Catatan dari WTIDtalk #2 kapasitas perempuan dan pariwisata berkelanjutan: Pesan dari Arborek hingga kiprah perempuan Sembalun

30 September 2020

Women in Tourism Indonesia (WTID) dan Desa Wisata Institute (DWI) menggelar talkshow WTIDTalk seri #2 bertema Kapasitas Perempuan dalam Membangun Pariwisata Berkelanjutan di Indonesia, (Sabtu, 19/09).

Tiga narasumber dan satu penanggap dengan latar belakang pada sektor pariwisata khususnya pariwisata berkelanjutan telah berbagi pengalaman dan inspirasi termasuk mengutarakan harapan-harapannya dalam pengembangan potensi kepariwisataan di Indonesia.

Sebanyak 70 peserta menjadi pendengar selama kurang lebih tiga jam. Para narasumber secara spesifik membagikan pandangan, merefleksikan pengalaman dan pengetahuannya terkait bagaimana peran mereka dalam perempuan secara umum dalam memulai, menjaga dan mengembangkan usaha di bidang konservasi alam hingga pemberdayaan perempuan dalam skala yang luas. Acara ini juga tayang di kanal Youtube.

Talkshow dimulai pada pukul 09.00 diawali dengan menonton tourism video dari beberapa narasumber dan video pembuka dari Women in Tourism Indonesia.

Inspirasi dari Arborek

Githa Anastasia dari Arborek Dive Center Raja Ampat menceritakan bahwa Arborek Dive Center merupakan salah satu penyedia jasa selam yang ada di Raja Ampat. “Kami fokus untuk konservasi satwa laut, seperti ikan pari manta,” sebut Githa.

Menurutnya, di masa pandemi seperti ini kegiatan yang ada di Arborek Dive Center sementara terhenti.  “Kegiatan yang saat ini masih berjalan adalah memberikan edukasi kepada diver perempuan yang ada di Raja Ampat,” katanya.

Githa mengakui bahwa tetap ada tantangan dalam menjalankan kegiatan ini. “Tantangan yang dihadapi pada tahap awal adalah melakukan pendekatan kepada masyarakat setempat yang memiliki budaya patriarki yang masih dominan,” ungkapnya.

Di sisi lain, pihaknya juga berinisiatif untuk mempromosikan kebudayaan lokal. “Upaya yang dilakukan oleh Arborek Dive Center untuk mengenalkan kebudayaan Indonesia adalah dengan mengajak turis asing untuk terlibat dalam kegiatan pariwisata lokal,” imbuhnya.

Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh turis asing, misalnya menari, mengenalkan bahasa inggris dengan orang lokal kampung denga tujuan warga lokal bisa paham bahasa inggris meskipun tidak begitu lancar.

“Interaksi antara masyarakat dan turis terus berlanjut dengan mengenalkan satwa pari manta. Selain itu memberikan edukasi kepada masyarakat untuk melestarikan dan menjaga pantai, terumbu karang, dan sumber daya alam lainnya,” jelasnya.

Teraahir, Githa memberikan pesan untuk perempuan yang berkecimpung di pariwisata adalah harus keras kepala dengan idenya bagus dan baik. “Jalan aja nanti pelan-pelan ada jalannya,” tegasnya.

Inisiatif dari Labuan Bajo

Dari Labuan Bajo, Margaretha Subekty membagikan kisah dan inspirasi bersama Koperasi Serba Usaha Labuan Bajo NTT.

Dia bercerita bahwa KSU tersebut diinisiasi perempuan yang punya usaha di rumah pada 2015.

“Aktivitas usaha dilatarbelakangi oleh wisata di Labuan Bajo yang sampahnya banyak sekali maka KSU mengolah sampah yang meliputi pengangkutan, penjualan, pelatihan daur ulang, kampanye peduli lingkungan sampah,” paparnya.

“KSU tidak berjalan mulus tapi juga banyak jatuh bangunnya, misalnya stigma masyarakat yang menganggap sampah tidak penting jadi dibuang begitu saja,” ujarnya.

Yang dilakukan pihaknya adalah bagaimana memastikan bahwa fokus kerja KSU. “Kami fokus pada pelayanan angkut sampah, pengolalaan sampah dan paling penting edukasi misalnya dengan recycle,” ucapnya.

Menurutnya, sampah adalah persoalan di lokasi wisata seperti Labuan Bajo “Jumlahnya begitu banyak dan seharusnya dapat dimanfaatkan oleh KSU dengan menggandeng perempuan di Labuan Bajo menghasilkan uang,” tandasnya.

Komitmen KSU menurutnya adalah mendorong bagaimana pariwisata menyisakan kebaikan untuk generasi.

“Bijaksana dalam menggunakan plastik, kelola sampah menjadi berkah, mulai dari diri sendiri lalu keluarga dan masyarakat, serta mendidik perempuan untuk mendidik generasi,” katanya.

Cerita dari Sembalun

Baiq Sri Mulya, pilar pada Komunitas Perempuan Sembalun NTB membagikan inspirasi terkait kiprah komunitas perempuan Sembalun, Lombok Timur NTB.

“Ini adalah komunitas yang memberikan kesempatan kepada perempuan Sembalun untuk terlibat dalam berbagai kegiatan sosial khususnya upaya pelestarian lingkungan alam dan budaya,” ucap Sri.

Pengamatan Sri, ada beberapa masalah yang dihadapi Sembalun sebagai destinasi wisata namun bertentangan dengan beberapa indikator dari sustainable tourism.

“Sering terjadi konflik lateral antar pelaku pariwisata dengan masyarakat, permasalahan lingkungan meliputi sampah, air bersih dan polusi udara,” katanya.

Permasalahan selanjutnya, tambah Sri, berkaitan dengan kepemilikan tanah yang mana sebesar 60 persen akomodasi dan camping ground dimiliki oleh investor asing.

“Tidak ada masyarakat lokal yang bekerja di bagian manajerial dan banyak yang mendapat gaji di bawah UMR. Jumlah wisatawan yang datang sering kali over capacity,” katanya.

Sri menyatakan bahwa ada beberapa wisatawan yang tidak menghargai masyarakat lokal dengan cara menggelar open air karaoke yang terlalu berisik dan dilakukan pada jam malam. “Adanya insiden, kurangnya etika bertetangga sebab banyak pendatang baru yang tidak tahu budaya lokal sehingga menimbulkan konflik,”ungkapnya.

Sri juga menyebutkan tentang wahana ‘SembaluNina’, merupakan komunitas perempuan Sembalun dengan faham bahwa feminism bukan faham eksklusif perempuan, tapi adalah jiwa memelihara pada manusia.

“SembaluNina mempunyai program-program pemberdayaan seperti PerBincang (Perempuan Berbincang), Sakolah (Sahabat Sekolah), BiSA (Rehabilitasi Sumber Air), dan SMS (Sembalun Mandiri Sampah),” katanya.

Taufan Rahmadi, pakar kreatif strategi pariwisata mengungkapkan dimensi 4S atau sex, salary, skill dan survival.  “Pariwisata sebagai cara manusia menikmati dan melindungi nikmat tuhan. 4S ini harus dibuat kebiijakannya dan sudah saatnya ada women tourism mitigation.

Dia juga menyebut sampah adalah problem utama bahkan pada beberapa destinasi super prioritas. Fokus pada pembangunannya harus pada keadaan atau realitas pada destinasi terlebih dahulu.

Terdapat beberapa komentar dari peserta pada seri ini. Ada yang meyebut bahwa banyak perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga.

“Tetapi pada saat yang sama, stigma buruk terhadap perempuan masih banyak misalnya jika perempuan pulang malam, bekerja di hotel, dll,” tanggap peserta.

Kedua, kiprah teman-teman KSU Labuan Bajo adalah saling membantu perempuan dengan cara menjadi tempat untuk berkeluh kesah bagi perempuan yang tidak bebas meluapkan emosinya di rumah mereka.

Kerjasama yang dilakukan antara KSU Labuan Bajo, Pemkab Taman Nasional Pulau Komodo dan WWF Indonesia dalam mengelola sampah adalah dengan membuat Kelompok kerja (Pokja). Lalu, kerjasama mengelola sampah seharusnya ada sinergi dengan semua pihak baik itu masayrakat setempat, pemerintah, komunitas, dan pihak lainnya.

 

Artikel ini dipublikasikan di laman pelakita.id | 23 September 2020