International Day of Women and Girls in Science: Women Tourism Scholars Edition

11 Februari 2021

Hi Fellow Companions! Tau gak sih kalau tepat pada tanggal 11 Februari itu merupakan International Day of Women and Girls in Science? Perayaan ini diusung oleh United Nation dalam upaya peningkatan kesetaraan gender pada bidang sains. Hal ini dinilai penting untuk dilakukan karena menurut UN, sains dan kesetaraan gender merupakan hal penting untuk mendukung pembangunan ekonomi dunia serta berkontribusi untuk kemajuan di semua tujuan dan target Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan.

 

Kali ini, Women in Tourism Indonesia akan mengangkat perempuan Indonesia yang bergerak dalam sains pada bidang pariwisata. Menurut sebuah report pada tahun 2015 menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan gender di dalam akademi pariwisata dan ketidakseimbangan dalam pengaruh perempuan dan laki-laki dalam peran kepemimpinan kunci, dan menunjukkan bahwa beasiswa pariwisata mencerminkan struktur patriarki yang menjadi ciri akademi global (Munar, A.M. et. al., 2015). Bergerak dari hasil report tersebut dalam artikel ini, Women in Tourism Indonesia akan turut mendukung kerja keras peneliti dan akademisi perempuan Indonesia pada bidang pariwisata. 

 

Intan Purwandani Ghofur

Intan Purwandani Ghofur

Sumber: Dok. Istimewa

 

Tokoh perempuan pertama yang akan mewarnai artikel ini yaitu Intan Purwandani Ghofur yang saat ini berprofesi sebagai dosen di S1 Pariwisata UGM. Menjadi akademisi adalah pilihannya karena dengan berkarir dalam bidang ini, Intan memiliki kesempatan untuk menjadi manusia yang merdeka dalam berpikir dan berkarya sebebas-bebasnya namun tetap bertanggung jawab. Selain itu, menurut Intan, disiplin ilmu pariwisata yang ditekuninya ini memiliki potensi untuk berdampak besar bagi masyarakat luas, sehingga diperlukan pengetahuan dan ilmu yang tepat. Sebab dalam pengelolaannya (pariwisata) bisa memberdayakan tapi sekaligus berpotensi merusak secara instan dan bersamaan. Dilema-dilema inilah yang semakin membuatnya tertarik untuk mengkaji pariwisata lebih dalam.

 

Selama 2 tahun berkarir, Intan mengungkapkan bahwa sebagai seorang akademisi, memiliki karya berupa publikasi dan sejenisnya merupakan tolak ukur yang konvensional. Menurutnya, proses yang dilakukan dalam melakukan pekerjaanya sebagai akademisi, sekaligus istri dan ibu dengan sehat dan waras lahir batin itu merupakan pencapaian dan rezeki yang luar biasa.

 

Menjalani peran sebagai akademisi, istri, dan ibu dari seorang balita disaat yang bersamaan menjadi tantangan Intan dalam berkarir. Kondisi ini perlu kerja keras untuk membagi tenaga dan waktu dengan seimbang. Sayangnya, tidak semua ruang-ruang kerja di Indonesia sudah memberikan kebijakan yang women-friendly dan terutama ramah terhadap seorang Ibu. Contoh sederhananya seperti ketersediaan ruang dan fasilitas menyusui. Kondisi lainnya yang menurut Intan tidak mendukung perempuan dan ibu bekerja yaitu tidak adanya maternity leave, parental leave, dan bahkan sick leave yang memadai. Apalagi dunia akademisi ini rentan sekali terjebak dalam lingkungan yang toxic dimana terkadang sistem yang membuat perempuan (sakit mens, hamil, dst) tidak terkecualikan. Tetap dituntut untuk profesional bekerja apapun kondisinya, berapapun peran yang dimiliki sehingga kesehatan mental perempuan akademisi jauh lebih rentan terdampak. Namun, di balik tantangan dan duka yang dirasakan Intan, ia juga menikmati pekerjaannya karena memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan mahasiswa, dapat menulis untuk menyuarakan pendapat secara merdeka, dan aktualisasi diri lain hingga justru bisa mengenalkan dunia pendidikan lebih dini ke anaknya sendiri.

 

Intan teringat diskusi dengan seorang Profesor di Belanda. ”Saat ini akses perempuan akademisi seolah terbuka lebar. Jumlah akademisi perempuan bahkan melebihi jumlah akademisi laki-laki. Tapi dilihat pada level tertentu seperti level Profesor. Berapa banyak akademisi perempuan yang bisa menembus hingga level Profesor? Hampir sedikit sekali, mengapa? Sistem kita masih perlu banyak perbaikan agar dapat mendukung kiprah akademisi perempuan mencapai puncak karir lebih tinggi dan lebih dini”. Hal ini bisa menjadi bahan renungan untuk para calon akademisi.

 

Terakhir, Intan berpesan “Untuk seluruh kolega, saya berharap, kita kuat dan akan selalu kuat bertahan. Menguatkan kaki berdiri ranah ini adalah salah satu cara agar bisa kelak membentuk sistem kerja akademisi yang lebih ramah bagi perempuan generasi selanjutnya. Istirahat sejenak agar tidak tumbang”.

 

Suci Sandi Wachyuni 

Suci Sandi Wachyuni 

Sumber: Dok. Istimewa

 

Tokoh perempuan akademisi selanjutnya yaitu, Suci Sandi Wachyuni. Suci adalah seorang mahasiswa program doktoral di Kajian Pariwisata UGM yang saat ini juga menjadi dosen di Politeknik Sahid sejak tahun 2014. Menjadi seorang akademisi dan tenaga pendidik adalah jati dirinya sejak duduk di bangku SMA. Dalam memulai karirnya, Suci berawal dari menjadi asisten dosen, dosen tidak tetap, hingga dosen tetap di Politeknik Sahid. Pariwisata menjadi bidang kajiannya, karena selain merupakan sektor penting bagi penerimaan devisa negara, pariwisata merupakan bidang ilmu yang unik karena bersifat multidisiplin, dan berkaitan erat dengan bidang-bidang ilmu lainnya. 

 

Selama berkarir, banyak karya yang telah ditorehkannya. Di antaranya, Suci aktif melakukan penelitian untuk memberikan saran pengembangan pariwisata di Indonesia dengan minat penelitiannya yaitu gastronomy tourism, food innovation, consumer behavior, gender in tourism, tourism marketing, dan isu-isu kontemporer yang terjadi pada masa-masa tertentu, termasuk riset terkait pandemi COVID-19. Saat ini Suci juga menjabat sebagai Kepala Biro  Penjaminan Mutu di Politeknik Sahid yang membawahi Departemen Unit Penjaminan Mutu (UPM), Marketing dan Humas, serta Kemahasiswaan. Dalam pengajaran di dalam kelas, Suci banyak melakukan inovasi, misalnya inovasi produk makanan dan minuman berbasis bahan dasar lokal Indonesia, mengimplementasikan food glocalisation dalam menciptakan produk kreatif mahasiswa melalui penelitian eksperimental hingga memperoleh HKI (Hak Kekayaan Intelektual).  

 

Suci tidak merasa ada kendala selama berkarir menjadi akademisi perempuan, Ia merasa lingkungan kerjanya selama ini mengedepankan kinerja serta kompetensi bukan berdasarkan gender. Hal ini terbukti dengan Suci yang saat ini ada dalam posisi Managerial Board bersama 3 orang akademisi perempuan lainnya dan 1 laki-laki.

 

Menjadi seorang akademisi dan juga jajaran managerial board di perguruan tinggi sekaligus menjadi seorang ibu yang memiliki anak balita bukanlah hal yang mudah. Terkadang masih ada juga teman-teman sesama perempuan yang menganggap wanita karir bukanlah seorang ibu yang baik karena tidak dapat membersamai putra/putri di rumah. Padahal apa yang kita lakukan juga demi masa depan putra/putri kita. Namun, dibalik kesulitan tersebut, Suci merasa senang karena dengan pekerjaan ini, karena ia masih dapat mengembangkan diri sesuai dengan passion dan impiannya. Kesempatan tak terbatas adalah suatu kebahagiaan tersendiri untuknya.

 

Terakhir, Suci berpesan untuk para perempuan yang ingin terjun menjadi akademisi di bidang pariwisata. Menjadi seorang akademisi/dosen adalah panggilan hati serta menjadi ladang pahala yang besar. Lakukanlah hal ini dengan bahagia, menjalani dan menikmati setiap prosesnya. Hasilnya akan menjadi kebanggaan tersendiri ketika melihat mahasiswa/i telah lulus dan sukses berkarir di industri atau berwirausaha di bidang perhotelan dan pariwisata. Semangat untuk terus melanjutkan pendidikan dan mengembangkan diri untuk berkontribusi dalam membangun Indonesia melalui pendidikan pariwisata, agar putra putri bangsa Berjaya di negeri sendiri.

 

Anindya Kenyo Larasti

Anindya Kenyo Larasti

Sumber: Dok. Istimewa

 

Anindya Kenyo Larasti adalah seorang peneliti dalam bidang pariwisata yang sudah mulai berkecimpung dalam bidang riset sejak duduk di bangku kuliah. Ketertarikannya pada bidang riset juga didorong oleh eyangnya yang memiliki latar belakang seorang peneliti, sehingga Anindya terbiasa dengan kegiatan penelitian karena sering terlibat saat eyangnya melakukan penelitian. Lalu, hal lain yang melatarbelakangi Anindya untuk akhirnya terjun ke dunia penelitian yaitu, saat menjalani pendidikan tinggi, Anindya mengalami kesulitan dalam mendapatkan literatur pariwisata, sehingga ia ingin terlibat dan berkontribusi untuk ikut memperkaya literatur pariwisata. Setelah terjun ke dalam penelitian pariwisata, Anindya merasa pariwisata ini sangat luas dan tidak hanya sebatas hotel dan travel agent tetapi juga terkait pemerintahan, regulasi, dan analisis. Menurut Anindya, analisis dalam pariwisata merupakan salah satu kunci dalam pengembangan pariwisata di suatu daerah karena bersifat fundamental. 

 

Banyak hasil penelitian dan perencanaan yang telah dibuat oleh Anindya selama berkarir, tetapi dari berbagai hasil pekerjaannya tersebut ada 1 pekerjaan yang menurutnya dapat disebut sebagai sebuah karya, yaitu master plan untuk Kali Code. Master plan ini dibuat Anindya untuk menyelesaikan tugas skripsi S1 nya, selanjutnya proyek ini terus dikembangkan sampai akhirnya menjadi sebuah master plan. Sampai saat ini, karyanya tersebut masih menjadi acuan masyarakat dalam melakukan pengembangan di Kali Code. Anindya menyebutkan bahwa dirinya lebih suka apabila hasil penelitiannya tidak hanya menjadi pajangan saja tetapi juga bisa direalisasikan menjadi sebuah produk yang baik bersama dengan komunitas. 

 

Dalam melakukan penelitian bersama tim, biasanya komposisi tim kebanyakan adalah lelaki. Dengan komposisi tersebut, kadang Anindya dipandang sebelah mata sebagai seorang peneliti perempuan. Terkadang juga ada stereotip bahwa peneliti perempuan seperti Anindya akan mengerjakan proyek yang bernada feminim seperti proyek kuliner atau kerajinan tangan. Walaupun kadang hanya merupakan guyonan tetapi hal-hal seperti itu masih terjadi dalam lingkungan kerjanya. Ketimpangan jumlah peneliti lelaki dan perempuan membuatnya merasa kesepian dan ingin mengajak peneliti perempuan lainnya.

 

Untuk para perempuan yang ingin terjun ke dalam dunia riset di bidang pariwisata, Anindya berpesan, untuk menjadi seorang peneliti itu adalah pekerjaan yang tidak mudah dan menantang sehingga dari diri sendiri harus berani, berani berkomitmen untuk terus melakukan penelitian, dan berani keluar dari zona nyaman. Karena pekerjaan ini juga membutuhkan perjalanan yang panjang, kalau kita suka dengan pekerjaan ini, nikmati saja dan terus belajar dengan gali informasi sebanyak-banyaknya, dan jangan takut untuk bertanya kepada orang yang ahli pada bidangnya.

 

Hesti Purwaningrum

Hesti Purwaningrum

Sumber: Dok. Istimewa

 

Hesti Purwaningrum adalah seorang dosen tetap di Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (STiPRAM). Perjalanan Hesti menjadi seorang akademisi pariwisata dimulai saat ia masuk ke SMK Tata Boga dan melanjutkan ke perguruan tinggi pariwisata. Selanjutnya, pada tahun 2015, ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan S2 di bidang pariwisata dengan tujuan akan berkarir sebagai akademisi di bidang pariwisata. Harapannya, Hesti dapat memberikan kontribusi kepada dunia pendidikan khususnya pariwisata dan perhotelan.

 

Dalam perjalanan karirnya, Hesti telah melahirkan karya berupa buku yang berjudul “Food & Beverage: Pengetahuan Dasar Restoran". Dan pada februari tahun ini akan terbit buku keduanya yang berjudul “Hospitality Industry”. Selain itu, Hesti juga telah menulis 2 artikel mengenai ekowisata dan pengembangan daya tarik wisata.

 

Kendala terbesar dalam melakukan peran sebagai akademisi dan juga seorang ibu yang memiliki 2 anak yaitu, membagi waktu. Sebagai seorang dosen, Hesti harus bisa memberikan pengajaran yang baik dan benar kepada para mahasiswa serta menghasilkan karya-karya yang dapat bermanfaat dalam bidang akademis. Disisi lain sebagai seorang Ibu juga memiliki kewajiban untuk memberikan pendampingan pendidikan untuk kedua anaknya.

 

Karena kecintaannya terhadap profesi yang dilakoninya, Hesti merasa banyak mendapat suka ketimbang duka. Menjadi akademisi perempuan membuatnya dapat membagikan ilmu kepada orang lain dan juga mendapat banyak ilmu dan wawasan baru dari lingkungan akademis. Selain itu juga dapat berinteraksi dengan banyak mahasiswa dan kolega dosen saya.

 

Di tahun 2021 ini Hesti berharap semakin banyak akademisi perempuan, tidak hanya di bidang pariwisata saja tetapi di semua bidang. Dengan demikian, semakin banyak kontribusi yang diberikan akademisi perempuan untuk kemajuan Indonesia. Maka dari itu, untuk para perempuan yang ingin berkarir sebagai akademisi, jangan mudah menyerah, kejar terus pendidikan kalian, kumpulkan ilmu-ilmu yang bermanfaat dan nantinya mari kita bagikan ilmu-ilmu tersebut kepada generasi muda Indonesia agar dapat menjadikan Indonesia lebih hebat dan mendunia. 

 

Source: 

International Day of Women and Girls in Science | United Nations

Munar, A.M. et. al. (2015), The Gender Gap in the Tourism Academy: Statistics and Indicators of Gender Equality. While Waiting for the Dawn.

 

ditulis oleh Sari Nastiti

 

diterbitkan pada laman womentourism.id | 11 Februari 2021