Berita Acara WTIDcamp 2 Class 2: Gender-Mainstreaming Marketing Practices in Tourism & Creative Industries

03 Februari 2023

Pada Hari Rabu, 1 Februari 2023 Women in Tourism Indonesia telah melaksanakan kelas kedua program WTID Camp Batch 2 dengan tema “Gender Mainstreaming Marketing Practices in Tourism”. Pembicara pada kelas kedua ini adalah, Kak Varrel Vendira dari Community & Partnership Blibli.com, kelas ini merupakan upaya untuk memahami perempuan mempunyai peran andil dalam membentuk marketing dalam dunia kerja & usaha dalam industri pariwisata. Hasil akhir yang diharapkan untuk kedepannya scholars dapat membentuk sebuah perencanaan sebelum melakukan final project marketing dimana menghubungkan personal branding yang sesuai tanpa mengobjektifikasi perempuan yang memberi kesan seksis & misogini.

Sebelum memulai memulai materi, Kak Varrel memberikan satu contoh marketing berupa sebuah aplikasi yang lebih mengedepankan keamanan perempuan untuk mempersilahkan perempuan terlebih dahulu bisa menghubungi para teman yang dirasa sesuai dengan ketertarikannya. Hal ini membuat para pengguna aplikasi khususnya perempuan merasakan keamanan yang maksimal dalam menggunakan aplikasi tersebut. Selain itu, diberikan kebebasan para scholars untuk mengekspresikan identitas dirinya untuk bisa berkenalan dengan orang lain melalui fasilitas menti.com untuk bersama-sama melihat cara yang berbeda-beda dalam mengaktualisasikan dirinya ketika ingin berkenalan dengan orang lain. Para scholars diajak untuk melihat berbagai iklan produk yang menyinggung para wanita ditempatkan di suatu kondisi yang tidak pantas, misalnya wanita hanya bertugas di dalam dapur saja dan para wanita yang tidak memakai baju yang tertutup dianggap menjadi alasan dia sebagai seorang pelaku yang mengundang pandangan yang negatif terhadap lelaki sekitarnya.

Pada materi ini juga dipaparkan bagaimana merancang sebuah project. Perencanaan sebuah project yang ingin dibentuk diperlukan persiapan yang cukup matang dengan membuat jadwal yang tersusun secara teratur dalam sebuah tim. Proses penyelesaian project diperlukan sebuah tujuan awal yang ditargetkan dari kesepakatan tim itu sendiri, adanya sebuah tujuan dilahirkan melalui keinginan untuk menyelesaikan suatu masalah sehingga hadir sebuah solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Project yang dirancang perlu diidentifikasi menggunakan teknik bernama PESTLE (Political, Economic, Social, Technological, Legal, Environmental).

Project yang dibentuk perlu disesuaikan dengan target masyarakat yang ingin diberdayakan, misalnya membangun kesadaran masyarakat, mempengaruhi masyarakat, upaya untuk bisa lebih maju dan lebih baik dari sebelumnya sehingga masyarakat akan merasa bahwa pemberdayaan yang dilakukan menjadi solusi bagi permasalahan yang dialami. Di samping itu, project perlu menentukan tujuan sebelum menetapkan targetnya, metode yang dipakai yaitu SMART (Specific, Measurable, Attainable, Relevant, Time-based).

Proses penyelesaian suatu project diperlukan mapping setiap keahlian dalam anggota tim agar tidak semua pekerjaan di tumpukan pada satu anggota sehingga kolaborasi diperlukan dalam setiap target suatu kelompok project. Permasalahan setiap kegiatan project suatu pemberdayaan sering kali sulit untuk dipecahkan, misalnya saja satu kasus para penenun tanpa mesin yang mayoritas para perempuan berusia lanjut dengan menerima keadaan ekonomi pasar terkait harga yang diberikan tengkulak sehingga menghambat tingkat kesejahteraan para pengrajin tersebut. Isu yang terjadi inilah menjadi sumber masalah yang perlu di atasi para tim pemberdayaan masyarakat untuk mengeluarkan para perempuan dari terbelenggunya ketidakadilan, permasalahan tersebut perlu diselesaikan bersama dari berbagai lapisan masyarakat baik pihak pemerintah maupun masyarakat.