WTIDcamp Week 4.2: Enhancing Economic resources: Gender Mainstreaming in Promotions, Marketing and Development

29 Oktober 2021

Varrel Vendira

Minggu, 24 Oktober 2021

Hello, berjumpa kembali fellow companions! Tidak terasa ini adalah materi Week 4.2 alias materi terakhir dari WTIDcamp batch 2021 yang diselenggarakan oleh Women Tourism Indonesia. Pada Week 4.2 ini materi yang disampaikan megenai Enhancing Economic Resource: Gender Mainstreaming in Promotions, Marketing and Development oleh Kak Varrel Vendira. Kak Varrel, guru kita pada Week 4.2 merupakan bagian dari tim Policy & Community Affairs Specialist DANA Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, kegiatan belajar dibuka dengan pemaparan materi mengenai perencanaan. Kak Varrel menjelaskan bahwa perencanaan merupakan suatu proses penting dalam melaksanakan sebuah proyek. Perencanaan proyek secara sederhana dapat dipahami sebagai suatu proses mendokumentasikan tahapan yang akan dilakukan untuk mencapai suatu tujuan dalam rentan waktu tertentu. Aspek tujuan menjadi penting dalam sebuah perencanaan tanpa mengesampingkan proses yang terjadi di dalamnya. Perencanaan dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari proses awal-tengah-akhir sebuah proyek. Perencanaan juga dilakukan futuristic, yang mana memiliki pandangan masa depan apa yang akan menjadi tujuan. Selain itu, perencanaan juga sebagai kegiatan manajerial yang tidak lepas dari aspek pengambilan keputusan (decision making).

Terdapat beberapa keuntungan melakukan perencanaan, diantaranya dapat lebih fokus dengan tujuan, meminimalisir ketidakpastian dalam sebuah proyek, dan kita dapat lebih mudah untuk memantaunya karena sudah memiliki indikator. Penting dalam sebuah proyek memiliki indikator yang dapat diukur secara pasti untuk memastikan kesuksesan sebuah projek. Kemudian, adanya inovasi dan kreatifitas ketika sudah melakukan perencanaan sedari awal. Adanya perencanaan juga dapat membantu sebuah organisasi berjalan secara efektif.

Perencanaan dapat dimulai dengan pertama proses Conception & Initiation, inisiasi dan rencana awal dari proyek yang akan dilakukan. Kedua, proses Definition & Planning, mendefinisikan proyeknya berkaitan dengan cakupan, biaya, jadwal kegiatan, dan resiko yang kemungkinan muncul. Ketiga, proses Launch or Execution, melakukan proyek yang sudah direncanakan. Keempat, melakukan proses performance & control, melakukan proses monitoring dan evaluasi selama berlangsungnya proyek. Terakhir, project close dengan melakukan pelaporan terkait target dan tujuan dari proyek. 

 

Kemudian, setelah mengetahui tahapan-tahapan apa saja yang terdapat di dalam suatu perencanaan dan hal-hal apa saja yang mempengaruhi proses perencanaan maka tahapan selanjutnya adalah pentingnya memahami permasalahan apa yang sebenarnya melatarbelakangi perencanaan tersebut, fellow companions. Kak Varrel lebih lanjut memaparkan bahwa suatu permasalahan itu ibarat sebuah pohon. Akar dari pohon (Root Causes) dapat diumpamakan sebagai sebab-sebab suatu permasalahan terjadi. Kemudian, batang pohon (Core Problem) dapat dimaknai sebagai inti dari suatu permasalahan, dan daun-daun dari pohon (Effects) diibaratkan sebagai dampak-dampak yang ditimbulkan oleh suatu permasalahan. 

 

Pada kesempatan tersebut, salah satu contoh dari Core Problem coba dipaparkan oleh kelompok 3 yang memilih studi kasus di Candi Borobudur. Perwakilan dari kelompok 3 memaparkan bahwa salah satu permasalahan utama (Core Problem) yang ditemui di dalam pengelolaan Candi Borobudur adalah masifnya jumlah kunjungan wisatawan (sebelum Covid-19) ke Candi Borobudur yang tidak lain adalah bangunan cagar budaya sehingga berdampak pada pengikisan relief-relief dan bangunan pada candi. Adapun, Kak Varrel mencoba mengelaborasi lebih dalam lagi permasalahan yang terjadi pada Candi Borobudur sebagaimana yang dijelaskan oleh kelompok 3 dengan mencermati akar permasalahannya (Root Causes) terlebih dahulu seperti kurangnya pengawasan di area Candi Borobudur dan belum ada regulasi yang mengatur jarak antar pengunjung. Oleh sebab itu, dampak (Effects) yang dapat ditimbulkan pada studi kasus tersebut adalah berkurangnya kenyamanan  yang dirasakan pengunjung dan storytelling mengenai sejarah Candi Borobudur yang tidak tersampaikan dengan baik kepada pengunjung. 

 

Fellow companions, ketika menyusun suatu perencanaan selain dengan mengamati permasalahan nya terlebih dahulu, dapat juga dilakukan dengan model PESTLE (Political, Economic, Social, Technological, Legal, dan Environmental). Kak Varrel menjelaskan bahwa dengan  model PESTLE tersebut kita dapat mengetahui potensi-potensi permasalahan apa saja yang dapat terjadi pada perencanaan suatu proyek.  Secara garis besar aspek Political pada model PESTLE mencakup Political Stability, Corruption, Foreign Trade Policy, Tax Policy, dan Funding Grants. Sedangkan aspek Economic meliputi Economic Growth, Interest Rates, Inflation, Disposable income of Consumers, dan Labour Cost. Aspek Social mencakup Population Growth, Age Distribution, Cultural Barriers, Consumer Views, dan Workforce Trends. Kemudian, aspek Technological mencakup Emerging Technologies, Maturing Technologies, dan Research & Investment. Selanjutnya aspek Legal meliputi Regulation, Employment Laws, dan Consumer Protection Laws. Terakhir, aspek Environmental terdiri dari Climate, Environmental Policies, Availability of inputs, dan Corporate Responsibility

Setelah mengetahui permasalahan apa yang sesungguhnya melatarbelakangi kita dalam merencanakan suatu proyek, langkah selanjutnya adalah menentukan goals apa saja yang ingin kita capai dalam proyek tersebut. Dalam menentukan goals atau tujuan tersebut kita harus mampu menjawab 4 pertanyaan berikut ini:  Apa yang akan menjadi outcome dari goals tersebut? Bagaimana outcome tersebut memiliki dampak positif? Bagaimana kita mengetahui bahwa outcome nya sudah tercapai? dan akan seperti apa indikator ketercapaiannya nanti? Selain itu, Kak Varrel juga menjelaskan bahwa terdapat logika sederhana dalam mencapai suatu goals yang terdiri dari input, proses, dan output yang nantinya akan menghasilkan suatu impact atau perubahan. Adapun, langkah berikutnya dari merencanakan proyek adalah menentukan how to “sell” your solution. Pada pembahasan ini Kak Varrel memberikan contoh penggunaan storytelling sebagai solusi yang yang ditawarkan. Contoh penerapan storytelling adalah ketika kelompok masyarakat selaku pengelola ingin mempromosikan destinasi atau objek wsiata di daerah mereka maka hal pertama yang dilakukan adalah mencari cerita yang dapat diangkat yang bersumber dari pengalaman masyarakat lokal di tempat tersebut. Kemudian, menyusun cerita tersebut dengan sedemikian rupa agar lebih menarik dan mudah dipahami oleh calon wisatawan atau pengunjung. Kak Varrel juga berpesan, ketika melakukan storytelling jangan lupa untuk memaparkan bentuk input, proses, output serta impact atau perubahan apa yang telah diusahakan oleh masyarakat selaku pengelola sehingga pada akhirnya storytelling yang disampaikan dapat menggugah hati para calon wisatawan untuk datang berkunjung.

 

Demikian garis besar materi pada Week 4.2 yang dibawakan oleh Kak Varrel Vendira. Dengan berakhirnya pemaparan garis besar materi ini, maka berakhir pula perjumpaan kita pada notulensi WTIDcamp batch 2021. Sampai bertemu pada WTIDcamp batch 2022, fellow companions!

 

Holy Cloudia, Afifah Lulu, dan Shafa Amalia

 
Dipublikasikan pada 29 Oktober 2021 di laman womentourism.id