Keajaiban di 34 Kilometer dari Seoul: Suwon

24 Februari 2023

Salah satu keajaiban dan mimpi yang menjadi nyata adalah kesempatan untuk menjalani satu semester, tepatnya di musim gugur tahun 2022, di Korea Selatan. Perjuangan dan persiapan Panjang telah dilalui di paruh pertama tahun sehingga paruh kedua adalah giliran menjalani kegiatan akademik dan non-akademik di lingkungan baru yang menyimpan banyak keajaiban. Sebagai salah satu penerima beasiswa penuh, kesempatan paling dinanti adalah menjelajah sisi lain dari bumi yang begitu kaya akan destinasi wisatanya. Menapaki Korea Selatan, kota dengan popularitas tertinggi jatuh pada Seoul: ibukota negara dengan beragam destinasi wisata alam, budaya, dan belanja. Jika bersedia menghabiskan waktu selama sembilan puluh menit mengendarai kereta subway, terdapat lokasi yang tak kalah menarik dan strategis: Suwon. 

A group of people in a plane

Description automatically generated with medium confidence

Kereta Subway di Seoul/Dok. Audrey Samantha

 

Berpergian bersama rombongan pelajar syarat akan cerita menarik, mulai dari menentukan transportasi ramah kantong hingga hidangan yang sesuai dengan lidah seluruh anggota. Kendaraan atau transportasi yang tersedia untuk menuju Suwon beragam, mulai dari kereta subway, bus, hingga kendaraan pribadi. Sebagai mahasiswa pendatang, transportasi umum terbaik menuju Suwon adalah kereta subway dengan jalur Hoegi-Suwon di line 1. Kesalahan dalam membaca peta selalu menjadi cerita menarik, salah satunya dalam memahami jalur kereta di Korea Selatan yang begitu kompleks. Terjebak di dalam kereta yang tidak sesuai peta sebanyak dua kali membuat perjalanan terasa begitu lama. Faktanya, perjalanan yang seharusnya ditempuh selama sembila puluh menit berubah menjadi tiga jam: dua kali lipat! Setiap perjalanan tentu membuahkan pelajaran yang beragam, salah satunya adalah cermat dalam membaca jalur kereta subway. 

Menempuh lebih kurang tiga puluh satu stasiun pemberhentian, tujuan pertama setelah tiba di Suwon adalah makan siang. Perut sudah berbunyi nyaring, sedikit kurang nyaring dari pengumuman di stasiun siang itu. Tantangan berikutnya adalah mencari makanan yang halal dan sesuai kantong pelajar: keputusan jatuh kepada kedai barbekyu khas Korea Selatan. Kedai ‘Palgakdo’ rekomendasi seorang kawan adalah satu-satunya referensi yang dimiliki, namun tidak mengecewakan karena pelayanan yang ramah bagi pelajar atau pengunjung asing. Sajian yang dapat dipilih berkisar antara daging ayam, daging sapi, olahan laut, serta sayur-sayuran pendamping. Sebanyak dua hingga tiga porsi dipesan untuk mengisi perut tujuh pelajar kelaparan siang itu. 


A picture containing food, plate, container, plastic

Description automatically generated
Hidangan di Kedai ‘Palgakdo’/Dok. Audrey Samantha

 

Beralih menuju destinasi berikutnya ditempuh mengendarai bus lokal. Suwon IPARK Museum of Art adalah lokasi yang dipilih. Berbekal informasi hasil mengarungi sumber-sumber daring, tiket berhasil dibeli dan bernilai setengah harga. Keberuntungan di akhir minggu, rupanya. Menjelajahi museum sudah menjadi kegemaran, salah satu alasannya adalah sensasi menggelitik di hati melihat makna-makna di balik karya yang ditampilkan: entah sindiran terhadap isu-isu terkini atau sarkasme terhadap suatu standar hasil konstruksi sosial. Sebanyak tiga galeri tersedia untuk dikunjungi dengan waktu yang tidak terbatas. Selama lebih kurang empat puluh lima menit berlalu untuk mengunjungi ketiga galeri tersebut, sesekali mengambil gambar dari karya yang menarik perhatian. Usai dari museum, pilihan untuk beristirahat sejenak dan mengambil nafas jatuh pada sisi utara bangunan di mana terdapat hamparan rumput hijau untuk duduk



A picture containing text, indoor

Description automatically generatedA picture containing indoor, light, automaton

Description automatically generated
Mengunjungi Suwon IPARK Museum of Art/Dok. Audrey Samantha

 

Berjalan sejauh tujuh ratus meter ke arah utara museum, terdapat benteng yang terkenal dan dinobatkan sebagai salah satu asset kebudayaan oleh UNESCO, Hwaseong Fortress atau Benteng Hwaseong. Menjulang tinggi dengan gerbang yang penuh dengan lukisan dan dua daun pintu kokoh, benteng ini menjadi ikon dari Suwon. Dikelilingi oleh kafe-kafe dengan pemandangan dari rooftop, Benteng Hwaseong sore itu dipadati oleh wisatawan domestik dan internasional. Dapat dikatakan bahwa titik lokasi ini adalah yang terbaik untuk memanjakan mata dengan pemandangan matahari tenggelam ditemani secangkir kopi dingin dan sepotong kue dari kafe lokal. Seluruh bagian benteng dirawat dan dipertahankan keutuhannya, termasuk senjata meriam penembak serta bendera-bendera Korea Selatan yang dikibarkan di sepanjang bangunan. Hamparan pohon-pohon dengan daun memerah turut menghiasi sisi-sisi benteng, menambah kesan indah dan rindang untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang terkasih. 



A picture containing outdoor, grass, sky, old

Description automatically generatedA picture containing outdoor, sky, building, roof

Description automatically generated
Benteng Hwaseong, Suwon/Dok. Audrey Samantha

 

Puas dengan pemandangan karya seni dan budaya di dua destinasi terdahulu, kini saatnya Kembali mengisi perut dengan hidangan manis dari Butter Book Café. Berlokasi lima ratus meter dari Benteng Hwaseong, kafe ini terkenal dengan donat dan biskuit yang lezat buatan rumah. Harga yang ramah dikantong juga menjadi alasan pilihan untuk bersantai jatuh pada kafe ini. Trik yang dapat diterapkan ketika bepergian dalam kelompok adalah memesan hidangan yang berbeda satu dengan lainnya: agar seluruh anggota kebagian mencicipi rasa tiap-tiap pilihan hidangan! Makanan manis tidak pernah gagal menutup perjalanan yang melelahkan namun menyenangkan bersama rombongan. Waktu setempat menunjukkan pukul enam petang ketika rombongan diharuskan segera mengejar bus untuk pergi ke stasiun Suwon. Perjalanan hari itu diakhiri dengan sembilan puuh menit durasi kereta dari Suwon menuju Stasiun Hoegi, stasiun terdekat dari tempat tinggal sementara. 


A picture containing coffee, food, arranged

Description automatically generated
Hidangan manis dari Butter Book Café


Secara keseluruhan, perjalanan ke Suwon meninggalkan jejak memori dan jejak digital yang begitu indah. Seharian penuh menghabiskan waktu bersama kawan-kawan memberi kesempatan untuk mengenal masing-masing dari jiwa-jiwa muda ini lebih dalam. Dibekali keunikan dan ketertarikan yang berbeda-beda, jiwa-jiwa muda ini menghiasi perjalanan menuju Suwon dengan cara mereka masing-masing. Suwon turut ambil andil dengan memberkahi cuaca yang cerah nan hangat serta bantuan dari penduduk lokal yang begitu ramah kepada para pendatang. Di kesempatan berikutnya, Suwon akan tetap menjadi pilihan utama untuk berkunjung. 




Kontributor: Audrey Samantha