Women In Diving #2 UW Female Researchers

16 Agustus 2020

Hello fellow companions!

Kamis, 6 Agustus 2020, Sentra Selam Jogja kembali menyelenggarakan rangkaian seri dari salah satu talkshow, yakni “Women in Diving #2 UW Female Researchers”. Webinar kali ini membahas mengenai pengalaman beberapa peneliti perempuan yang fokus dalam riset kelautan. Diikuti oleh sekitar 30 peserta, webinar kali ini berlangsung dari pukul 13.00-15.00 dengan pemaparan materi dari 3 narasumber.

Sentra Selam Jogja menghadirkan tiga orang narasumber, yaitu Kak Ni Wayan Purnama Sari, akrab dipanggil Kak Sari sebagai Peneliti Kesehatan Ekosistem Laut P20 LIPI, Kak Maulita Hutapea, akrab dipanggil Kak Lita sebagai Elasmobranch Project Coordinator Conservation International Indonesia, dan yang terakhir ada Kak Ellisnawaty, akrab dipanggil Kak Ellis sebagai instruktur selam dan pemilik Alexa Scuba.

Kak Sari, mengawali presentasinya dengan menjelaskan secara singkat mengenai spesialisasinya sebagai peneliti terumbu karang. Penelitian terumbu karang yang dilakukan oleh Kak Sari meliputi studi potensi karang hias, pemulihan karang, restorasi, monitoring terumbu karang, dan rehabilitasi karang. Potensi yang sangat beragam di Indonesia menjadikannya salah satu negara pengekspor karang terbesar di dunia. Hal itu menjadi salah satu motivasi Kak Sari menekuni bidang penelitian. Selain itu, menjadi bagian dari komunitas diver perempuan di Indonesia juga menjadi kebanggaan tersendiri yang memotivasinya memulai karir sebagai peneliti.

Women In Diving #2 UW Female Researchers (Dok.Istimewa)

Kak Sari menjelaskan beberapa tantangan yang dihadapi peneliti-peneliti terumbu karang di Indonesia. Daya saing yang masih rendah dibandingkan dengan peneliti asing menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi. Daya saing yang masih rendah juga sejalan dengan terbatasnya peralatan untuk para peneliti terumbu karang. Kemudian, proteksi (asuransi) lingkup nasional untuk tenaga kerja khusus menyelam belum ada. Pekerja selam seringkali terhambat dengan regulasi pemerintah yang terlalu rumit dan belum optimal.

Diakhir presentasinya, Kak Sari memaparkan peluang menjadi peneliti terumbu karang perempuan di Indonesia sangat lah besar. Sumber daya hayati yang dimiliki Indonesia sangat beranekaragam belum sebanding dengan jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) nya, terutama perempuan. Peneliti terumbu karang saat ini masih didominasi oleh laki-laki. Kak Sari sendiri merupakan perempuan peneliti terumbu karang satu-satunya di Peneliti Kesehatan Ekosistem Laut P20 LIPI.

Perspektif lain diberikan oleh Kak Lita yang fokus mengembangkan program konservasi hiu dan pari. Program tersebut bertujuan untuk konservasi kawasan dan satwa yang dapat mendukung pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Hiu paus dan Pari Manta menjadi target satwa yang dikonservasi khususnya di wilayah Papua Barat dan Nusa Tenggara Barat. Sejauh ini, penelitian mengenai dua biota laut ini masih sangat jarang karena peralatan yang dibutuhkan masih terbatas dan spesies ini hanya dapat ditemukan di beberapa titik saja di Indonesia.

Pendidikan menjadi aspek yang sangat penting bagi Kak Lita untuk berani mengembangkan diri dan bekerja. Kecintaannya akan biota yang ada di Indonesia akhirnya menjadi salah satu motivasi dalam menjalankan program tersebut. Menjadi seorang perempuan, Kak Lita selalu haus akan hal-hal baru yang menurutnya menarik untuk dipelajari. Selain itu, Kak Lita juga melihat pemanfaatan biota laut sebagai daya tarik wisata juga dapat menjadi ancaman bagi kelangsungan ekosistem biota laut tersebut. Semua kegiatan yang dilakukan berbasis ilmu pengetahuan, baik satwa, ekosistem, maupun sosialnya. Kak Lita sendiri berharap berbagai kajian yang dilakukan pada program konservasi Hiu Paus dan Pari Manta tersebut dapat memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pengelolaan pariwisata berkelanjutan. Pada tataran yang lebih makro, harapannya dapat mendorong adanya kebijakan-kebijakan yang mengedepankan aspek keberlanjutan

Pada sesi terakhir menjadi milik Kak Ellis, seorang instruktur selam dan pemilik Alexa Scuba. Pengalaman Kak Ellis sebagai instruktur selam profesional di Indonesia selama bertahun-tahun memberikan gambaran mengenai masih sedikitnya masyarakat lokal yang terlibat. Berawal dari hal tersebut, akhirnya mendirikan Alexa Scuba dengan tujuan utama ingin memberikan dukungan kepada masyarakat lokal untuk mampu menjadi diver dan instruktur selam profesional.

Selama kurang lebih 8 tahun merintis Alexa Scuba, sudah ratusan murid yang menjadi diver dan instruktur selam profesional. Melalui upaya edukasi yang diberikan, Kak Ellis berharap semakin banyak diver dan instruktur selam di berbagai destinasi wisata yang ada di Indonesia. Di akhir presentasi, Kak Ellis juga memberikan motivasi kepada perempuan lokal di berbagai destinasi wisata untuk mampu menjadi diver dan instruktur selam profesional.

Berbagai pengalaman yang dipaparkan oleh ketiga narasumber memberikan informasi kepada kita mengenai peran dan kontribusi peneliti perempuan yang ada di Indonesia, khususnya pada riset kelautan. Siaran ulang talkshow ini juga dapat disaksikan di laman youtube Sentra Selam Jogja.

 

(Afifah Ulfa)

Artikel ini dipublikasikan oleh womentourism.id | 16 Agustus 2020