WTIDcamp Week 1: Project Management in Community Based Tourism

07 Oktober 2021

Hi fellow companions,

Pada hari Sabtu, 2 Oktober 2021 Women in Tourism Indonesia secara resmi memulai kegiatan WTIDcamp yang diikuti oleh 52 mahasiswa/i terpilih dari seluruh Indonesia. Selama satu bulan ke depan scholars akan mendapatkan berbagai kelas dengan menghadirkan mentor yang berkompeten di bidangnya. Minggu pertama dari acara WTIDCamp  mengambil tema tentang project management in community based tourism. Mentor pada pertemuan Week 1 WTIDcamp kali ini adalah Kak Lita Hutapea, seorang spesialis konservasi dan wisata hiu pari Conservation International Indonesia. Kak Lita juga merupakan advisor dari Women in Tourism Indonesia.

Selama kurang lebih 3 jam, Kak Lita berbagi pengalaman dan berdiskusi dengan scholars terkait kegiatan project management pada sebuah pariwisata berbasis masyarakat (community based tourism). Presentasi dibuka oleh Kak Lita dengan terlebih dahulu menjelaskan mengenai project management. Secara sederhana, project management dapat dipahami sebagai tahapan perencanaan, pengorganisasian, dan pengelolaan berbagai sumber daya dalam suatu proyek untuk mencapai tujuan, hasil, dan keluaran tertentu. Kemudian terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam sebuah project management, diantaranya berkaitan dengan sasaran atau target dari suatu proyek, kerja tim, proses pengambilan, komunikasi dua arah, anggaran, parameter dari proyek, serta adanya monitoring dan evaluasi.

Selanjutnya, Kak Lita juga menyampaikan bahwa sebuah project management memiliki karakteristik sebagai sebuah proses yang harus dilalui mulai dari mengidentifikasi kondisi masyarakat, melakukan perencanaan, implementasi, hingga proses monitoring dan evaluasi Dalam melakukan proyek juga harus memperhatikan cakupan (ruang lingkup), sumber daya yang digunakan, waktu, dan kemungkinan resiko yang muncul. Beberapa hal tersebut menjadi gambaran bahwa sebuah project management memerlukan beberapa pendekatan. Partisipatif menjadi salah satu pendekatan perlu dilakukan dengan mamastikan dan memaksimalkan partisipasi dari masyarakat, kelompok minoritas, dan stakeholders. Berbagai aktor dalam project management di suatu pariwisata berbasis masyarakat perlu untuk melakukan kolaborasi yang saling terintegrasi dan komprehensif. Ketika sudah terjalin hubungan yang erat apabila terjadi situasi dan kondisi tertentu ketika melakukan proyek dapat melakukan adaptasi.

Dalam melakukan project management, Kak Lita membagikan pengalaman bahwa terdapat lima fase yang harus dilalui. Pertama, melakukan identifikasi potensi yang dimiliki masyarakat, aturan, regulasi, budaya, dan tantangan ketika melakukan suatu proyek. Kedua adalah set up, yakni mendesain secara sederhana apa yang ingin dilakukan setelah proses identifikasi selesai dilakukan. Desain sederhana tersebut akan masuk ke tahap perencanaan, yang mana merancang secara detail proyek yang akan dilakuakan beserta anggaran, waktu, dan ruang lingkupnya. Tahap selanjutnya adalah impementasi proyek yang membutuhkan parameter yang sudah disusun pada tahap perencanaan. Terakhir adalah melakukan monitoring dan evaluasi.

Dalam melakukan sebuah project management memiliki beberapa tantangan, seperti adanya perubahan sosial dalam masyarakat, kurangnya pengetahuan dan keterampilan, politik dan keamanan, serta sumber daya yang terbatas. Adanya berbagai tantangan tersebut menjadi hal yang perlu dipertimbangkan apalagi dalam sebuah community based tourism (CBT). Pariwisata berbasis masyarakat (community based tourism) merupakan salah satu pendekatan dalam paradigm sustainable tourism. Pendekatan CBT menempatkan masyarakat (community) sebagai aktorutama dalam pengembangan wisata. Masyarakat diberikan kesempatan besar untuk turut andil dalam perencanaan, pengelolaan, pelaksanaan, dan pengambilan keputusan dalam pengembangan wisata.

Selain pemaparan dari Kak Lita mengenai project management in community based tourism, WTIDCamp Week 1 kali ini juga memberikan kesempatan kepada scholars untuk mengenal satu sama lain dan berdiskusi melalui kegiatan presentasi kelompok. Scholars dibagi menjadi 6 kelompok yang akan mendiskusikan terkait langkah-langkah dalam melakukan community based tourism. Studi kasus yang diambil dalam presentasi kali ini adalah pengelolaan di Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC). Secara singkat presentasi dari ke enam kelompok membahas mengenai:

1.       Kelompok 1: Community Connection TNTC

2.       Kelompok 2: Community Capacity Building TNTC

3.       Kelompok 3: Project Management Community Based Tourism TNTC

4.       Kelompok 4: Community Product TNTC

5.       Kelompok 5 : Community Partnership TNTC

6.       Kelompok 6 : Marketing strategi TNTC

Setiap kelompok yang sudah presentasi akan mendapatkan feedback dari Kak Lita untuk dapat menjadi masukan dan tambahan ilmu untuk scholars. Terakhir, sesi week 1 WTIDCamp ditutup dengan foto bersama dengan Kak Lita dan scholars. 

 

Ditulis oleh Afifah Lulu

 

7 Oktober 2021 | Artikel ini diterbitkan di laman womentourism.id