Highlight #WTIDtalk 6: Perempuan dan Pariwisata: Peran Generasi Muda dalam Pemberdayaan Responsif Gender di Sektor Pariwisata Indonesia

10 September 2021

Hello fellow companions!

 

Sebagai rangkaian dari agenda peringatan ulang tahun ke-2 Women in Tourism Indonesia (WTID) yang mengangkat tema Youth to Elevate Women in Tourism Indonesia, #WTIDtalk seri ke-6 kembali hadir dengan judul “Perempuan dan Pariwisata: Peran Generasi Muda dalam Pemberdayaan Responsif Gender di Sektor Pariwisata Indonesia”.  Tema kali ini diangkat karena dalam mewujudkan kesetaraan gender di sektor pariwisata Indonesia perlu dimulai dengan kesadaran dari para generasi muda untuk bisa responsif terhadap isu ini. Pemuda-pemudi Indonesia harus dapat aktif berperan sebagai garda depan dalam menyuarakan kesetaraan gender khususnya di sektor pariwisata. Webinar ini diadakan pada hari Sabtu, 18 September 2021 melalui platform Zoom dan disiarkan secara langsung melalui akun YouTube Women in Tourism Indonesia.

Selaras dengan tema yang diusung, #WTIDtalk seri ke-6 menghadirkan pembicara-pembicara muda yang berkecimpung di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif, serta memiliki concern dalam memberdayakan masyarakat melalui pariwisata.

Acara dibuka dengan opening speech dari pembicara pertama, yaitu Angela Tanoesoedibjo, sebagai Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabinet Indonesia Maju. Angela berbicara tentang pentingnya peran perempuan dalam sektor pariwisata, baik sebagai tenaga kerja maupun sebagai wisatawan. Ia mengatakan bahwa meskipun angka tenaga kerja perempuan lebih tinggi, ada hal-hal lain yang harus diperhatikan seperti upah yang adil, posisi yang tinggi, kesempatan yang sama, serta keterlibatan sebagai penentu kebijakan. Angela juga menambahkan bahwa wisatawan perempuan memegang peran yang besar dalam pemulihan pariwisata Indonesia dan bagaimana teknologi dapat menjadi sarana untuk memperkuat peran perempuan di sektor pariwisata. Ia berpesan bahwa untuk mencapai kesetaraan gender di Indonesia adalah pekerjaan kolektif yang membutuhkan dukungan dari seluruh stakeholders dan mengajak sesama perempuan untuk saling mendukung dalam membangun pariwisata Indonesia yang berkualitas, berkelanjutan dan inklusif.

Pembicara kedua adalah Gandhi Sanjiwani, Chief Business Officer dari GODEVI sekaligus dosen Public Relations di Bali Dwipa University. Gandhi bercerita tentang alasannya mulai terjun untuk mengembangkan desa wisata bersama masyarakat dan kisah-kisah menarik yang ia alami ketika mengembangkan desa wisata berbasis masyarakat di Bali. Selain itu ia juga berbagi tentang perbedaan dan persamaan yang ia temui ketika bekerja dengan pihak manajemen profesional dan ketika bekerja bersama masyarakat. Dalam perjalanannya, Gandhi sadar bahwa pemberdayaan masyarakat bukan hanya dari segi ekonomi saja, namun harus dari segi sosial budaya pula. Ia juga berbicara mengenai tantangan-tantangan yang harus dihadapi saat membangun desa wisata di Bali, terutama karena kentalnya budaya patriarki dan struktur sosial masyarakat yang aristokratis dan ego-sektoral. Tetapi Gandhi menambahkan bahwa tantangan-tantangan tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk mundur karena sebagai generasi muda kita memiliki peran untuk menjadi fasilitator serta jembatan masyarakat agar bisa menyampaikan aspirasi mereka kepada pemerintah, publik, bahkan dunia.

Pembicara berikutnya adalah Sarah Sentoso yang merupakan Putri Pariwisata Intelegensia 2020 & Miss Cultural Tourism 2020 serta Director dari Kain Makna. Sarah mengawali sesinya dengan bercerita tentang Kain Makna, bagaimana ia pertama memulai Kain Makna untuk membantu mama-mama tenun menjual hasil tenun mereka serta dampak yang berhasil diciptakan bagi masyarakat Desa Umutnana dan Indonesia secara keseluruhan. Ia juga membagikan pengalamannya dalam mengikuti ajang Putri Pariwisata pada tahun 2020 lalu serta memberikan tips bagi para audiens yang mungkin memiliki ketertarikan dalam mengikuti ajang kecantikan maupun memulai usahanya sendiri. Menurut Sarah yang menjadi kunci dalam berkarya adalah dengan memulai dari apa yang sudah dimiliki di daerah sekitar, mencari teman-teman dengan concern yang sama, tidak memusingkan hal yang terlalu jauh di depan dan untuk tidak merasa minder serta takut mencoba.

Sesi sharing ditutup oleh pembicara terakhir yaitu Paul W. Eka, founder SILAQ Indonesia sekaligus konsultan di Marine Change Ltd. Paul membagikan pengalaman-pengalaman yang ia miliki ketika bekerja di Maluku untuk membangun kawasan konservasi perairan dan sebagai perantara dalam program yang berusaha untuk menciptakan sinergi antara pihak Pemerintah, swasta dan publik. Pengalaman kerja inilah yang ia gunakan sebagai dasar dari project SILAQ. Usaha yang ia bangun bersama adik-adiknya itu berusaha untuk memberdayakan perempuan di Desa Lilir, Lombok, dengan memanfaatkan peluang pasar yang besar untuk produk vegan dan handmade. Paul juga menjelaskan tahapan dalam rancangan proyek SILAQ, ia berharap rancangan tersebut dapat membantu para audiens yang mungkin ingin membangun bisnis nya sendiri tetapi bingung harus mulai dari mana. Saat menceritakan tantangan yang dihadapi ketika memulai SILAQ, Paul mengatakan bahwa memberdayakan perempuan juga harus melibatkan semua lapisan masyarakat.

Narasumber-narasumber yang hadir pada #WTIDtalk seri ke-6 ini sungguh muda-mudi yang sangat menginspirasi ya fellow companions! Mereka menunjukkan bahwa umur bukanlah batasan untuk dapat berkarya. Selain itu, melalui isu-isu yang dibahas oleh para narasumber tersebut kita dapat lebih mengerti besarnya peran yang dimiliki oleh generasi muda untuk dapat membantu memberdayakan komunitas disekitar kita.

 

 

(Karenina Aulia)