Diari Pendampingan Guli

07 Mei 2021

 

Guli, Gumregah!

Guli, Gumregah!

Guli Gumregah merupakan jargon yang dimiliki oleh warga Desa Guli, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali. Kata gumregah berasal dari Bahasa Jawa yang berarti semangat untuk bangkit diharapkan dapat memberikan motivasi untuk warga Desa Guli. Melalui semangat yang dimiliki oleh warga Desa Guli, Women in Tourism Indonesia, Jogjamu Indonesia bersama dengan Insan Wisata berkesempatan untuk melakukan program pendampingan sumber daya manusia (SDM) terhitung sejak Maret-April 2021. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mendampingi dan meningkatkan kompetensi dan ketrampilan masyarakat di Desa Guli, khususnya kelompok ibu-ibu, pengrajin kayu, dan karang taruna.

Pelatihan dan Pendampingan UMKM Desa Guli oleh Women in Tourism Indonesia, Jogjamu Indonesia, dan Insan Wisata.

Sumber: Dok. Istimewa

Mayoritas masyarakat di Desa Guli mata pencahariannya di sektor pertanian dan sebagai pengrajin berbagai produk mebel kayu. Kegiatan pendampingan diawali dengan observasi dan diskusi antara masyarakat dengan tim. Melalui kegiatan diskusi tersebut diketahui bahwa yang dihadapi oleh kelompok pengrajin adalah pemasaran yang masih konvensional dan kurang efektif. Selain itu, potensi yang dimiliki oleh ibu-ibu Desa Guli juga belum dikembangkan dengan maksimal. 

Tim Women in Tourism Indonesia dan JogJamu Indonesia berfokus mendampingi ibu-ibu Desa Guli agar mampu mengelola kebutuhan pangan yang bisa mereka lakukan dari rumah.

Minggu Pertama, 23 Maret 2021

Pada minggu pertama, kami belajar bersama membuat kompos organik dari sampah rumah tangga yang mereka hasilkan. Tujuan dari kegiatan ini adalah mendampingi dan memberikan sosialisasi kepada kelompok perempuan Desa Guli dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Kita belajar bersama tentang pengelolaan sampah rumah tangga mulai dari pemilahan sampah organik dan anorganik dan proses pemanfaatannya sebagai kompos organik. 

Tahukah fellow companions? Jika sampah yang dihasilkan oleh setiap rumah tangga, industri, dan lainnya tidak dikelola dengan pemilahan tetapi langsung dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) memiliki resiko ledakan karena sampah tersebut menghasilkan gas metanogen. Selain itu, kegiatan ini juga dapat menjadi langkah awal penataan kebersihan lingkungan disiapkan oleh Desa Guli ketika akan merintis desa wisata.

Kegiatan pemilahan sampah organik dan anorganik.

Sumber: Dok. Istimewa

Minggu Kedua, 27 Maret 2021

Sedikit berbeda dari minggu pertama, kegiatan kali ini kami mencoba untuk mendengarkan cerita dan pengalaman dari ibu-ibu Desa Guli mengenai potensi usaha yang mereka miliki. Ibu-ibu mencoba untuk mengidentifikasi beberapa aspek yang berkaitan dengan pengembangan potensi usaha yang mereka miliki. Aspek tersebut diantaranya mengenai produk yang mereka jual, target konsumen, kendala, dan rencana pengembangan produk. Hasil dari diskusi kali ini harapannya dapat memberikan gambaran kepada ibu-ibu Desa Guli yang memiliki keinginan untuk membuka usaha.

Diskusi pengembangan potensi usaha bersama peserta.

Sumber: Dok. Istimewa

Minggu Ketiga, 4 April 2021

Pada minggu ketiga, tim melanjutkan program pendampingan dengan memberikan materi mengenai budidaya ikan dalam ember (budikdamber). Pemanfaatan pekarangan menjadi salah satu opsi yang bisa dipilih untuk mengatasi penyempitan lahan. Salah satu pemanfaatan pekarangan adalah teknik budidaya ikan dalam ember atau dikenal dengan budikdamber. 

Teknik budikdamber secara sederhana dapat dipahami sebagai kegiatan memelihara ikan dan menanam sayuran dalam satu wadah yang sama. Selain mudah dilakukan teknik budikdamber dianggap efektif, hemat air, dan tidak membutuhkan lahan yang luas. Kegiatan ini mendapatkan antusiasme yang tinggi dari ibu-ibu Desa Guli karena dapat mempraktikkan secara langsung teknik budikdamber tersebut. Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat bermanfaat untuk ibu-ibu Desa Guli dalam hal pemenuhan gizi untuk keluarga.

Proses pelatihan pembuatan budikdamber.

Sumber: Dok. Istimewa

Minggu Keempat, 11 April 2021

Pertemuan terakhir, kami memberikan sosialisasi mengenai pengelolaan keuangan keluarga. Salah satu hal penting dalam keluarga adalah soal pengendalian keuangan rumah dengan menjaga arus pendapatan dan pengeluaran secara rutin. Ibu-ibu yang seringkali mendapatkan tanggungjawab untuk mengelola keuangan keluarga perlu untuk mengetahui, merencanakan, dan menentukan prioritas kebutuhan. Memisahkan uang pribadi dengan uang hasil usaha menjadi langkah awal yang dapat dilakukan.

Peserta antusiasi mengikuti sosialisasi pengelolaan keuangan keluarga.

Sumber: Dok. Istimewa

Melalui pengelolaa keuangan keluarga ini, ibu-ibu Desa Guli dapat menyusun strategi dalam mengalokasikan uang yang dimiliki ke beberapa hal yang menjadi kebutuhan keluarga. Selain itu, dengan melakukan pengelolaan keuangan bermanfaat untuk rencana jangka panjang dan mempersiapkan hal yang tidak terduga.

Selama kegiatan pendampingan yang dilakukan oleh kami, antusiasme dan semangat dari kelompok ibu-ibu Desa Guli sangat luar biasa. Semangat Guli Gumregah benar-benar kami rasakan dari ibu-ibu Desa Guli. Kami juga sangat senang dan bahagia karena dapat belajar bersama warga Desa Guli

Guli, Gumregah!

 

Ditulis oleh Afifah Lulu.

diterbitkan pada laman womentourism.id | 7 Mei 2021