Bincang-bincang Dampak COVID-19 pada Industri Pariwisata bareng Womentourism.id

21 Juli 2020

Kali ini TelusuRI, diwakili Jovita Ayu, mewawancarai mereka lagi di “Ngobrol Bareng” Hari Kartini 21 April 2020 lalu. Pada kesempatan ini yang kita aja ngobrol adalah Hanin, content specialist Womentourism.id.

WTID diinisiasi oleh Anindwitya Rizqi Monica dan Laras Candra Laksi. Misi besarnya, WTID akan jadi organisasi non-profit yang bisa memberikan pelatihan langsung ke perempuan-perempuan yang terlibat di bidang pariwisata. Belum genap berusia satu tahun, WTID kini sedang belajar untuk menjadi NGO dan fokus ke kampanye digital (digital campaign).

Menerjemahkan jurnal menjadi konten yang mudah dipahami

Saat ini mereka fokus memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa pariwisata bukan hanya tentang bersenang-senang, tapi juga soal menghargai partisipasi orang-orang termasuk para perempuan. Sebagai upaya mengedukasi, WTID mengemas makalah-makalah akademik menjadi konten media sosial yang menarik.

Menurut Hanin, membaca jurnal itu membosankan sehingga informasinya mesti “diterjemahkan” ke bentuk-bentuk yang lebih asyik untuk dibaca lewat media sosial semisal Instagram. Kalau mampir ke akun Instagram WTID, kamu bakal menjumpai beragam infografis menarik yang sebenarnya disarikan dari jurnal-jurnal penelitian.

“Milenial lebih senang dengan hal-hal yang sederhana. Mereka juga maunya baca cepat, baca infografis, padahal sebenernya [yang kami sajikan] itu jurnal,” katanya.

Cerita dari para perempuan pelaku industri pariwisata semasa corona

Hanin cerita bahwa ia pernah ikut webinar tentang pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) yang fokus membahas dampak COVID-19 pada pariwisata. Faktanya, pariwisata berkaitan dengan sektor lain seperti ekonomi dan keamanan negara (misalnya travel warning).

Menurut Hanin, dalam kondisi sekarang kita hanya bisa, “[H]ope for the best aja karena ini sedunia, nggak cuman Indonesia aja.”

Di Hari Kartini kemarin, WTID mengunggah konten tentang perempuan yang bekerja di industri pariwisata, mulai dari manajer hotel, pemandu wisata (tour guide), pekerja museum, sampai pekerja lepas (freelancer) agen perjalanan (travel agent). Para narasumber itu bercerita soal pengalaman mereka selama mewabahnya COVID-19, mulai dari tingkat penjualan yang turun, pemasukan yang berkurang drastis, sampai cerita ketika mereka dirumahkan (unpaid leave).

Yang bisa dilakukan semasa corona

WTID sendiri berusaha mengunggah konten sesering mungkin. Beragam konten yang diunggah itu, menurut Hanin, diharapkan bisa jadi teman selama di rumah aja.

Menurut Hanin, kita juga perlu bersiap untuk menghadapi “normal baru.” Sekarang apa-apa harus online; bimbingan kuliah, seminar, workshop, sampai jualan. Salah satu caranya adalah lebih membiasakan diri dengan peranti teknologi informasi.

Menurut Hanin, ini juga bisa menjadi momentum bagi pengambil kebijakan untuk menyelesaikan persoalan akses listrik dan internet di tempat-tempat yang selama ini masih belum diperhatikan.

Pokoknya, menurut Hanin, semasa corona kita mesti berpikir kratif. Ia mencontohkan beberapa pengusaha tour & travel yang banting setir menjadi penjual masker dsb. untuk bertahan hidup. Ada pula beberapa operator tur yang bikin tur virtual sebagai alternatif sumber pemasukan.

 
 
 
View this post on Instagram

Selamat hari Kartini untuk semua perempuan Indonesia!???? Di tengah pandemi global ini, @womentorism.id mencoba untuk bertanya kepada perempuan yang bekerja di berbagai sektor pariwisata Indonesia; bagaimana efek COVID-19 terhadap pekerjaan mereka? Bagaimana pendapat mereka terhadap pandemi COVID-19 saat ini yang sangat memengaruhi sektor pariwisata? Apa harapan mereka untuk sektor Pariwisata di Indonesia kedepannya? Yuk simak jawaban mereka!???? #WomeninTourismIndonesia #harikartini2020 #womenempowerment #kartiniday #covid19 #coronaoutbreak

A post shared by Women in Tourism Indonesia ???????? (@womentourism.id) onApr 20, 2020 at 6:55pm PDT

Bagaimana kira-kira pariwisata setelah COVID-19

Menurut Hanin, ada dua kemungkinan yang akan terjadi pada dunia pariwisata setelah COVID-19. Pertama, para pengusaha tour bisa jadi akan menjual paket wisata dengan harga murah untuk menggaet wisatawan. Namun hal ini bisa berdampak ke turisme massal. Kalau wisatawan membeludak, dikhawatirkan tempat itu nggak siap dan berpotensi rusak. Kedua, wisatawan [akan] lebih sadar untuk hal-hal kebersihan di tempat wisata. Kalau sebelumnya banyak orang cuek dengan kebersihan dan sanitasi ala kadarnya, bisa jadi setelah COVID-19 ini wisatawan cenderung lebih cerewet soal kebersihan.

WTID sendiri punya beberapa rencana setelah COVID-19. Salah satunya adalah membuat pilot project pendampingan bagi para perempuan yang terjun di industri pariwisata.

 

Artikel ini dipublikasikan pada laman telusuri.id | 29 April 2020