WTIDcamp Week 3: Respond to Sexual Harassment in Tourism Sector: The Elimination of Violence Against Women

22 Oktober 2021

Pada minggu ketiga di bulan Oktober, WTIDCAMP Week - 3 kembali berlangsung dengan mengangkat tema Respond to Sexual Harrasment in Tourism Sector: The Elimination of Violence Against Women. Minggu ini scholars belajar langsung dengan sosok Kak Ulfa Kasim yang merupakan Koordinator Program di Institut Kapal Perempuan. Tidak hanya itu, sebelumnya Kak Ulfa juga pernah menjadi Fasilitator Training dan Konsultan Isu-isu Gender dan Pluralisme sehingga Kak Ulfa juga sangat erat dengan isu yang diangkat pada Week ketiga ini. 

 

Minggu ketiga ini kami belajar dari berbagai kasus yang disampaikan oleh Kak Ulfa Kasim terkait kasus kekerasan atau sexual harassment  yang banyak dialami baik perempuan maupun laki - laki dengan case tertentu. Menurutnya, “ karakter feminitas lah yang menjadi sasaran dari  superior maskulinitas.” Contoh kasus yang diangkat dalam diskusi antara lain adalah kasus di Lombok Timur yang merupakan pemerkosaan perempuan penyandang disabilitas, Kasus di Luwu dimana tiga anak perempuan di bawah sepuluh tahun diperkosa oleh ayahnya, hingga kasus yang sempat menjadi perbincangan hangat beberapa waktu lalu yang menimpa laki - laki pekerja di Jakarta. Ketiga kasus yang diangkat tentu menerangkan bahwa setiap korban memiliki traumanya masing - masing. 

 

Tidak hanya itu, Kak Ulfa juga menjelaskan mengapa tubuh perempuan dan feminitas yang rentan diserang dan mengalami tindakan pelecehan. Kak Ulfa menerangkan bahwa tubuh perempuan adalah objek seksualitas sebagai buntut dari pemikiran patriarki dimana tubuh perempuan dianggap sebagai tubuh yang berbeda. Selain itu, perempuan atau yang memiliki karakter feminitas identik dengan kesan lemah. Tidak hanya itu, faktor besar dimana banyak kekerasan maupun pelecehan banyak terjadi karena adanya suatu relasi kuasa. Dimana kuasa dan maskulinitas ini akan memiliki kecenderungan untuk menganggap orang lain khususnya perempuan dipandang tidak memiliki kuasa untuk melakukan perlawanan atas tindakan yang tentu jauh dari suatu kenormalan. 

 

Satu hal yang cukup di highlight dalam pembahasan kali ini adalah “ tidak ada keterkaitan antara atribut korban dengan intensi kekerasan seksual.” Hal ini relevan dengan sekian banyaknya bukti pakaian yang digunakan oleh korban tidak selalu mencerminkan sesuatu yang terbuka, bahkan orang sedang hamil dan lansia juga turut menjadi korban. Setiap orang punya imajinasi seksual yang berbeda. 

 

Selain bentuk kekerasan seksual yang sering kita ketahui, Kak Ulfa juga menekankan bahwa ada 15 jenis kekerasan seksual lain yang ternyata termasuk dalam jenis kekerasan seksual. Diantaranya adalah pemaksaan aborsi maupun kehamilan, pemaksaan sterilisasi, kontrol seksual, praktik tradisi yang bernuansa seksual, sampai dengan perdagangan perempuan atau prostitusi paksa. 

 

Banyaknya kasus kekerasan seksual di Indonesia perlu ditangani dengan meninjau sebuah  kasus dengan perspektif kriminalitasnya dan bukan dari perspektif patriarki. Selain itu perlu adanya perlindungan sosial bagi para korbannya. Kemudian apabila kita melihat, atau mengalami kasus serupa kita perlu menyadari bahwa melawan adalah kunci agar tidak terjadi pengulangan dan tidak membiarkan pelaku melakukan hal serupa pada orang lain. 

 

Pada sesi diskusi pada minggu ini, beberapa scholars juga menyampaikan sejumlah pengalaman dan insight dari sudut pandang masing - masing scholars. Banyak scholars mengatakan bahwa selama ini kesulitan untuk bersikap atau sekadar membagikan ceritanya karena rasa takut akan “justifikasi atau relasi kuasa” yang cenderung menyudutkan korban dibanding pelakunya. Tidak hanya itu, beberapa dari scholars menyampaikan bahwa mereka sebelumnya masih kurang “aware” dengan bentuk perlakuan yang ternyata merupakan salah satu dari jenis atau bentuk kekerasan seksual. Pada sesi kali ini para scholars merasa bahwa sesi dalam WTIDCAMP kali ini dapat menjadi tempat yang aman bagi mereka untuk mencurahkan hal - hal yang sulit untuk diceritakan sebelumnya. 

 

Di akhir sesi, Kak Ulfa memberi kesimpulan bahwa kasus kekerasan seksual selalu melibatkan  faktor relasi kuasa. Kondisi terpuruk dari korban dapat dimanfaatkan oleh pelaku untuk menindas korbannya. Tidak hanya itu, relasi kuasa dapat berbasis pada apa saja, bisa berbasis jenis kelamin, status sosial politik atau sosial ekonomi, dan menimpa sekelompok manapun. Kemudian dalam sosiologi pariwisata dengan perspektif  gender, ada faktor patriarki dimana perempuan seringkali memiliki status lebih rendah daripada laki-laki, dan itu rentan dijadikan sasaran oleh pelaku yang memiliki maskulinitas lebih tinggi.