Pekan Raya Pariwisata: 22 September 2020 #Ngobrolbareng Bersama Perempuan di Industri Pariwisata

03 Oktober 2020

Pada kesempatan kali ini, Women in Tourism Indonesia (WTID) mendukung Telusuri x Kok Bisa dalam penyelenggaraan Pekan Raya Pariwisata. Menyambut Hari Pariwisata Sedunia yang jatuh pada tanggal 27 September 2020, TelusuRI bersama Kok Bisa membuat Pekan Raya Pariwisata. Sebuah Rangkaian kegiatan yang akan diadakan secara daring pada 21-27 September 2020. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk dapat membangkitkan optimisme para pelaku pariwisata sekaligus memanfaatkan momentum ini sebagai langkah awal dalam mendirikan industri pariwisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. 

 

For your information, WTID juga ikut berpartisipasi pada tanggal 22 September 2020 dalam #Ngobrolbareng soal pariwisata dan perempuan. Belum nonton? Jangan sedih! Fellow companion yang ingin melihat siaran ulang acara ini, bisa langsung mampir di youtube TelusuRI.Pada sesi ini, Women in Tourism Indonesia dan Pekan Raya Pariwisata ngobrol santai dengan beberapa perempuan Indonesia yang turut berkontribusi pada pengembangan pariwisata berbasis komunitas. #Ngobrolbareng kali ini, Anindwitya Rizqi Monica selaku Founder dan Chariwoman WTID juga turut memoderatori acara sampai kedua sesi berlangsung. Simak cuplikan acara seru di bawah ini ya, fellow companions!

 



 

Alfonsa Horeng membuat tradisi tenun menjadi berkat bagi perempuan Penenun di Lepo Lorun

 

Sebagai Founder dari Women Weavers di Lepo Lorun, Alfonsa Horeng mengatakan bahwa tradisi tenun di sana didominasi oleh perempuan. Awalnya, kerajinan ini hanya bagian tradisi yang diwariskan oleh leluhur untuk anak cucunya. Namun, siapa sangka bahwa tenun di sana dapat dijual sebagai souvenir? Ternyata, konsep menenun di Lepo Lorun seperti konsep living museum. Saat ini, telah terdapat studio tenun di sana: front office, ruang display koleksi tenun, dan tempat menenun.

 

“Di Lepo Lorun, wisatawan yang datang di sana mayoritas adalah wisatawan asing”, tambah Alfonsa saat ditanya oleh Monica. Menjadi salah satu pelopor dan penggerak perempuan menenun di Lepo Lorun, ternyata hal ini juga merupakan hasil dari keresahan Alfonsa pribadi karena modernisasi yang menyebabkan tergerusnya tradisi tenun di daerahnya.  Alhasil, ia mengangkat dan melestarikan kembali tenun tersebut. Adapun konsep studio disana memberikan segudang manfaat untuk masyarakat lokal hingga wisatawan yang datang berkunjung sebagai media edukasi, ecotourism, fashion, dan eco homestay. 




Febrianti Tentyana: Pariwisata bukan sekadar jalan-jalan, riset dan analisis bisa dijadikan bahan untuk membentuk kesadaran tentang responsible tourism

 

Saat #Ngobrolbareng dengan Febrianti, ia menceritakan bahwa menurutnya sebagai analis pariwisata sangat sarat visi dan konsep. Begitu pula dengan konsep yang baik bisa ia sempurnakan dengan strategi yang matang saat terjun di lapangan langsung.  Sebagai seorang peneliti, Febrianti juga ikut terlibat dalam proyek pemerintahan seperti membuat guidelines untuk taman nasional yang outputnya bisa dimanfaatkan sebagai implementasi dari perwujudan pariwisata yang berkelanjutan.

 

Memang tak mudah dan terkesan penuh tantangan, Febrianti mencintai dunia riset sejak ia masih menempuh studi di perkuliahan. Berangkat dari latar belakang studi pemasaran, ia mengatakan bahwa ilmu pariwisata ia pelajari saat memasuki dunia profesi, “Kalau riset pariwisata secara nggak langsung sebenarnya, karena sudah biasa riset di berbagai daerah di Indonesia jadi suka jalan-jalan. Kurang lebih baru dua tahun dalam riset pariwisata” tambahnya.

 

Ngobrolin tentang pengalaman menarik pada saat melakukan riset, Febrianti menyebutkan ada banyak macam riset pariwisata yang ia sukai, dan baginya hal tersebut sangat luas spektrumnya, “kalau yang berkaitan dengan perempuan, saya menemui banyak perempuan yang terlibat dalam pariwisata seperti dive master dan polisi hutan perempuan sata saya berada di lapangan, ini menarik sekali. Jujur, saya melihat perempuan ini bukan tantangan untuk menjadi seseorang yang sukses, bahkan saya melihat perempuan-perempuan yang terlibat ini sangat hebat” tambahnya saat ia menceritakan pengalaman menarik bersama perempuan-perempuan penggiat pariwisata.

 

 

Harapan Riwud Mujirahayu untuk perempuan di lingkup pemerintahan dapat lebih berkembang dalam level decision maker

 

Saat ditemui secara virtual, Riwud Mujirahayu selaku Sekretaris Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan, Kemenparekraf RI nampak sedang work from office. Bagi Riwud Mujirahayu, bekerja di pemerintahan saat pandemi ini menjadi sebuah tantangan tersendiri mengingat  semua pekerjaan dilakukan dengan media daring. Sudah lebih dari 20 tahun Riwud bergabung sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang saat ini berada pada lingkup Kementerian Pariwisata  dan Ekonomi Kreatif.  Menurutnya, bergabungnya kedua lembaga ini memberikan dampak yang sangat positif pada program-program kerja karena menjadi lebih relevan dan efektif.  Selama bekerja menjadi PNS, ia merasakan bahwa antar deputi  di Kemenparekraf saling mendukung dan membantu satu sama lain begitu pula perempuan dan laki-laki yang saling menghormati kepentingan satu sama lain.

 

“Di Kemenparekraf khususnya di bagian deputi pengembangan, terdapat beberapa program pemberdayaan masyarakat, seperti: meningkatkan kinerja pokdarwis di desa wisata harapannya perempuan yang ada di destinasi pariwisata dapat menjadi frontliner sehingga pengembangan pariwisata dapat memajukan kualitas perempuanungkapnya saat ditanya soal perempuan yang berkiprah pada industri pariwisata. Menyambung hal tersebut, Riwud mengatakan bahwa sudah banyak sekali perempuan-perempuan menduduki posisi dan jabatan tinggi di Kemenparekraf. Bahkan, Wakil Menteri Kemenparekraf saat ini adalah perempuan, yaitu Angela H Tanoesoedibjo. Adanya fakta tersebut, Riwud berharap agar perempuan tidak hanya bekerja di balik layar, tetapi dapat juga menjadi bagian dalam decision making. Selain itu, dengan terlibatnya perempuan di jabatan manajerial, perempuan dapat lebih meningkatkan kemampuan dan memberikan semangat untuk perempuan-perempuan lain .

 

Lita Hutapea mengajak masyarakat untuk mengembangkan wisata edukasi yang ramah terhadap pelestarian satwa

 

Selama lebih dari 11 tahun, Lita Hutapea telah menekuni profesinya dalam mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat di lingkup Non Governmental Organization. Siapa sangka, ketertarikannya itu berawal dari keprihatinan Lita  saat hanya melihat satwa yang sejatinya perlu dilindungi malah mendapatkan ancaman khusus dari lonjakan jumlah wisatawan . Adapun ancaman lain untuk satwa adalah sampah. Oleh karena itu, ia bersama mendampingi  masyarakat untuk melestarikan satwa sebagai upaya pengembangan pariwisata berkelanjutan. Lita banyak bercerita bahwa upaya pengembangan dan konservasi ini dapat dilakukan dengan membuat regulasi khusus di destinasi wisata tentang perlindungan satwa. Seperti halnya destinasi di Kubu Raya Bekantan menerapkan regulasi yang jelas dan ketat untuk konservasi satwa yang dilindungi.

 

Berbicara soal tantangan sebagai perempuan, Lita harus dapat meyakinkan  ibu-ibu di destinasi wisata untuk dapat terlibat aktif dalam kegiatan pariwisata sehingga mereka mendapatkan tambahan pemasukan karena adanya upaya pemberdayaan masyarakat yang dilakukan, seperti menjual makanan, minuman dan souvenir. Di saat pandemi pula, ia melihat bahwa perempuan dapat mengambil peluanguntuk belajar dan meningkatkan kapasitas baik sebagai pekerja maupun praktisi di industri pariwisata. Contoh yang ia sebutkan adalah memaksimalkan media sosial sebagai akses untuk mengembangkan wisata juga memberikan kesempatan untuk perempuan dalam berpartispasi membuat masker, hand sanitizer, dan sebagainya.

 

“Sebagai perempuan kita memiliki banyak peluang tinggal bagaimana kita memanfaatkan peluang tersebut. Mencoba untuk melepaskan kontrol sosial yang ada yang mengatakan bahwa perempuan tidak bisa. Perempuan harus berani untuk merubah batasan-batasan sosial tersebut. Pariwisata merupakan industri yang kompleks dan saling berkaitan satu sama lain” tegas harapan Lita terhadap para perempuan di luar sana.

 

(Monica)

 

Artikel ini dipublikasikan di laman womentourism.id | 3 Oktober 2020