Teman-teman bisa menghubungi via Instagram @kedaisehatpagesangan_gk dan juga tersedia di platform e-commerce. Kedai Sehat Pagesangan akan menyajikan produk yang tentu saja sehat dan rasa otentik akan membawa kita mengenal lebih dekat kekhasan daerah di Indonesia terutama Yogyakarta.
 
 
 
 

Ditulis oleh: Kharisma Erlambang

Artikel ini dipublikasikan pada laman womentourism.id | 17 Juni 2022