Para Perempuan yang Mengambil Kembali Perairan Tradisional Venesia

12 September 2026

Awal September 2026, The Guardian menerbitkan liputan foto dan reportase panjang bertajuk “Memory of Water: The Women Reshaping Venice”, hasil kerja jurnalis Anna Toniolo dan fotografer Daniela Sala yang menghabiskan waktu antara November 2025 hingga Maret 2026 mendokumentasikan perempuan-perempuan yang hidup dan bekerja di sekitar laguna Venesia (Toniolo & Sala, 2026). Liputan ini menyoroti sederet perempuan yang mulai memasuki profesi-profesi yang secara historis nyaris seluruhnya dikuasai laki-laki, mulai dari gondolier, pembuat perahu tradisional atau maestra d'ascia, pendayung kompetitif, hingga pengrajin kaca Murano. Namun yang membuat liputan ini menarik secara akademik bukan sekadar narasi “perempuan berhasil menembus profesi maskulin”, melainkan pertanyaan yang lebih mendasar yang ia ajukan secara implisit, yaitu siapa sebenarnya yang berhak berpartisipasi dalam mendefinisikan dan melestarikan warisan budaya sebuah kota.

Di Venesia, air bukan sekadar latar estetis bagi wisatawan yang berfoto di atas gondola. Kanal-kanal kota, yang jumlahnya sekitar 150 jalur yang dapat dilayari, berfungsi sebagai jalan raya utama tempat pekerjaan, transportasi, dan interaksi sosial berlangsung. Dengan kata lain, ruang air di Venesia adalah ruang publik itu sendiri. Reportase ini mencatat bahwa selama berabad-abad, ruang publik ini diatur oleh aturan eksplisit maupun kode implisit yang secara luas mengecualikan perempuan, sebuah pola yang oleh penulisnya disamakan dengan bagaimana perempuan di banyak kota lain secara historis dipinggirkan dari jalanan (ibid.). Ironisnya, banyak tradisi khas Venesia justru berakar dari tenaga kerja perempuan, misalnya dalam pembuatan renda dan tekstil, namun perempuan tetap dikecualikan dari ruang yang justru menjadi penanda identitas budaya kota tersebut, yakni air.

Fakta di lapangan menunjukkan betapa lambatnya perubahan ini. Giorgia Boscolo baru menjadi perempuan pertama yang meraih lisensi gondolier resmi pada 2010, memecahkan tradisi berusia berabad-abad. Sebagai perbandingan, sesama gondolier mencatat bahwa dari sekitar 440 gondolier berlisensi dan 200 gondolier cadangan yang telah lulus ujian di Venesia, jumlah perempuan yang benar-benar aktif berprofesi masih bisa dihitung dengan jari, meski semakin banyak perempuan yang lulus ujian kualifikasi dalam beberapa tahun terakhir. Di bidang pembuatan perahu tradisional, Silvia Scaramuzza tercatat sebagai satu-satunya maestra d'ascia atau tukang perahu perempuan di kota tersebut, yang membuka bengkelnya sendiri pada 2022 setelah satu dekade magang di galangan perahu lain. Sementara di industri kaca Murano yang legendaris, Agnese Tegon tengah berupaya menjadi perempuan pertama yang meraih gelar maestro pembuat kaca, sebuah bidang yang digambarkan masih sangat menuntut secara fisik dan didominasi laki-laki (ibid.).

Untuk memahami mengapa proses ini berjalan begitu lambat dan mengapa hal ini penting secara budaya, kerangka teori warisan budaya kritis dari akademisi Laurajane Smith relevan digunakan. Dalam karyanya “Uses of Heritage”, Smith memperkenalkan konsep Authorized Heritage Discourse atau Wacana Warisan yang Terotorisasi, yang menjelaskan bahwa nilai suatu warisan budaya tidak pernah melekat secara inheren pada suatu objek, praktik, atau tempat, melainkan dikonstruksi melalui wacana dominan yang menentukan siapa yang dianggap sebagai “ahli”, praktik mana yang dianggap otentik, dan siapa yang berwenang menjaga serta meneruskannya (Smith, 2006). Wacana ini, menurut Smith, terkait erat dengan relasi kekuasaan dan pengetahuan, karena ia menentukan siapa yang layak dianggap sebagai penjaga sah suatu tradisi dan siapa yang dianggap berada di luar lingkaran tersebut. Dalam konteks Venesia, profesi gondolier, pembuatan perahu, dan pengolahan kaca bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan bagian dari “wacana warisan yang terotorisasi” yang secara historis mendefinisikan siapa yang berhak menjadi pewaris sah identitas budaya kota tersebut, dan definisi itu, selama berabad-abad, sangat bergender.

Pola pengecualian ini bukan sesuatu yang unik bagi Venesia semata. Kajian sejarah mengenai serikat kerajinan atau guild di Eropa pada abad ketujuh belas dan delapan belas mencatat bahwa pengecualian perempuan dari keanggotaan guild merupakan aspek yang nyaris universal di seluruh Eropa, sebagian didorong oleh larangan eksplisit berbasis gender yang diperkuat oleh struktur patriarki, terutama sejak era Reformasi (Prak dkk., 2020). Pengetahuan dan keterampilan teknis dalam sistem magang semacam ini umumnya diwariskan dari ayah ke anak laki-laki atau dari mentor ke murid magang, sebuah pola transmisi yang menutup akses perempuan bukan karena larangan formal semata, melainkan karena struktur pewarisan pengetahuan itu sendiri dirancang secara gender (Springer Nature, “Apprenticeship, Guilds, and Craft Knowledge”). Pola serupa juga ditemukan pada praktik warisan budaya takbenda lain yang diakui UNESCO, misalnya tradisi menangkap udang menggunakan kuda di pesisir Oostduinkerke, Belgia, yang secara historis diasosiasikan dengan laki-laki dan diwariskan dari ayah ke anak, sebelum akhirnya mulai terbuka bagi perempuan (Women in Seafood International, 2022). Contoh ini menegaskan bahwa gender dalam warisan budaya bukanlah sesuatu yang tetap dan alamiah, melainkan norma yang dapat, dan pada kenyataannya sedang dinegosiasikan ulang.

Hal yang menjadikan fenomena di Venesia relevan secara akademik adalah bagaimana ia menampilkan perempuan bukan sebagai penerima pasif perubahan, melainkan sebagai aktor yang secara sadar memperjuangkan pengakuan. Marta Canino, misalnya, mendirikan “Fie a Manetta” pada 2020, sekolah navigasi perahu bermotor pertama dan satu-satunya di Venesia yang dijalankan oleh perempuan dan terbuka untuk siapa saja. Dalam liputan tersebut, Canino menyatakan bahwa perempuan perlu mulai saling mengakui serta memberikan nilai sosial dan bobot politik terhadap peran mereka di kota tersebut (Toniolo & Sala, 2026). Pernyataan ini menunjukkan bahwa bagi para perempuan tersebut, kehadiran di ruang air bukan sekadar soal mencari nafkah, melainkan juga soal legitimasi dan pengakuan atas suara mereka dalam mendefinisikan identitas kota. Hal serupa tercermin dalam ajang Regata delle Caorline khusus perempuan yang diselenggarakan setiap tahun bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, tempat tiga belas tim pendayung perempuan dari berbagai usia berkompetisi sekaligus menegaskan keberadaan mereka di ruang yang secara historis eksklusif maskulin (ibid.).

Meski demikian, penting untuk tidak terburu-buru merayakan fenomena ini sebagai kemenangan penuh atas kesetaraan. Reportase tersebut sendiri mencatat bahwa perubahan ini berlangsung “perlahan dan sering kali tanpa deklarasi besar” (ibid.). Jumlah perempuan yang benar-benar menembus profesi-profesi ini masih sangat kecil dibandingkan skala industri secara keseluruhan, dan pengecualian yang mereka hadapi bukan berbentuk larangan formal, melainkan tradisi yang tertanam dalam kehidupan sehari-hari, yang justru lebih sulit diubah dibandingkan sekadar aturan tertulis. Dalam kerangka Smith, kehadiran perempuan dalam jumlah kecil ini dapat dibaca sebagai kontestasi awal terhadap wacana warisan yang terotorisasi, bukan sebagai bukti bahwa wacana tersebut telah sepenuhnya berubah. Pertanyaan “siapa yang berhak mendefinisikan warisan budaya Venesia” karenanya tetap menjadi pertanyaan terbuka, satu yang jawabannya sedang, sedikit demi sedikit, ditulis ulang oleh perempuan-perempuan yang memilih untuk turun ke air.

 

Artikel ini diterbitkan di laman womentourism.id| 12 September 2026

Writer: 

Auliya Putri Britania

An active undergraduate student majoring in Tourism at Gadjah Mada University with an interest in social, cultural, and sustainability issues.

 

Sumber:

Adventure.com, “Be your own gondolier in Venice with this female-run rowing organization”: https://adventure.com/row-venice-women-canareggio-venetian-gondoliers/ 

“Apprenticeship, Guilds, and Craft Knowledge”, Springer Nature Link: https://link.springer.com/rwe/10.1007/978-3-319-20791-9_247-1 

CBC News, “Beyond the gondola: Meet the women preserving Venice's rowing heritage” (2026): https://www.cbc.ca/news/world/venice-women-rowers-batela-9.7077494 

Prak, M., Crowston, C. H., de Munck, B., Kissane, C., Minns, C., Schalk, R., & Wallis, P. (2020). Access to the Trade: Monopoly and Mobility in European Craft Guilds in the Seventeenth and Eighteenth Centuries. Journal of Social History, 54(2), 421–452: https://academic.oup.com/jsh/article/54/2/421/5644454 

Laurajane Smith, “Uses of Heritage” (2006), ringkasan konsep Authorized Heritage Discourse: https://www.diggitmagazine.com/index.php/wiki/authorized-heritage-discourse 

Laurajane Smith, “Uses of Heritage”, Routledge: https://www.routledge.com/Uses-of-Heritage/Smith/p/book/9780415318310 

Anna Toniolo & Daniela Sala, “Memory of Water: The Women Reshaping Venice”, The Guardian, 6 September 2026: https://au.headtopics.com/news/memory-of-water-the-women-reshaping-venice-87453141 

“Women in maritime fishing cultural heritage: living traditions”, Women in Seafood International (2022): https://womeninseafood.org/women-in-maritime-fishing-cultural-heritage-living-traditions/ 

Sumber foto: https://www.theguardian.com/world/2026/sep/06/memory-of-water-the-women-reshaping-venice-in-pictures